PERAN SANTRI DALAM MENYIKAPI KECERDASAN BUATAN AI (ARTIFICIAL INTELLIGENCE) PERSPEKTIF AL-QUR’AN

 

                                                                                                https://id.pinterest.com/pin/42854633948795027/

Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat telah melahirkan interkonektivitas baru yang belum pernah terjadi di era industri. Revolusi ini ditandai dengan hadirnya kecerdasan buatan yakni Artificial Intelligence (AI), sebuah inovasi yang telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Bahkan AI mulai memengaruhi cara manusia dalam memahami, menyampaikan, dan memproduksi pengetahuan. AI bukan lagi sekadar teknologi penunjang, melainkan telah menjadi fenomena global yang mewarnai bidang ekonomi, industri, hingga dunia pendidikan.[1]

Salah satu lembaga pendidikan yang terdampak adanya AI adalah pesantren. Sebagai lembaga pendidikan Islam, pesantren kini dihadapkan pada tantangan baru berupa kemajuan teknologi digital yang memengaruhi cara belajar dan penyampaian ilmu. AI bisa menjadi peluang besar dalam memperluas wawasan keilmuan dan pengelolaan informasi, tetapi juga berpotensi meminggirkan peran guru atau kiai sebagai pusat kendali ilmu jika tidak disikapi dengan baik.[2] Oleh karena itu, pesantren harus beradaptasi agar tetap relevan dengan zaman sekaligus menjaga karakter keislaman dan moral santri.

Santri memiliki peran strategis dalam menjembatani tradisi pesantren dengan tantangan era digital. Mereka dituntut tidak hanya menjaga nilai-nilai Qur’ani, tetapi juga mampu mengaktualisasikannya dalam menyikapi hadirnya AI. Al-Qur’an memandang perkembangan ilmu dan teknologi pada hakikatnya dianggap baik. Al-Qur’an berulang kali menegaskan pentingnya penggunaan akal dalam merenungi ciptaan Allah, salah satunya adalah perkembangan teknologi seperti AI. Sebagaimana termaktub dalam QS. Ali ‘Imrān [3]: 190, Allah menegaskan bahwa segala fenomena yang terjadi di langit dan bumi seharusnya dijadikan bahan renungan untuk semakin dekat dengan Allah. Ayat ini menunjukkan bahwa setiap fenomena, termasuk kemajuan teknologi modern semestinya menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.[3]    

Baca Juga: Cyber Religion dan Generasi Z: Spiritualitas di Era Layar Sentuh

Peran Santri Dalam Menghadapi AI

AI merupakan cabang ilmu komputer yang berfokus pada pengembangan mesin atau sistem agar bisa menjalankan pekerjaan yang umumnya memerlukan kecerdasan manusia.[4] Stuart Russel dan Peter Norvig dalam Artificial Intelligence: A Modern Approach menjelaskan bahwa AI tidak sebatas meniru cara berpikir manusia, tetapi mencakup bagaimana membangun sistem yang dapat mengamati, memahami, dan bertindak secara cerdas untuk mencapai tujuan tertentu.[5] Dengan kata lain, AI adalah ilmu modern yang menegaskan potensi akal manusia dalam menciptakan instrumen cerdas.

Ilmu pengetahuan dan agama sering dianggap bertentangan karena perbedaan wilayah kajian, Ilmu terbatas pada ranah empiris, sedangkan agama hanya mencakup aspek metafisik. Padahal al-Qur’an justru mendorong manusia untuk menggunakan akalnya dalam memahami alam semesta sembari mengingatkan bahwa pengetahuan manusia bersifat terbatas.Sepertihalnya yang dijelaskan Maurice Bucaille dalam La Bible, le Coran et la Science, ia menegaskan bahwa tidak ada satu pun ayat al-Qur’an yang bertentangan dengan temuan ilmiah modern.[6] Hal ini menunjukkan bahwa Islam selalu sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk teknologi seperti AI.

Dalam menghadapi fenomena ini, santri memiliki peran strategis. Santri bukan hanya pelajar yang mendalami ilmu agama, tetapi juga pionir yang menjaga dan mengembangkan kehidupan pesantren berdasarkan al-Qur’an dan sunnah. Mereka dibekali nilai dasar berupa kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab moral yang menjadi landasan penting dalam mengarahkan perkembangan teknologi agar membawa maslahat. Dengan modal tersebut, santri diharapkan mampu memadukan tradisi pesantren dengan modernisasi teknologi, sehingga AI dapat berperan sebagai sarana pembangunan peradaban Qur’ani, bukan hanya sekadar alat tanpa orientasi nilai.

Perkembangan Teknologi Dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an mengajak manusia untuk berpikir kritis dan merenung melalui fenomena alam semesta sebagai bukti nyata adanya Sang Pencipta. Keberadaan langit dan bumi sebagai tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal menjadi dalil kuat bahwa mustahil sesuatu tercipta tanpa pencipta yang berilmu, berkehendak, dan hidup. Fenomena tersebut mengajarkan manusia untuk mengambil pelajaran bahwa segala sesuatu diciptakan penuh hikmah dan tidak sia-sia. Fenomena ini juga relevan dengan kehadiran AI, yaitu teknologi (AI) hanyalah sebatas instrumen, sedangkan yang menentukan arahnya adalah akal sehat dan iman.[7] Hal ini tercantum dalam QS. Ali ‘Imrān ayat 190:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِ[8]

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.[9]

Ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah pengatur dan pemilik segala sesuatu. Penciptaan langit, bumi, serta pergantian malam dan siang merupakan tanda kekuasaan-Nya bagi orang yang berakal.[10] Al-Qur’an menempatkan ilmu sebagai anugerah Allah yang menjadi kunci kemajuan peradaban manusia. Allah memerintahkan manusia untuk membaca dan belajar sejak wahyu pertama diturunkan, yaitu QS. al-‘Alaq ayat 1-5:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ﴿١﴾ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ﴿۲﴾ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ﴿۳﴾ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ﴿٤﴾ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ﴿٥﴾[11]

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!   Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.[12]

 Dalam ayat ini, menegaskan bahwa pencarian ilmu merupakan perintah Allah sekaligus fondasi utama dalam membangun peradaban.[13] Namun, ilmu tidak boleh lepas dari etika, karena orang berilmu tanpa etika tidak akan memberikan dampak kemaslahatan bagi orang lain. Hal ini disebutkan dalam QS. al-Mujādilah ayat 11:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ[14]

Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.[15]

Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang berilmu yang beriman. Seseorang yang hatinya lapang kepada sesama hamba akan mendapat kelapangan dari Allah berupa kemudahan dalam kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat.  Dengan demikian, ilmu yang dimiliki tidak disalahgunakan, melainkan diarahkan untuk kemaslahatan agar terhindar dari kerusakan.[16]

Modal Epistemologis Pesantren Dalam Merespon Perkembangan Teknologi

Pesantren memiliki peran penting sebagai benteng tradisi keilmuan Islam yang berlandaskan sanad, otoritas, dan kedalaman pemahaman. Namun, di era digital pesantren dihadapkan pada tantangan serius terutama hadirnya banjir informasi yang tidak selalu terverifikasi kebenarannya. Misalnya, AI dapat menghasilkan teks-teks keagamaan dengan cepat tetapi tidak sepenuhnya valid karena sering mengabaikan aspek sanad, metodologi, dan otoritas ulama. Hal ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami ajaran agama jika tidak disikapi dengan baik.

Meski demikian, di balik tantangan tersebut terdapat peluang besar. AI dapat dimanfaatkan sebagai sarana membantu manusia dalam berbagai bidang, mulai dari komunikasi, pendidikan, hingga pengelolaan informasi. Namun, khusus dalam ranah keagamaan seperti tafsir, hadis, bahasa arab, balaghah, penggunaannya tidak boleh sembarangan. Diperlukan proses, keahlian keilmuan agar hasilnya tetap sejalan dengan tradisi dan metodologi Islam yang benar dan bersanad.

Santri dalam menyikapi AI harus bersikap kritis sekaligus konstruktif, yaitu mengawal agar teknologi selaras dengan maqāṣid al-sharī’ah, menjaga otoritas keilmuan tradisional melalui sanad, mengintegrasikan nilai Qur’ani dengan kecakapan digital, serta menjadi agen dakwah kreatif di media sosial yang bijak dalam memanfaakan AI. Dengan demikian, penting untuk ditegaskan bahwa kecerdasan buatan sehebat apapun kemampuannya tidak pernah bisa menggantikan sanad, otoritas, dan kedalaman keilmuan ulama. AI hanyalah instrumen, sedangkan otoritas keagamaan tetap berada di tangan manusia berilmu yang ahli dan bersambung sanadnya.

Pesantren adalah benteng ilmu sekaligus cahaya peradaban. AI hanyalah alat, tetapi di tangan santri yang berilmu dan berakhlak, ia dapat menjadi sarana pendukung pembelajaran dan pengelolaan informasi. Santri ditantang untuk menjaga sanad, merawat tradisi, dan pada saat yang sama menghadirkan nilai-nilai Qur'ani di tengah perkembangan teknologi. Dari pesantrenlah akan lahir generasi yang mampu menuntun dunia digital menuju arah yang bernilai.

Oleh: Fida Jazilatil Ulya

[1] Muhammad ‘Ainul Yaqin, “Supervisi Pendidikan Islam di Era Artificial Intelligence: Peluang dan Tantangan, Nakula, 4 (2025), 9.

[2] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III (Jakarta: Kencana, 2012), 52.

[3] Abī Ja’far Muḥammad Ibn Jarīr al-Ṭabarī, Tafsīr al-Ṭabarī Jāmi’ al-Bayān ‘An Ta’wīl al-Qur’ān (Kairo: Dār al-Hijr, 2001), 308-309.

[4] Robby’u Shaniya, dkk, AI Dalam Pembelajaran (Surabaya: Guepedia, 2024), 16.

[5] Diego Rodrigus, Decoding ‘Artificial Inttelligence: A Modern Approach’ by Russel and Norvig (t.tp: StudioD21, 2025), 6.

[6] Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Tafsir Ilmi Kemenag (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2012), 20-21.

[7] Wahbah Zuḥaylī, al-Tafsīr al-Wasīṭ (Damaskus: Dār al-Fikr, 2000), 273-274.

[8] Al-Qur’an, Ali ‘Imrān [3]: 190.

[9] Al-Qur’an dan Terjemahannya: Edisi Penyempurnaan 2019, 101.

[10] Abī Ja’far Muḥammad Ibn Jarīr al-Ṭabarī, Tafsīr al-Ṭabarī Jāmi’ al-Bayān ‘An Ta’wīl al-Qur’ān, 308-309.

[11] Al-Qur’an, Al-‘Alaq [96]: 1-5.

[12] Al-Qur’an dan Terjemahannya: Edisi Penyempurnaan 2019, 902.

[13] Wahbah Zuḥaylī, al-Tafsīr al-Munīr (Damaskus: Dār al-Fikr, 2009), 704-706.

[14] Al-Qur’an, Al-Mujādilah [58]: 11.

[15] Al-Qur’an dan Terjemahannya: Edisi Penyempurnaan 2019, 803.

[16] Hamka, Tafsir al-Azhar (t.tp: t.np, t.th), 7227-7228.


PROGRAM MAKAN BERGIZI GRATIS (MBG) DALAM PERSPEKTIF TAFSIR AL-QUR`AN TENTANG PRINSIP ḤALĀLAN ṬAYYIBAN

 

                                                               https://id.pinterest.com/pin/489344315781581498/

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan sosial yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto dengan tujuan utama mengurangi angka malnutrisi dan stunting yang masih menjadi permasalahan serius di Indonesia, khususnya pada kelompok usia rentan yang meliputi kelompok balita, anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui. Program ini juga bertujuan memastikan bahwa kebutuhan gizi harian masyarakat, terutama kalangan anak-anak dan para ibu tercukupi dengan baik sesuai standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) nasional.[1]

Program MBG mulai dijalankan secara bertahap sejak 6 Januari 2025, dengan harapan menjadi solusi konkret terhadap ketimpangan gizi masyarakat, khususnya peserta didik dari tingkat PAUD hingga SMA/SMK, serta bagi ibu hamil dan menyusui.[2] Namun, pelaksanaan di lapangan justru menghadirkan sejumlah persoalan serius. Beberapa kasus keracunan massal, rendahnya kualitas bahan pangan, serta lemahnya pengawasan distribusi menjadi sorotan publik.

Data resmi Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat, terdapat 70 kasus keracunan dengan 5.914 penerima manfaat MBG yang terdampak sepanjang Januari hingga September 2025 di berbagai daerah di Indonesia.[3] Kasus terbesar terjadi di Kabupaten Bandung Barat, dengan 1.333 peserta didik yang menjadi korban.[4] Investigasi menunjukkan penyebab utama berasal dari faktor mikrobiologis, yakni berkembangnya bakteri pada makanan bergizi tinggi akibat kelalaian dalam proses pengolahan dan distribusi.[5]

Fenomena munculnya berbagai kasus keracunan dalam pelaksanaan program (MBG), menimbulkan refleksi kritis di tengah harapan besar untuk mengurangi angka kekurangan gizi masyarakat Indonesia. Dalam hal ini, menimbulkan sebuah pertanyaan mendasar terkait makanan yang didistribusikan dalam program MBG tersebut apakah halal atau tidak. Dengan demikian, perlunya memahami bagaimana Prinsip Ḥalālan Ṭayyiban dalam MBG tersebut, untuk menghindari terjadinya kasus keracunan seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Baca Juga: Feminisme: Mengkritisi Ketimpangan Gender dalam Sosial dan Agama

Prinsip Ḥalālan Ṭayyiban Dalam Perspektif Al-Qur’an

Dalam Islam, makanan tidak sekadar kebutuhan biologis, tetapi juga sarana menjaga kesucian jiwa dan kesehatan spiritual. Prinsip ḥalālan ṭayyiban menjadi poros utama dalam etika konsumsi Islam yang mencakup dimensi hukum, moral, dan sosial. Oleh karena itu, kebijakan publik seperti MBG perlu diuji tidak hanya dari segi gizi dan kebersihan fisik, tetapi juga kesesuaiannya dengan nilai-nilai al-Qur`an.

Al-Qur`an secara terus-menerus menekankan pentingnya prinsip ḥalālan ṭayyiban dalam hidup manusia. Dalam berbagai ayat, al-Qur’an membentuk kesadaran bahwa prinsip ini menjadi dasar utama dalam menciptakan kehidupan yang seimbang dan adil. Penekanan yang berulang menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terkandung bukan hanya ajaran moral, tetapi juga cara untuk diterapkan dalam sikap, keputusan, dan tanggung jawab manusia terhadap Allah serta sesama manusia.[6] Al-Qur’an menegaskan pentingnya prinsip tersebut, salah satunya dalam QS. Al-Baqarah ayat 168: 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ [7]

Wahai sekalian manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.[8]

Pendapat Ulama terkait Makna Ḥalālan Ṭayyiban

Menurut Ibn Kathīr, kata ḥalālan menunjukkan keabsahan hukum sesuatu yang diperbolehkan tanpa unsur haram, seperti bangkai, darah, atau daging babi. Sedangkan ṭayyiban mencakup segala sesuatu yang baik secara zat dan cara perolehannya, tidak kotor, tidak membahayakan tubuh, serta tidak merusak akal

أَيْ مُسْتَطَابًا فِي نَفْسِهِ غَيْرَ ضَارٍّ لِلْأَبْدَانِ وَلَا لِلْعُقُولِ

(Ṭayyiban) berarti sesuatu yang menyenangkan jiwa, tidak membahayakan tubuh maupun akal. [9]

Dengan demikian, makanan yang halal tetapi tidak baik, sepertihalnya makanan tersebut sudah terkontaminasi ataupun sudah basi, maka makanan ini tidak sesuai dengan ajaran al-Qur'an, karena tidak memenuhi prinsip ḥalālan ṭayyiban. Dalam konteks kebijakan MBG, makanan yang menyebabkan keracunan jelas bertentangan dengan makna ṭayyib, sebab kebersihan dan keamanan pangan merupakan bagian yang tidak  terpisahkan dari nilai kehalalan dalam Islam.

Al-Jaṣṣāṣ (w. 370 H), seorang ulama besar mazhab Ḥanafī dalam Aḥkām al-Qur’ān, menafsirkan ayat lain yang berkaitan secara fiqhiyah. Ia menjelaskan:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ﴾ وَالطَّيِّبَاتُ اسْمٌ يَقَعُ عَلَى مَا يُسْتَلَذُّ وَيُشْتَهَى وَيَمِيلُ إلَيْهِ الْقَلْبُ، وَيَقَعُ عَلَى الْحَلَال

”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan hal-hal yang baik yang telah Allah halalkan bagimu”.Kata “ṭayyibāt” (hal-hal yang baik) mencakup segala sesuatu yang lezat, diinginkan, dan disukai oleh hati, serta termasuk pula segala sesuatu yang halal. [10]

Kemudian al-Jaṣṣāṣ menjelaskan lebih lanjut bahwa kata ṭayyibāh mencakup dua dimensi:

1.     Makna fisik dan rasa, yaitu sesuatu yang disukai dan tidak menjijikkan;

  1. Makna hukum, yaitu sesuatu yang halal secara syar‘i.

Mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan Allah ialah merupakan tindakan yang tercela, baik tindakan tersebut dengan ucapan “Aku haramkan ini atas diriku” maupun keyakinan batin. Bahkan, jika seseorang bersumpah demikian, hukumnya bukan haram, melainkan wajib membayar kafārah (denda sumpah).[11] Pendekatan al-Jaṣṣāṣ ini menunjukkan bahwa Islam menolak ekstremitas dalam konsumsi baik sikap berlebih-lebihan (isrāf) maupun pengharaman sesuatu yang baik tanpa dasar syar‘i.

Sementara dalam tafsir isyārī, para sufi seperti Ibnu ‘Ajībah memaknai ṭayyib sebagai sesuatu yang “menyuburkan ruh dan akal.” Pemaknaan ini menunjukkan bahwa kehalalan tidak hanya berkaitan dengan aspek lahiriah, tetapi juga berhubungan dengan kebersihan batin. Sebab makanan yang tidak ṭayyib dapat mengeraskan hati, menutup mata batin, dan melemahkan kesadaran moral.[12] Hal ini sejalan dengan QS. Al-Mukminun: 51, yang menuntun manusia agar makanan yang dikonsumsi menjadi sarana ibadah dan kebersihan hati.

يٰٓاَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبٰتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًاۗ اِنِّيْ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌۗ [13]

Allah berfirman, “Wahai para rasul, makanlah dari (makanan) yang baik-baik dan beramal salehlah. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.[14]

Menurut al-Sa‘dī, seorang mufasir mazhab Ḥambalī kontemporer, sifat ṭayyib merupakan bentuk imtinān (karunia) dari Allah. Karunia ini menjadi tanda ibāḥaḥ (kebolehan) yang disertai tuntutan syukur. Dengan demikian, mengonsumsi makanan ṭayyib bukan hanya kebolehan syar‘i, tetapi juga bentuk ibadah syukrīyah yang menumbuhkan rasa syukur atas nikmat Allah.[15]

Konsep Ḥalālan Ṭayyiban dalam MBG

Konsep ḥalālan ṭayyiban menggambarkan hubungan yang erat antara hukum, etika, dan spiritualitas dalam kehidupan seseorang. Dengan demikian, prinsip ḥalālan ṭayyiban menjadi acuan penting dalam menyusun dan menerapkan kebijakan publik, sepertihalnya pada program MBG. Jika prinsip ḥalālan ṭayyiban dijadikan acuan dalam program MBG, maka pelaksanaannya harus memenuhi tiga aspek utama berikut:

1.     Aspek Hukum (Halal)

Makanan MBG harus dijamin kehalalannya, mulai dari bahan baku, penyimpanan, hingga distribusi. Keterlibatan pemasok tanpa sertifikasi halal menunjukkan lemahnya kontrol syariat dalam rantai pasok pangan.

2.     Aspek Substansi (Ṭayyib)

Prinsip ṭayyib menuntut agar makanan tidak membahayakan tubuh dan bermanfaat bagi penerimanya. Kasus keracunan massal mencerminkan pelanggaran terhadap prinsip ini dan termasuk bentuk ghurūr (kelalaian moral).

3.     Aspek Keadilan Sosial

Islam menempatkan keadilan sebagai nilai utama kebijakan publik sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-Naḥl ayat 90:

 اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ [16]

Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat.[17]

Apabila MBG hanya menjadi proyek administratif tanpa pengawasan moral, maka tujuan maqāṣid al-sharī‘ah dalam bidang pangan tidak akan tercapai.[18] Prinsip ḥalālan ṭayyiban tidak sekadar berkaitan dengan label halal atau kandungan gizi di atas kertas. Lebih dari itu, prinsip ini menekankan bahwa setiap kebijakan pangan harus memastikan makanan yang disajikan tidak hanya halal secara hukum, tetapi juga berkualitas, menyehatkan tubuh, dan adil bagi masyarakat. Dengan pendekatan ini, nilai-nilai al-Qur`an dapat dijadikan dasar dalam membangun sistem pangan yang adil, berkelanjutan, dan menjunjung tinggi martabat manusia.

Dengan demikian, program MBG ini perlu diarahkan kembali pada nilai-nilai alālan ṭayyiban dalam perspektif al-Qur’an, untuk memastikan makanan yang disajikan tidak hanya halal secara hukum, tetapi juga baik secara kualitas, sehat bagi tubuh, dan adil bagi masyarakat. Dengan demikian, kebijakan publik di bidang pangan dapat berfungsi sebagai sarana menjaga martabat manusia serta mewujudkan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Oleh: Diskusi Angkatan Semester 3

[1] BPMP Sumut, “Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Menyongsong Indonesia Emas 2045”, dalam https://bpmpprovsumut.kemendikdasmen.go.id/program-makan-bergizi-gratis-mbg-menyongsong-indonesia-emas-2045/ (diakses pada 16 Oktober 2025).

[2] Wikipedia, ‘’Makan Bergizi Gratis’’ dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Makan_Bergizi_Gratis. Wikipedia, (Diakses tanggal 16 Oktober 2025).  

[3] BGN (Bdan Gizi Nasional, “Insight Session With BGNdalam https://www.bgn.go.id/news/foto/insight-session-with-bgn, (diakses pada 16 Oktober 2025).

[4] Whisnu Pradana, “ Terus Bertambah, Kini 1.333 Siswa di Bandung Barat Keracunan MBG”,
dalam 
https://news.detik.com/berita/d-8130392/terus-bertambah-kini-1-333-siswa-di-bandung-barat-keracunan-mbg.  (Diakses tanggal 27 September 2025).

[5] Dewi Rizky Purnama, “7 Potensi Penyebab KLB Keracunan MBG”, dalam https://ahligizi.id/blog/2025/10/03/7-potensi-penyebab-klb-keracunan-mbg/, (diakses pada 16 Oktober 2025).

[6] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 1: 381.

[7] Al-Qur`an, al-Baqarah [2]:168.

[8] Al-Qur’an dan Terjemahannya: Edisi Penyempurnaan 2019, 34.

[9] Ismā‘īl ibn ‘Umar ibn Kathīr al-Qurashī ad-Dimashqī, Tafsīr al-Qur`ān al-‘Aẓīm, (Riyāḍ: Dār Ṭayyibah li al-Nashr wa at-Tawzī‘, 1420 H/1999 M), 1: 478.

[10] Aḥmad ibn ‘Alī Abū Bakr ar-Rāzī al-Jaṣṣāṣ al-Ḥanafī, Aḥkām al-Qur’ān, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1415 H/1994 M), 2: 564.

[11] Abū Bakr Aḥmad ibn Alī al-Jaṣṣāṣ, Aḥkām al-Qur’ān, (Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 2: 145.

[12] Ziyad Hasan & Fakih Abdul Azis, “Makanan Halal Perspektif Tafsir Ishari Ibnu Ajibah,” PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah, Vol. 10 No. 2 (2025): 101–123.

[13] Al-Qur’an, al-Mu’minūn [23]: 51.

[14] Al-Qur’an dan Terjemahannya: Edisi Penyempurnaan 2019, 490.

[15] ʿAbd al-Raḥmān ibn Nāṣir al-Ṣaʿdī, Taysīr al-Karīm al-Raḥmān (Riyadh: International Islamic Publishing House, 2001), 145.

[16] Al-Qur’an, al-Naḥl [16]:90.

[17] Al-Qur’an dan Terjemahannya: Edisi Penyempurnaan 2019, 386.

[18] ‘Abd al-‘Azīz ibn Marzūq al-Ṭarīfī, al-Tafsīr wa al-Bayān li Aḥkām al-Qur’ān, (Riyāḍ: Maktabat Dār al-Minhāj li an-Nashr wa at-Tawzī‘, 1438 H), 1:143.