JEJAK KEAGUNGAN ILLAHI

Pin di Diy arts and crafts


 ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ (٤) وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ (٥) وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (٦) إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ (٧) تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ (۸)[1]

Kemudian, lihatlah sekali lagi (dan sekali lagi (untuk menari cela dalam ciptaan Allah), niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu  dengan kecewa dan dalam keadaan letih (karena tidak menemukannya). (4) Sungguh, Kami benar-benar telah menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang, menjadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat pelempar terhadap setan, dan menyediakan bagi mereka (setan-setan itu) azab (neraka) Sa’ir  (yang menyala-nyala). (6) Orang-orang yang kufur kepada Tuhannya akan mendapat azab (neraka) Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat kembali. (7) Apabila dilemparkan ke dalamnya (neraka), mereka pasti mendengar suaranya yang mengerikan saat ia membara. (8) (Neraka itu) hampir meledak karena marah. Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya, penjaga-penjaganya  bertanya kepada mereka “Tidak pernahkah seorang pemberi peringatan datang kepadamu (di dunia)?”.[2] 

      Mufradat

    Dalam lafal "karratain,"  digunakan sebagai ajakan untuk melakukan pengamatan secara mendalam. Istilah tersebut mengisyaratkan perlunya verifikasi berulang kali, layaknya praktik makan yang dapat diulang tanpa batas. Dengan kata lain, pengulangan kalimat "labaika Allah humma labaik" menggambarkan hubungan kontinuitas dalam pengabdian, bukan hanya dua kali, tetapi merupakan refleksi dari suatu keadaan yang berulang. Ketidakpercayaan terhadap ciptaan Allah mengindikasikan sikap kufur, dan hal ini dapat dijadikan sebagai ibrah.

     Selain itu, Allah menciptakan langit dengan berbagai bintang yang disebut sebagai "al-nujum". bintang-bintang ini merupakan entitas yang tidak hanya bersinar, tetapi juga berperan sebagai mengitari (kawakib) yang menambah keindahan langit. Penciptaan langit menyuguhkan estetika yang tidak hanya terfokus pada kekokohan, tetapi juga pada keindahan visualnya. Ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya menciptakan dengan memperhatikan aspek kekokohan semata, tetapi juga estetika.

       Kemudian dalam penjelasan mengenai meteor, dapat dipahami bahwa meteor diistilahkan sebagai "kaukab," yang dapat diumpamakan sebagai bara api yang diambil dari api yang lebih besar, sehingga sifat dari apinya tetap ada. Posisi kaukab, dalam hal ini, tetap stabil, sama seperti planet-planet yang berada pada orbitnya masing-masing. Meteor bukanlah planet; melainkan merupakan benda langit yang terpisah dari "kaukab." Dengan demikian, yang bergerak mengelilingi suatu pusat bukanlah planet, tetapi meteor yang memiliki jalur orbit yang berbeda.

               Baca juga:FoMO: Perspektif Islam Untuk Gen Z

    Pembahasan

    Terdapat kemiripan tematik antara ayat ini dengan ayat sebelumnya, yakni keduanya membahas tentang keagungan penguasa langit dan bumi. Pada ayat ketiga, dijelaskan bahwa langit terlihat sangat indah ketika dipandang. Langit digambarkan sebagai suatu ciptaan yang sempurna, tanpa adanya tafāwut (ketidakseimbangan atau kekurangan).

        Allah memerintahkan agar manusia mengamati langit dengan lebih teliti. Dengan pandangan yang mendalam dan penuh perhatian, manusia diajak untuk mencari kemungkinan adanya celah yang dapat dicela. Akan tetapi, meskipun manusia telah memandang langit dengan saksama, keindahan dan kesempurnaannya tetap tidak ternodai oleh ketidakseimbangan atau kekurangan.

       Allah kembali menegaskan perintah ini melalui firman-Nya  fārji’i al-baṣara hal tarā min fuṭūr (lihatlah lagi dengan pandangan penuh perhatian, adakah kamu melihat celah atau kekurangan?). Dalam konteks ini, apabila ditemukan fuṭūr (keretakan atau celah), itu mengindikasikan terjadinya hari kiamat, sebagaimana termaktub dalam ayat-ayat lain, seperti idzā al-Samā’u infaṭarat (ketika langit terbelah) dan idzā al-samā’u inshaqqat (ketika langit retak).

       Jika seseorang tidak percaya terhadap apa yang telah diciptakan oleh Allah, maka ia tergolong dalam kategori kafir. Dari sini, dapat diambil sebuah ibrah (pelajaran) bahwa Allah tidak hanya menciptakan bumi, tetapi juga menciptakan berbagai planet lain, baik yang lebih besar maupun lebih kecil dari bumi, serta langit yang luas. Dalam konteks keagungan ciptaan Allah, bumi tidak dijadikan contoh utama karena ukurannya yang kecil dibandingkan dengan ciptaan lainnya. Sebaliknya, langit dipilih sebagai perumpamaan karena mencakup banyak planet dan benda langit yang tersusun indah dan menghiasi semesta.

     Keagungan ciptaan Allah tidak dapat dipahami atau disaksikan hanya melalui satu kali pengamatan. Namun demikian, Allah menegaskan bahwa, tidak ada kekurangan atau ketidakseimbangan dalam ciptaan-Nya, sebagaimana firman-Nya: Ma Tara fi khalqi al-Rahmani min tafāwut (tidak akan kamu dapati dalam ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih sesuatu yang tidak seimbang). Hal ini menunjukkan bahwa kesempurnaan ciptaan Allah tidak dapat dicari-cari kekurangannya, karena tidak ada satu pun celah dalam ciptaan-Nya.

          Allah tidak hanya menciptakan bumi, langit dan lain sebagainya. Dalam konteks ini, bumi tidak dijadikan sebagai simbol kekuasaan penciptaan karena ukurannya yang relatif kecil. Sebagai perumpamaan, langit mencakup berbagai planet dan benda langit lainnya yang berbaris dan menghiasi angkasa. Keagungan yang dinyatakan Allah tidak dapat dipahami hanya dengan sekali melihat; pencarian kebenaran dan keindahan ciptaan-Nya memerlukan pengamatan yang mendalam dan berkali-kali. Sebagaimana diungkapkan dalam Al-Qur'an, "ma tara fi halqi al-rahmani min tafawut" menunjukkan bahwa kesempurnaan adalah sesuatu yang berharga dan tidak dapat dicapai dalam pandangan sekilas.

      Al-Qur'an itu sendiri merupakan tantangan intelektual yang tidak menghadirkan kesempurnaan secara sederhana, sebab pencarian tersebut melibatkan dimensi yang lebih kompleks. Dalam interpretasi Surah Al-Mulk, istilah "khasian" merujuk kepada keadaan hina yang dialami oleh mereka yang gagal dalam pencarian akan celah dalam ciptaan Allah. Hal ini dianalogikan dengan pengalaman pasca-perang, di mana individu yang kalah merasa tertekan dan tidak ingin mencoba lagi setelah usaha mereka sia-sia. Kesulitan untuk menemukan cacat dalam ciptaan Allah, walau pun dicari secara berulang, mengakibatkan keengganan untuk melanjutkan pencarian tersebut.

            Surah ini, yang berjudul "Tabarak," menegaskan keagungan Allah. Langit, sebagai ciptaan Allah, mengandung keunikan dan kompleksitas yang tidak tertandingi. Konsep pengukuran langit melampaui kilometer, dengan mempertimbangkan waktu perjalanan cahaya atau suara menuju lapisan-lapisan tersebut. Setiap lapisan langit memiliki batasan, termasuk antara langit dan Bumi, di mana batas tersebut tidak boleh rusak agar benda-benda langit tetap berada dalam orbitnya.

            Selanjutnya, pada ayat kelima, bahwa  kata "masabih" (bintang-bintang) berfungsi sebagai alat untuk melempar setan. Istilah "shihab" merujuk kepada meteor, yang merupakan benda langit yang terpisah dari kelompoknya dan jatuh ke Bumi. Meteor tersebut biasanya terbakar saat memasuki atmosfer, tetapi sebagian kecil dapat bertahan dan jatuh sebagai objek utuh. Fenomena meteor ini berfungsi sebagai penghalang bagi setan yang berusaha mencuri berita langit.

      Dalam perspektif teologis, setan merupakan bagian dari jin. Ketika para malaikat diperintahkan untuk bersujud, iblis menolak, meskipun ia tidak termasuk dalam perintah tersebut. Ada narasi yang menyatakan bahwa pada mulanya iblis dan para malaikat hidup berdampingan, yang memungkinkan iblis menjangkau informasi dari langit. Informasi ini kemudian dimanfaatkan untuk praktik perdun dan sihir. Namun, setelah diutusnya Nabi Muhammad, Allah menjaga langit dari pencurian informasi tersebut, menjadikan para dukun yang mengandalkan berita langit menjadi tidak dapat dipercaya. Tegasnya, terdapat larangan untuk mempercayai ucapan dukun, terutama setelah pengutusan Nabi Muhammad, mengingat pengawasan langit yang semakin ketat.

 Selain itu, matahari sebagai salah satu objek langit, juga terbuat dari api yang menghasilkan panas yang sangat tinggi. Demikian pula, beberapa planet lainnya dapat memancarkan cahaya tersendiri, bukan hanya bergantung pada cahaya dari matahari. Dalam konteks ini, neraka juga diciptakan dari api, meskipun terdapat perbedaan mendasar antara api di neraka yang berfungsi sebagai tempat penyiksaan dan api yang hiasan langit, seperti yang terlihat pada bintang-bintang.

             Pertanyaan kemudian muncul, Mengapa setan yang diciptakan dari api mengalami siksa di dalam neraka yang juga terbuat dari api? Para ulama menjelaskan bahwa setan memang terbuat dari api, tetapi mereka bukanlah api itu sendiri secara permanen. Hal ini dapat dianalogikan dengan sifat manusia; meskipun manusia diciptakan dari tanah, mereka tidak dapat dikatakan sepenuhnya sebagai tanah. Misalnya, jika seseorang tidur langsung di atas tanah tanpa alas, mereka akan merasa tidak nyaman, hal ini menunjukkan bahwa meskipun terbuat dari tanah, pengalaman fisik mereka tidak identik dengan materi asal mereka.

             Lebih lanjut, para ulama mengemukakan bahwa api memiliki tingkatan kepanasan yang berbeda. Oleh karena itu, meskipun setan terbuat dari api, mereka tidak berarti akan mampu bertahan terhadap panas api yang lebih ekstrem; dengan demikian, menjadi jelas bahwa yang masuk ke dalam neraka bukan hanya setan, tetapi juga manusia yang terhasut oleh setan dan mengikuti jejaknya. Selain itu, orang-orang kafir yang tidak mempercayai wahyu Allah SWT juga akan mengalami siksa, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an: "wa al-ladhina kafaru bi rabbihim a'dhabu jahannam."

             Ayat ini juga menjelaskan tanda-tanda menjelang hari kiamat. Apabila terdapat "futur" (pecahan atau ketidakteraturan) di langit, hal ini dipahami sebagai indikasi mendekatnya kiamat. Artinya, keteraturan alam semesta yang sempurna merupakan indikasi bahwa ciptaan Allah berada dalam keadaan stabil, dan gangguan terhadap keteraturan tersebut menunjukkan suatu keadaan yang sangat serius. Dalam penafsiran, neraka sering digambarkan dengan sifat api yang mendidih dan meletus, serta adanya keterpisahan unsur-unsurnya (seperti posisi kepala di atas dan kaki di bawah). Gambaran ini mencerminkan betapa dahsyatnya siksaan yang disediakan bagi mereka yang ingkar terhadap perintah Allah.

Penyunting: Anna Noor Fatikhatun Zulfa


[1] Al-Qur`an, al-Mulk [67]:  4-8.

[2] Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Kemenag RI, 2019), 829.


FOMO: Perspektif Islam untuk Generasi Digital


Belakangan ini sering dijumpai istilah baru yaitu FOMO (Fear of Missing Out). Istilah tersebut sedang marak di era digital yang serba cepat. FOMO diartikan sebagai rasa cemas yang intens akibat kekhawatiran bahwa orang lain sedang menikmati pengalaman berharga tanpa melibatkan dirinya, yang ditandai dengan dorongan kuat untuk terus mengetahui aktivitas orang lain.[1] Hal tersebut sering kali dipicu oleh unggahan-unggahan di platform seperti Instagram, Facebook, Tik Tok atau Twitter, di mana orang-orang berbagi momen bahagia mereka, pencapaian karier, atau perayaan hari besar dalam hidup mereka. Sebagai contoh, ketika teman-teman mengadakan acara nongkrong atau reuni, lalu merasa cemas jika tidak ikut karena takut kehilangan keseruan dan merasa perlu menghadiri semua event walaupun sudah lelah, karena takut dianggap tidak gaul.

Perasaan cemas dan takut ketinggalan ini terlihat sepele, namun memiliki dampak psikologis yang cukup besar. Banyak orang yang merasa kehidupannya tidak sebaik orang lain, merasa tertekan dengan standar sosial yang terlihat di media sosial, dan kehilangan rasa syukur atas kehidupan yang mereka alami. Namun, Islam memberikan pandangan yang sangat relevan mengenai FOMO dan cara menghadapinya, dengan menekankan pada nilai-nilai syukur, kesabaran, dan menerima setiap takdir yang diberikan oleh Allah Subḥānahu wa Ta’ālā. Artikel ini mengulas mengenai FOMO dalam perspektif Islam dan bagaimana ajaran-ajaran Islam dapat membantu generasi digital untuk menghadapi dan mengatasi dampak negatif yang ditimbulkan oleh fenomena ini.

1.                         Definisi FOMO dan Penyebabnya

FOMO adalah singkatan dari “Fear of Missing Out” atau bisa diartikan sebagai takut ketinggalan. FOMO atau Fear of Missing Out adalah kondisi psikologis yang ditandai dengan rasa takut  atau cemas yang berlebihan karena akan merasa kehilangan atau melewatkan pengalaman, acara, aktivitas yang dianggap penting atau menarik yang terjadi si sekitar. Seseorang yang mengalami sindrom FOMO, sering merasa perlu untuk mengikuti perkembangan agar tidak ketinggalan momen atau kesempatan yang mungkin dialami oleh orang lain.

Banyak dipaparkan pendapat mengenai definisi FOMO di antaranya:

a.    Menurut Kamus Oxford, FOMO berarti perasaan cemas karena khawatir melewatkan momen menarik atau seru yang mungkin sedang terjadi di tempat lain, biasanya disebabkan oleh unggahan di media sosial.

b.    Dalam perspektif psikologi, Fear of Missing Out didefinisikan sebagai perasaan cemas atau takut bahwa orang lain sedang mengalami pengalaman yang lebih menyenangkan, memuaskan, atau bermakna tanpa kehadiran diri kita. FOMO sering dikaitkan dengan kebutuhan untuk tetap terhubung dengan apa yang sedang terjadi, terutama melalui media sosial, sehingga memicu perasaan tidak puas, rendah diri, atau iri terhadap kehidupan orang lain.

c.  Przybylski, Murayama, DeHaan, dan Gladwell (2013), menggambarkan FOMO sebagai kebutuhan psikologis untuk tetap terhubung dengan apa yang sedang dilakukan orang lain. Hal ini sering kali dipicu oleh perasaan kurangnya kepuasan dalam hidup dan ketergantungan pada interaksi sosial melalui media sosial.[2]

d.  Almonacid (2020), mengungkapkan bahwa FOMO sering terjadi ketika individu merasa bahwa mereka tidak mengikuti norma atau standar sosial yang terlihat dari pengalaman orang lain, terutama melalui media sosial. Kondisi ini menciptakan kecenderungan untuk terus-menerus memantau aktivitas orang lain agar tetap merasa relevan dalam lingkup sosialnya.[3]

Berdasarkan beberapa definisi dapat disimpulkan bahwa, Fear of Missing Out (FOMO) dapat diartikan sebagai kondisi psikologis yang ditandai dengan rasa cemas atau takut akan kehilangan pengalaman menarik atau bermakna yang mungkin dialami orang lain. FOMO sering dipicu oleh unggahan di media sosial yang mencerminkan kehidupan atau aktivitas orang lain, sehingga mendorong individu untuk terus terhubung dan memantau interaksi sosial.

Fenomena ini berakar pada kebutuhan psikologis untuk diterima secara sosial dan merasa relevan dalam lingkungan sosial. Namun, FOMO juga dapat dikaitkan dengan perasaan tidak puas terhadap diri sendiri, rendahnya rasa percaya diri, serta tekanan untuk memenuhi norma sosial yang terlihat dari kehidupan orang lain. Pada intinya, FOMO mencerminkan tantangan emosional yang muncul dari ketergantungan pada validasi sosial, terutama melalui media digital.

Istilah FOMO pertama kali diperkenalkan oleh Patrick J. McGinnis pada 2004 dalam artikel opini di The Harbus, majalah Harvard Business School. Artikel tersebut membahas FOMO dan kondisi terkait lainnya. FOMO umumnya dialami individu yang khawatir tertinggal informasi, gelisah saat tidak terhubung dengan dunia digital, atau takut ketinggalan tren. Fenomena ini menjadi bagian dari gaya hidup di era digital, terutama di kalangan milenial. FOMO semakin populer setelah JWT Intelligence merilis laporan penelitian pada 2012, yang mendefinisikannya sebagai kecemasan akibat melihat orang lain mengalami hal yang lebih baik atau menyenangkan.[4]

Przybylski, Murayama, DeHaan, dan Gladwell (2013) mengungkapkan bahwa individu yang mengalami FOMO di media sosial cenderung memiliki tingkat pemenuhan kebutuhan, suasana hati, dan kepuasan hidup yang rendah dalam kehidupan nyata. Ketergantungan terhadap media sosial yang memicu fenomena FOMO dapat menjadi sangat berbahaya karena individu mungkin bertindak secara irasional untuk mengatasi rasa takut tertinggal, seperti terus memantau media sosial secara obsesif saat mengemudi. Bagi orang-orang seperti ini, mereka merasa tidak bisa terpisahkan dari gadget dan media sosial yang  mereka ikuti, serta merasa cemas jika tidak mengetahui berita terbaru atau jika teman-teman mereka mempertanyakan mengapa mereka tidak mengetahui informasi tersebut. Dampak negatif dari FOMO bagi remaja termasuk masalah identitas diri, kesepian, citra diri yang buruk, perasaan tidak cukup, merasa terasing, dan rasa iri.[5]

Baca juga: Self Improvement dalam Menanggulangi Rasa Insecure di Kalangan Gen-Z

Dalam perspektif Islam rasa cemas diartikan sebagai gelisah yang merupakan salah satu penyakit jiwa yang harus segera diobati dikarenakan dapat menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit lainnya yang jauh lebih berbahaya jika terus dibiarkan.[6] Banyak hal negatif yang dapat ditimbulkan akibat penyakit jiwa tersebut, terutama apabila seseorang mengambil tindakan yang tidak tepat dan tidak berlandaskan dengan iman yang kuat. Dalam Islam, perasaan seperti ini dapat dikaitkan dengan konsep hasad (iri hati) dan kurangnya rasa syukur. Allah Subḥānahu wa Ta’ālā, memerintahkan umat-Nya untuk tidak iri terhadap apa yang dimiliki orang lain, sebagaimana firman-Nya:

وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍۢ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌۭ مِّمَّا ٱكْتَسَبُوا۟ ۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٌۭ مِّمَّا ٱكْتَسَبْنَ ۚ وَسْـَٔلُوا۟ ٱللَّهَ مِن فَضْلِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًۭا

Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu.[7]

Quraish Shihab, dalam tafsirnya al-Misbah mengatakan bahwa ayat ini menyarankan agar kita tidak berangan-angan atau menginginkan sesuatu yang dapat menyebabkan pelanggaran terhadap ketentuan Allah, termasuk dalam hal pembagian warisan, di mana laki-laki menerima lebih banyak bagian dibandingkan perempuan. Pesan utama dalam ayat ini adalah agar kita tidak terjerumus dalam angan-angan yang berujung pada ketamakan terhadap apa yang diberikan Allah kepada orang lain, seperti harta, warisan, kedudukan, atau kecerdasan. Allah memberikan setiap orang apa yang terbaik untuknya sesuai dengan peran dan misinya dalam hidup ini. Oleh karena itu, kita sebaiknya mengarahkan harapan dan keinginan hanya kepada Allah, bukan kepada orang lain, dan tidak terjerumus dalam rasa iri hati atau angan-angan yang tidak realistis.[8]

Hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi melalui Mujahid menjelaskan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan ucapan Ummu Salamah, istri Nabi Muhammad saw., yang merasa bahwa perempuan tidak memperoleh kesempatan yang sama dengan pria dalam hal berjihad atau bagian warisan. Angan-angan semacam ini, meskipun berasal dari perasaan ketidakadilan, tidak boleh dilakukan karena bisa menimbulkan kecemburuan yang tidak pada tempatnya. Namun, angan-angan yang mendorong kreasi atau yang realistis masih diperbolehkan. Ayat ini mengajarkan kita untuk hidup dengan sikap realistis. Ada angan-angan yang bisa dicapai, tetapi ada juga yang mustahil atau sangat jauh dari kenyataan. Angan-angan yang melahirkan keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari orang lain, seperti keistimewaan yang mereka miliki, juga dilarang dalam Islam.

Dalam Islam, setiap orang diberikan haknya sesuai dengan usahanya, dan tidak seharusnya merasa iri terhadap apa yang dimiliki orang lain. Lelaki dan perempuan, meskipun memiliki bagian yang berbeda, masing-masing diberikan hak yang sesuai dengan kemampuan dan peran mereka. Dalam hal ini, menginginkan sesuatu tanpa usaha atau berharap pada sesuatu yang mustahil akan membawa pada angan-angan kosong yang tidak berguna.

      Dampak FOMO

FOMO (Fear of Missing Out), atau ketakutan akan kehilangan momen penting, merupakan salah satu fenomena sosial yang semakin mengemuka dalam generasi digital. FOMO terjadi ketika seseorang merasa cemas atau khawatir bahwa mereka tertinggal atau tidak berpartisipasi dalam pengalaman yang dianggap menarik atau penting oleh orang lain, terutama yang terlihat di media sosial. Berikut adalah dampak utama FOMO yang dialami oleh generasi digital, menurut S. Bella, S. Raudhoh, dan Annisa (2021), dikutip dari Jurnal Pendidikan Karakter: JAWARA, sebagai berikut:[9]

a)     Informasi Berlebihan

FOMO dapat menyebabkan seseorang dibanjiri informasi yang berlebihan, sehingga sulit untuk membedakan mana informasi yang valid dan mana yang hoax. Hal ini mengakibatkan otak menjadi lelah dan kewalahan dalam memproses data yang diterima.

b)     Gangguan Kesehatan Mental

Fenomena ini berdampak buruk pada kesehatan mental individu, seperti menyebabkan suasana hati yang tidak stabil, perasaan kesepian, rendah diri, kecemasan, hingga tekanan psikologis yang serius.

c)     Rasa Terbebani

Penerimaan informasi yang terlalu banyak dan terus-menerus dapat menimbulkan perasaan tertekan, baik secara fisik maupun mental, sehingga memengaruhi kemampuan seseorang untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

d)    Ketakutan Berlebihan

FOMO juga menciptakan rasa takut yang irasional untuk tidak mengetahui informasi terbaru, meskipun informasi tersebut sering kali tidak relevan atau tidak memiliki dampak langsung pada kehidupannya.

e)     Kebencian Terhadap Diri Sendiri

Kebiasaan membandingkan diri dengan standar sosial yang dipamerkan oleh orang lain sering kali membuat seseorang merasa tidak cukup baik. Ketika individu tidak mampu memenuhi ekspektasi tersebut, perasaan rendah diri dapat berkembang menjadi rasa benci terhadap diri sendiri, yang berpotensi menimbulkan depresi.

FOMO tidak hanya memengaruhi kesehatan mental tetapi juga mengganggu hubungan spiritual dengan Allah. Perasaan cemas yang terus-menerus membuat seseorang lupa untuk bersyukur atas nikmat yang sudah dimiliki. Rasulullah Ṣalla Allāh ‘Alaihy wa Sallam, bersabda: “Lihatlah orang yang berada di bawahmu, dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih baik bagimu agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu”. (HR. Muslim).[10]

      Perspektif Islam terkait FOMO dan Solusinya

Dalam perspektif Islam, fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dapat dianalisis melalui nilai-nilai agama yang menekankan sikap keseimbangan, rasa syukur, dan tawakal. Islam telah memberikan petunjuk yang jelas dalam menghadapi gejolak emosional seperti kecemasan yang muncul akibat rasa takut kehilangan momen tertentu. Berikut adalah beberapa pendekatan Islam terhadap FOMO:

1.     Bersyukur

Islam mengajarkan bahwa rasa syukur adalah kunci kebahagiaan. FOMO sering kali muncul karena seseorang merasa tidak cukup dengan apa yang dimiliki dan terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌۭ

(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras”.[11]

    Bersyukur dalam Islam berarti menerima segala kondisi hidup yang telah Allah takdirkan. Dengan rasa syukur, kita dapat menghindari perasaan tidak puas dengan apa yang dimiliki orang lain dan menumbuhkan kebahagiaan yang berasal dari penerimaan terhadap kehidupan kita sendiri. Syukur tidak hanya berfokus pada hal-hal besar, tetapi juga pada hal-hal kecil yang sering kali terabaikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti kesehatan, keluarga, dan kesempatan belajar.

2.          2.  Menghindari Iri dan Hasad

            Iri hati atau hasad adalah perasaan yang dilarang dalam Islam, karena dapat merusak hati dan mengganggu hubungan antar sesama. Allah berfirman:

وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍۢ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌۭ مِّمَّا ٱكْتَسَبُوا۟ ۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٌۭ مِّمَّا ٱكْتَسَبْنَ ۚ وَسْـَٔلُوا۟ ٱللَّهَ مِن فَضْلِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًۭا

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.

Perasaan iri muncul ketika seseorang merasa kehidupan orang lain lebih baik dari dirinya. Dalam konteks FOMO, rasa iri ini sering kali muncul ketika melihat orang lain tampil lebih bahagia atau lebih sukses di media sosial. Islam mengajarkan kita untuk fokus pada kehidupan kita sendiri dan bersyukur atas apa yang telah diberikan, serta tidak terjebak dalam perbandingan sosial yang merugikan.

3.               3. Tawakal

Tawakal, atau menyerahkan urusan kepada Allah setelah berusaha semaksimal mungkin, adalah prinsip penting dalam Islam yang dapat membantu kita menghadapi perasaan FOMO. Allah berfirman dalam al-Qur`an surat al-Ahzab ayat 3, yang berbunyi:

وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًۭا

Bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pemelihara.[12] 

Dengan tawakal, kita menerima bahwa apa yang terbaik untuk kita adalah apa yang telah Allah tentukan. Ini mengajarkan kita untuk tidak terlalu terobsesi dengan pencapaian atau pengalaman orang lain, karena kita tahu bahwa Allah memiliki rencana terbaik untuk setiap hamba-Nya. Tawakal juga mendorong kita untuk menerima kenyataan dan tidak merasa khawatir tentang hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan.

4.             4. Fokus pada Tujuan Hidup yang Lebih Mulia

Islam mengajarkan bahwa tujuan hidup yang lebih mulia adalah untuk beribadah kepada Allah, bukan untuk memenuhi standar sosial atau materialisme. Hal Ini menunjukkan bahwa hidup yang penuh dengan ibadah dan kebaikan adalah kebahagiaan yang lebih abadi daripada mencari kesenangan duniawi semata. Mengalihkan fokus dari kehidupan orang lain kepada tujuan hidup yang lebih tinggi akan membawa kedamaian dan kepuasan batin, yang jauh lebih berharga daripada kesenangan sementara yang ditawarkan media sosial.

5.             5. Membatasi Penggunaan Media Sosial

Mengurangi penggunaan media sosial dan perangkat elektronik secara berlebihan sangat penting. FOMO sering muncul akibat unggahan atau pembaruan yang dibagikan oleh orang lain di media sosial. Oleh sebab itu, membatasi waktu penggunaan media sosial dapat menjadi langkah efektif untuk mencegah munculnya sindrom FOMO.[13] Allah berfirman:

وَٱلَّذِينَ هُمْ عَنِ ٱللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

Orang-orang yang meninggalkan (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.[14]

Islam mengajarkan agar kita menggunakan media sosial dengan bijaksana. Rasulullah Ṣalla Allāh ‘Alaihy wa Sallam, bersabda:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ[15]

Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya adalah kesehatan dan waktu luang. (HR. Bukhari)

Dengan bijak menggunakan media sosial dan menghindari perbandingan sosial yang tidak sehat, kita dapat mengurangi perasaan FOMO. Mengatur waktu dan fokus pada konten yang bermanfaat adalah langkah penting untuk menghindari kecemasan dan ketidakpuasan yang ditimbulkan oleh media sosial.

            Kesimpulan

FOMO (Fear of Missing Out) adalah kecemasan akibat merasa tertinggal dari pengalaman orang lain, yang diperparah oleh media sosial. Dalam Islam, FOMO dapat dikaitkan dengan kurangnya rasa syukur dan perbandingan sosial yang tidak sehat. Islam mengajarkan syukur, tawakal, dan fokus pada kehidupan nyata untuk mengatasi FOMO. Dengan membatasi media sosial dan meningkatkan ibadah, seseorang dapat hidup lebih tenang, bahagia, dan penuh rasa syukur.


Oleh: Durotul Qodriyah


[1] Andrew K. Przybylski, Kou Murayama, Cody R. DeHaan, Valerie Gladwell, “Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out”, Computers in Human Behavior, 4 (July, 2013), 1841.

[2] Ibid, 1841-1848.

[3] L. Almonacid, “Social Media Use and FOMO: A Study of Young Adults”, International Journal of Mental Health & Addiction, 5 (2020), 1190–1204.

[4] Rizki Setiawan Akbar, dkk, “Ketakutan Akan Kehilangan Momen (FOMO) Pada Remaja Kota Samarinda”, Jurnal Psikologi, 2 (Desember, 2018), 39.

[5] Andrew K. Przybylski, Kou Murayama, Cody R. DeHaan, Valerie Gladwell, “Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out”, Computers in Human Behavior,  4, 1841-1848.

[6]  Titik Wulandari, “Hubungan Antara Fear Of Missing Out Terhadap Intensitas Pengguna Media Sosial Pada Siswa SMK PGRI 2 Kediri” (Skripsi di Institut Agama Islam Tribakti Kediri, 2022), 16.

[7] Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an, Al-Qur`an dan Terjemahannya, (Jakarta: Kemenag RI, 2019), 112.

[8] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an,(Jakarta: Lentera Hati, 2002), 416-420.

[9] Taswiyah, “Mengantisipasi Gejala Fear Of Missing Out (FOMO) Terhadap Dampak Social Global 4.0 dan 5.0 Melalui Subjective Weel-Being dan Joy of Missing Out (JOMO)”, JAWARA, 2 (2022), 109-110.

[10] Muslim bin Al-Ḥajjāj Al-Naisaburi, Ṣaḥῑḥ Muslim, (Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyyah, 1955 M), 2276-2277.

[11] Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an, Al-Qur`an dan Terjemahannya, 354-355.

[12] Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an, Al-Qur`an dan Terjemahannya, 602.

[13] Haidar Idris, Ahmad Ihawanul Muttaqin, dan Akhmad Afnan Fajarudin, “Fenomena Fomo; Pandangan Al-Qur`an Tentang Pendidikan Mental dan Keseimbangan Kehidupan Generasi Millenial”, Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam, 2 (Agustus, 2023), 154.

[14] Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an, Al-Qur`an dan Terjemahannya, 484.

[15] Al-Bukhari, Sahîh al-Bukhâri, (Riyadh: Dār al-Salam, 1977), 233.