MENUMBUHKAN KARAKTER PEMIMPIN DALAM DIRI GENERASI MILENIAL PERSPEKTIF AL-QUR’AN

Manusia adalah makhluk sempurna yang diciptakan Allah sebagai sebaik-baik ciptaan. Kemuliaan manusia sebagai khalifah memiliki tanggung jawab besar untuk mengelola bumi. Hanya manusialah yang berhak dan mampu untuk menjadi khalifah, bukan makhluk yang lain. Namun, banyak manusia yang telah gagal memegang peran ini, sehingga telah banyak kerusakan terjadi di muka bumi. Bahkan hal ini telah disinggung oleh para malaikat, seperti yang tercantum dalam surah al-Baqarah ayat 30, “..Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?”.



Allah telah memilih manusia sebagai khalifah dengan menganugrahkan manusia akal, ilmu, dan keinginan. Dengan anugrah yang diberikan ini, manusia menjadi lebih baik untuk menerima amanah sebagai khalifah daripada malaikat. Namun, kenapa Nabi Adam yang telah disiapkan oleh Allah sebagai khalifah bumi, harus tinggal di surga dahulu sebelum diturunkan di Bumi?. Menurut Muhammad Quraisy Shihab, hal ini ditujukan Allah sebagai pelajaran tentang tugas yang akan di emban serta tantangan yang akan di terima di bumi. Di sini penulis akan memfokuskan pada ayat al-Qur’an yang menjelaskan kata khalifah yang ditujukan pada nabi Adam dan nabi Dawud.

Baca juga :  RESUME KULIAH UMUM Implementasi Teori-Teori Sosial dalam Penelitian al-Qur`an dan Tafsir Menemukan Makna Kontekstual dalam Teks-Teks Klasik Oleh : Zaenal Muttaqin, S. Ag., M. A., Ph. D

Yang pertama terdapat dalam surah al-Baqarah ayat 30, Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”. Dan yang kedua berada pada surah Shad ayat 26, (Allah berfirman), “Wahai Daud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orangorang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”

 

 Dalam al-Baqarah ayat 30, menjelaskan bahwa semua manusia mendapatkan amanah sebagai khalifah bumi yang akan dipertanggungjawabkan, karakter manager yang ada dalam diri nabi Adam lebih berarti bahwa semua manusia diciptakan sebagai manager (pengelola) bumi. Untuk menumbuhkan karakter manager dalam diri generasi milenial perlu adanya penyadaran terhadap manusia bahwa manusia memiliki tanggungjawab terhadap bumi. Untuk mengembangkan karakter manager, lembaga pendidikan perlu memberikan skill kepada para peserta didik mengenai hal-hal yang terkait dengan pengelolaan bumi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan dalam surah Shad ayat 26, menjelaskan tugas khalifah sebagai penegak hukum Allah di kalangan manusia. 

Baca juga :  Mengemis. Adakah Menjadi Solusi Akhir Bertahan Hidup?

Ayat yang ditujukan kepada nabi Dawud lebih cenderung pada karakter manusia sebagai seorang pemimpin (leader) yang diberikan kekuasaan dan pengaruh untuk menetapkan hukum-hukum Allah. Untuk menumbuhkan karakter khalifah sebagai leader dalam diri generasi milenial, lembaga pendidik perlu untuk memberikan skill kepemimpinan pada peserta didik untuk siap menghadapi era revolusi industry, seperti training kepemimpinan, cara berkomunikasi dengan baik, dan cara melakukan kerjasama. Selain itu, seorang pemimpin harus selalu upgrade terhadap perkembangan pengetahuan dan skill. 

wallahu wa rasuluhu a'lamu bi muradhihi  bi dzalik

 

Editor : publikasi HMP IQT STAI AL-ANWAR

Penulis : Siti Mu'minatul karomah
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar