ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ (٤) وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ (٥) وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (٦) إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ (٧) تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ (۸)[1]
Kemudian, lihatlah sekali lagi (dan sekali lagi (untuk menari cela dalam ciptaan Allah), niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dengan kecewa dan dalam keadaan letih (karena tidak menemukannya). (4) Sungguh, Kami benar-benar telah menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang, menjadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat pelempar terhadap setan, dan menyediakan bagi mereka (setan-setan itu) azab (neraka) Sa’ir (yang menyala-nyala). (6) Orang-orang yang kufur kepada Tuhannya akan mendapat azab (neraka) Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat kembali. (7) Apabila dilemparkan ke dalamnya (neraka), mereka pasti mendengar suaranya yang mengerikan saat ia membara. (8) (Neraka itu) hampir meledak karena marah. Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya, penjaga-penjaganya bertanya kepada mereka “Tidak pernahkah seorang pemberi peringatan datang kepadamu (di dunia)?”.[2]
Mufradat
Dalam lafal "karratain," digunakan sebagai ajakan untuk melakukan pengamatan secara mendalam. Istilah tersebut mengisyaratkan perlunya verifikasi berulang kali, layaknya praktik makan yang dapat diulang tanpa batas. Dengan kata lain, pengulangan kalimat "labaika Allah humma labaik" menggambarkan hubungan kontinuitas dalam pengabdian, bukan hanya dua kali, tetapi merupakan refleksi dari suatu keadaan yang berulang. Ketidakpercayaan terhadap ciptaan Allah mengindikasikan sikap kufur, dan hal ini dapat dijadikan sebagai ibrah.
Selain itu, Allah menciptakan langit dengan berbagai bintang yang disebut sebagai "al-nujum". bintang-bintang ini merupakan entitas yang tidak hanya bersinar, tetapi juga berperan sebagai mengitari (kawakib) yang menambah keindahan langit. Penciptaan langit menyuguhkan estetika yang tidak hanya terfokus pada kekokohan, tetapi juga pada keindahan visualnya. Ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya menciptakan dengan memperhatikan aspek kekokohan semata, tetapi juga estetika.
Kemudian dalam penjelasan mengenai meteor, dapat dipahami bahwa meteor diistilahkan sebagai "kaukab," yang dapat diumpamakan sebagai bara api yang diambil dari api yang lebih besar, sehingga sifat dari apinya tetap ada. Posisi kaukab, dalam hal ini, tetap stabil, sama seperti planet-planet yang berada pada orbitnya masing-masing. Meteor bukanlah planet; melainkan merupakan benda langit yang terpisah dari "kaukab." Dengan demikian, yang bergerak mengelilingi suatu pusat bukanlah planet, tetapi meteor yang memiliki jalur orbit yang berbeda.
Baca juga:FoMO: Perspektif Islam Untuk Gen Z
Pembahasan
Terdapat kemiripan tematik antara ayat ini dengan ayat sebelumnya, yakni keduanya membahas tentang keagungan penguasa langit dan bumi. Pada ayat ketiga, dijelaskan bahwa langit terlihat sangat indah ketika dipandang. Langit digambarkan sebagai suatu ciptaan yang sempurna, tanpa adanya tafāwut (ketidakseimbangan atau kekurangan).
Allah memerintahkan agar manusia mengamati langit dengan lebih teliti. Dengan pandangan yang mendalam dan penuh perhatian, manusia diajak untuk mencari kemungkinan adanya celah yang dapat dicela. Akan tetapi, meskipun manusia telah memandang langit dengan saksama, keindahan dan kesempurnaannya tetap tidak ternodai oleh ketidakseimbangan atau kekurangan.
Allah kembali menegaskan perintah ini melalui firman-Nya fārji’i al-baṣara hal tarā min fuṭūr (lihatlah lagi dengan pandangan penuh perhatian, adakah kamu melihat celah atau kekurangan?). Dalam konteks ini, apabila ditemukan fuṭūr (keretakan atau celah), itu mengindikasikan terjadinya hari kiamat, sebagaimana termaktub dalam ayat-ayat lain, seperti idzā al-Samā’u infaṭarat (ketika langit terbelah) dan idzā al-samā’u inshaqqat (ketika langit retak).
Jika seseorang tidak percaya terhadap apa yang telah diciptakan oleh Allah, maka ia tergolong dalam kategori kafir. Dari sini, dapat diambil sebuah ibrah (pelajaran) bahwa Allah tidak hanya menciptakan bumi, tetapi juga menciptakan berbagai planet lain, baik yang lebih besar maupun lebih kecil dari bumi, serta langit yang luas. Dalam konteks keagungan ciptaan Allah, bumi tidak dijadikan contoh utama karena ukurannya yang kecil dibandingkan dengan ciptaan lainnya. Sebaliknya, langit dipilih sebagai perumpamaan karena mencakup banyak planet dan benda langit yang tersusun indah dan menghiasi semesta.
Keagungan ciptaan Allah tidak dapat dipahami atau disaksikan hanya melalui satu kali pengamatan. Namun demikian, Allah menegaskan bahwa, tidak ada kekurangan atau ketidakseimbangan dalam ciptaan-Nya, sebagaimana firman-Nya: Ma Tara fi khalqi al-Rahmani min tafāwut (tidak akan kamu dapati dalam ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih sesuatu yang tidak seimbang). Hal ini menunjukkan bahwa kesempurnaan ciptaan Allah tidak dapat dicari-cari kekurangannya, karena tidak ada satu pun celah dalam ciptaan-Nya.
Allah tidak hanya menciptakan bumi, langit dan lain sebagainya. Dalam konteks ini, bumi tidak dijadikan sebagai simbol kekuasaan penciptaan karena ukurannya yang relatif kecil. Sebagai perumpamaan, langit mencakup berbagai planet dan benda langit lainnya yang berbaris dan menghiasi angkasa. Keagungan yang dinyatakan Allah tidak dapat dipahami hanya dengan sekali melihat; pencarian kebenaran dan keindahan ciptaan-Nya memerlukan pengamatan yang mendalam dan berkali-kali. Sebagaimana diungkapkan dalam Al-Qur'an, "ma tara fi halqi al-rahmani min tafawut" menunjukkan bahwa kesempurnaan adalah sesuatu yang berharga dan tidak dapat dicapai dalam pandangan sekilas.
Al-Qur'an itu sendiri merupakan tantangan intelektual yang tidak menghadirkan kesempurnaan secara sederhana, sebab pencarian tersebut melibatkan dimensi yang lebih kompleks. Dalam interpretasi Surah Al-Mulk, istilah "khasian" merujuk kepada keadaan hina yang dialami oleh mereka yang gagal dalam pencarian akan celah dalam ciptaan Allah. Hal ini dianalogikan dengan pengalaman pasca-perang, di mana individu yang kalah merasa tertekan dan tidak ingin mencoba lagi setelah usaha mereka sia-sia. Kesulitan untuk menemukan cacat dalam ciptaan Allah, walau pun dicari secara berulang, mengakibatkan keengganan untuk melanjutkan pencarian tersebut.
Surah ini, yang berjudul "Tabarak," menegaskan keagungan Allah. Langit, sebagai ciptaan Allah, mengandung keunikan dan kompleksitas yang tidak tertandingi. Konsep pengukuran langit melampaui kilometer, dengan mempertimbangkan waktu perjalanan cahaya atau suara menuju lapisan-lapisan tersebut. Setiap lapisan langit memiliki batasan, termasuk antara langit dan Bumi, di mana batas tersebut tidak boleh rusak agar benda-benda langit tetap berada dalam orbitnya.
Selanjutnya, pada ayat kelima, bahwa kata "masabih" (bintang-bintang) berfungsi sebagai alat untuk melempar setan. Istilah "shihab" merujuk kepada meteor, yang merupakan benda langit yang terpisah dari kelompoknya dan jatuh ke Bumi. Meteor tersebut biasanya terbakar saat memasuki atmosfer, tetapi sebagian kecil dapat bertahan dan jatuh sebagai objek utuh. Fenomena meteor ini berfungsi sebagai penghalang bagi setan yang berusaha mencuri berita langit.
Dalam perspektif teologis, setan merupakan bagian dari jin. Ketika para malaikat diperintahkan untuk bersujud, iblis menolak, meskipun ia tidak termasuk dalam perintah tersebut. Ada narasi yang menyatakan bahwa pada mulanya iblis dan para malaikat hidup berdampingan, yang memungkinkan iblis menjangkau informasi dari langit. Informasi ini kemudian dimanfaatkan untuk praktik perdun dan sihir. Namun, setelah diutusnya Nabi Muhammad, Allah menjaga langit dari pencurian informasi tersebut, menjadikan para dukun yang mengandalkan berita langit menjadi tidak dapat dipercaya. Tegasnya, terdapat larangan untuk mempercayai ucapan dukun, terutama setelah pengutusan Nabi Muhammad, mengingat pengawasan langit yang semakin ketat.
Selain itu, matahari sebagai salah satu objek langit, juga terbuat dari api yang menghasilkan panas yang sangat tinggi. Demikian pula, beberapa planet lainnya dapat memancarkan cahaya tersendiri, bukan hanya bergantung pada cahaya dari matahari. Dalam konteks ini, neraka juga diciptakan dari api, meskipun terdapat perbedaan mendasar antara api di neraka yang berfungsi sebagai tempat penyiksaan dan api yang hiasan langit, seperti yang terlihat pada bintang-bintang.
Pertanyaan kemudian muncul, Mengapa setan yang diciptakan dari api mengalami siksa di dalam neraka yang juga terbuat dari api? Para ulama menjelaskan bahwa setan memang terbuat dari api, tetapi mereka bukanlah api itu sendiri secara permanen. Hal ini dapat dianalogikan dengan sifat manusia; meskipun manusia diciptakan dari tanah, mereka tidak dapat dikatakan sepenuhnya sebagai tanah. Misalnya, jika seseorang tidur langsung di atas tanah tanpa alas, mereka akan merasa tidak nyaman, hal ini menunjukkan bahwa meskipun terbuat dari tanah, pengalaman fisik mereka tidak identik dengan materi asal mereka.
Lebih lanjut, para ulama mengemukakan bahwa api memiliki tingkatan kepanasan yang berbeda. Oleh karena itu, meskipun setan terbuat dari api, mereka tidak berarti akan mampu bertahan terhadap panas api yang lebih ekstrem; dengan demikian, menjadi jelas bahwa yang masuk ke dalam neraka bukan hanya setan, tetapi juga manusia yang terhasut oleh setan dan mengikuti jejaknya. Selain itu, orang-orang kafir yang tidak mempercayai wahyu Allah SWT juga akan mengalami siksa, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an: "wa al-ladhina kafaru bi rabbihim a'dhabu jahannam."
Ayat ini juga menjelaskan tanda-tanda menjelang hari kiamat. Apabila terdapat "futur" (pecahan atau ketidakteraturan) di langit, hal ini dipahami sebagai indikasi mendekatnya kiamat. Artinya, keteraturan alam semesta yang sempurna merupakan indikasi bahwa ciptaan Allah berada dalam keadaan stabil, dan gangguan terhadap keteraturan tersebut menunjukkan suatu keadaan yang sangat serius. Dalam penafsiran, neraka sering digambarkan dengan sifat api yang mendidih dan meletus, serta adanya keterpisahan unsur-unsurnya (seperti posisi kepala di atas dan kaki di bawah). Gambaran ini mencerminkan betapa dahsyatnya siksaan yang disediakan bagi mereka yang ingkar terhadap perintah Allah.
Penyunting: Anna Noor
Fatikhatun Zulfa
[1] Al-Qur`an, al-Mulk
[67]: 4-8.
[2] Lajnah Pentashihan Mushaf
al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Kemenag RI, 2019), 829.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar