Rekapitulasi WPR (World Population Review) untuk populasi penduduk dunia
pada tanggal 28 Februari 2024 berkisar 8,09 miliar dan
diperkirakan akan mengalami peningkatan sebesar 0,625% dibanding populasi pada
tahun 2023. Populasi yang terus meningkat menciptakan beberapa generasi.
Generasi ini dimulai dengan sebutan generasi Baby Boomers (1946-1960)
hingga sekarang ini generasi yang sedang dalam fase memegang beberapa peran
vital yakni generasi Z (1995-2010) dan biasa disebut Gen-Z. Generasi ini
merupakan generasi yang pertama sejak kecil telah berdampingan dengan
teknologi. Terdapat perbedaaan mencolok yang mengenai karakter yang ditunjukan
oleh Gen-Z dan generasi sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan salah satu
faktonya adalah lahir dan proses dewasa Gen-Z bersamaan dengan
kemajuan-kemajuan teknologi.
Perkembangan teknologi yang
menemani Gen-Z menuju dewasa, lalu sekarang sedang menduduki posisi yang
penting disegala sektor, di mana persaingan semakin ketat tidak hanya pada
kehidupan realita, tetapi juga pada media sosial. Ketiaksiapan Gen-Z dalam menghadapi
realita dan ekspektasi, menjadi mereka merasa kurang dari apa yang telah mereka
miliki dan capai, mereka sering sekali membandingkan diri dengan orang lain
serta banyak mendapat tekanan untuk menjadi terbaik sehingga menciptakan
perasaan tidak nyaman dan kecemasan yang dapat menghalangi kemajuan diri.
Seperti kasus Sulli (artis K-pop), Sulli banyak sekali mendapat tekanan dari
pada penggemar hingga dia tidak dapat mengontrol dan mengakhiri hidupnya pada
tahun 2019. Perhitungan umur dikalangan Gen-Z pada tahun 2024 ini berkisaran
29-15 tahun. Menurut WHO (World Health Organization) kisaran umur 29-15 masih
dikategorikan pada remaja dan dewasa masa awal. Hal ini kemudian menjadi salah satu faktor fenomena rasa
ketidakpercayaan atau yang biasa juga disebut insecure untuk kalangan
Gen-Z.
Insecure adalah sebuah fenomena di mana
terdapat rasa kurang percaya diri terhadap sesuatu yang telah dimiliki. Jika
dilihat dari tata bahasa Inggris, kata insecure berakar dari kata cure
yang memiliki arti “aman, nyaman, kokoh, terlindungi”,[1]
kemudian mendapatkan imbuhan in- pada awal kata. Arti yang sering
diberikan kepada kata ini secara istilah, yakni perasaan tidak aman yang
terjadi pada siapapun, baik berupa rasa malu, khawatir, ataupun tidak percaya
diri.[2] Insecure
juga dimaknai sebagai sebuah bentuk kecemasan atau takut akan sesuatu yang
diawali dengan rasa tidak puas dan tidak percaya terhadap kemampuan yang
dimiliki, di mana hal ini berakibat seseorang menggunakan “topeng” untuk
menutupi ketidaksempurnaan tersebut.[3]
Fenomena yang menggerogoti kalangan Gen-Z ini seharusnya juga ditangani oleh
individu sendiri. Hal-hal semacam ini bisa ditangani dengan mengembangkan
potensi yang dimiliki dan meningkatkan value diri. Namun, yang masih
menjadi masalah, para individu ini kurang berfokus pada peningkatan kualitas
diri, sehingga rasa insecure semakin meradang dan terkadang
mengakibatkan stress hingga menyakiti diri sendiri bahkan bunuh diri.
Pengembangan ini juga harus ada sebuah konsitensi untuk berubah ke ranah yang
lebih baik. Oleh karena itu, setiap individu harus memiliki kesadaran yang
berkaitan dengan self improvement.
Pengembangan diri atau self
improvement adalah segala bentuk usaha, proses, tindakan, maupun kegiatan
yang dilakukan oleh seseorang untuk meningkatkan bakat, pengetahuan,
keterampilan, kemampuan, atau bahkan kesehatan untuk mencapai kadar kehidupan
yang lebih baik.[4] Kesadaran mengenai
pengembangan diri dapat mengurangi rasa insecure, dengan proses ini
individu akan merasa lebih bersyukur dengan apa yang mereka miliki. Gen-Z yang
sekarang ini memang sedang memegang tatanan vital yang ada dan sedang banyak
merasakan insecure butuh sekali self improvement untuk menjaga
keseimbangan diri. Sebab fenomena insecure biasa dijumpai dikalangan
remaja apalagi mengenai penampilan fisik. Namun, self improvement tidak
hanya pengembangan diri pada fisik saja tetapi juga dari berbagai aspek dalam
diri yang menunjang meningkatnya value diri.
Penjelasan mengenai self
improvement sudah banyak sekali dipaparkan dimedia online. Media Islam juga
ikut memuat fenomena ini, seperti pada Nuskha, NU Online yang mengaitkan dengan
munasabah diri. Mengutip dari Rofaah dalam bukunya yang berjudul Akhlak
Keagamaan Kelas XII, munasabah diri
adalah salah satu cara untuk memperbaiki hati, melatih, menyucikan, dan
membersihkannya. Keduanya memiliki kesamaan dalam pembenahan diri walaupun
berbeda redaksinya. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur`an surah al-Haṣhr ayat 18:
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا
اللَّهَ ۚ
إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [٥٩:١٨][5]
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”[6]
Berkaitkan dengan ayat-ayat sebelumnya yang berbicara
mengenai orang-orang Yahudi dan munafik atas siksa duniawi dan ukhrawi. Selanjutnya
pada ayat ini Allah memerintahkan kaum Muslimin utuk berhati-hati agar nasib
tidak seperti mereka,[7] yaitu
dengan bertakwa, berkomitmen terhadap perintah, menjauhi larangan, dan
memerintahkan untuk beramal di dunia untuk di akhirat.[8] Mengutip
dari Tafsir al-Wasiṭ karya Sayyid Ṭanṭawi surah al-Haṣhr Ayat 18 menjelaskan
bahwa sepantasnya manusia melakukan munasabah diri dan koreksi diri di atas
dunia, sebelum kelak dihisab di hari kiamat.[9]
Munasabah merupakan sebuah proses introspeksi diri untuk mengetahui kesalahan
dan kekurangan diri. Sedangkan koreksi adalah sebuah upaya dalam meperbaiki
kesalahan ataupun kekurangan yang terdapat dalam diri.
Baca juga: Surah al-Baqarah Ayat 21-24 (Ngaji Tafsir Jalalain Dr.KH.Abdul Ghofur Maimoen. MA)
Jika dilihat beberapa tafsiran di atas, dapat diartikan
bahwa dalam pembenahan diri sangat penting untuk setiap individu. Islam juga
sangat mementingkan munasabah dan koreksi diri untuk dilakukan oleh manusia
hingga diabadikan dalam kitab suci. Ayat tersebut juga menjelaskan seseorang
Muslim seharusnya selalu bertakwa kepada Allah dengan selalu meningkatkan
keimanan dan berkomitmen. Agar tetap dapat melaksanakan sesuatu yang tidak
menghambat self improvement (pengembangan diri) dalam beragama serta tidak ada rasa insecure
karena merasa tidak puas dan tidak percaya dengan kemampuan yang dimiliki.
Sehingga tulisan ini akan membahas bagaimana al-Qur`an membahas self
improvement untuk mencegah rasa insecure yang melalui surah al-Haṣhr
Ayat 18.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا
قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ
وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ
إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [٥٩:١٨][10]
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat);
dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.”[11]
1. Tafsir Surah
Al-Haṣhr Ayat 18
Self improvement menjadi salah satu alat bagi kalangan anak
muda untk menanggulangi rasa insecure. Self improvement banyak
diartikan sebagai intropeksi diri. Mengutip dari jurnal Tabularasa karya
Tambunan, Pratt mengatakan bahwa kekuatan kekuatan yang ada dalam diri sendiri
dapat digunakan untuk menemukan tujuan serta langkah-langkah yang hendak
dilakukan untuk menuju suatu kebaikan. Self Improvement adalah Pengembangan diri atau segala bentuk usaha, proses,
tindakan, maupun kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk meningkatkan
bakat, pengetahuan, keterampilan, kemampuan, atau bahkan kesehatan untuk
mencapai kadar kehidupan yang lebih baik.[12]
NU Online menyebutkan bahwasannya self improvement bisa diartikan
sebagai munasabah atau interopeksi diri, di sana juga dijelaskan mengenai arti
dari self improvement yakni proses mengevaluasi diri secara kritis
terhadap sesuatu yang dilakukan.[13] Self
improvement juga terdapat penjelasanya dalam al-Qur`an, walaupun tidak
secara jelas tertulis kata self improvement. Beberapa adalah kitab-kitab
tafsir yang membahas mengenai self improvement dalam al-Qur`an yang
merujuk pada surah al-Haṣhr ayat 18:
a.
Mengutip dari pendapat Imam Fakhruddin al-Razi, al-Razi
menafsirkan surah al-Haṣhr ayat 18. Ayat
tersebut mengharuskan umat Islam mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk
menghadapi hari kiamat. Al-Razi menyatakan bahwa ayat ini terdapat makna yang
mana sebaiknya setiap orang harus mempersiapkan diri mereka untuk hari kiamat. الغد dalam hal ini kalimat tersebut merupakan tanbih
atau tambahan untuk menunjukan bahwa hari kiamat merupakan hari yang agung dan
penting.[14]
b.
Tafsir al-Wasiṭ menyebutkan bahwa manusia sebaiknya
melakukan intropeksi diri, munasabah, pembenahan diri, dan kereksi diri di atas
dunia sebelum nantinya akan dihisab di hari kamat. Munasabah adalah sebuah proses interopeksi
diri untuk mengetahui kesalahan sedangkan koreksi merupakan usaha untuk
meperbaiki kesalahan dan kekurangan tersebut. Kitab ini juga menjelaskan
bahwasanya setiap jiwa hendaklah melihat dan merenungkan amalan yang telah
mereka lakukan di dunia.[15]
c.
Kitab al-Wajiz lil Wahidi juga menjelaskan mengenai ayat
ini, tertulis bahwasanya surah al-Haṣhr ayat
18 merupakan seruan dari Allah kepada orang-orang yang beriman untuk senantiasa
menjaga diri dalam ketakwaan kepada Allah. Takwa di sini bukan sekedar rasa
takut, melainkan lebih merujuk pada rasa khidmat, hormat, dan kesadaran untuk
mematuhi perintah dan menjauhi larangan Allah. Selanjutnya disebutkan juga
bahwa ayat ini mengingatkan seiap orang untuk munasabah diri, agar memikirkan
bekan yang akan dibawa pada hari kiamat.[16]
d.
Selanjutnya Quraish Shihab juga memaparkan penjelasan
terkait ayat ini, surah al-Haṣhr ayat 18
mengajak kaum Muslimin untuk berhati-hati jangan sampai mengalami apa yang di
alamai oleh orang Yahudi dan Munafik, seperti penjelasan pada ayat
sebelumnya. Kaum Muslimin juga
diperintahkan untuk mempersiapkan amal saleh yang telah diperbuat untuk hari
kiamat. Amal-amal tersebut adalah amal yang dilakukan untuk meraih manfaat
dimasa depan. Kata نَفْسٌ berbentuk tunggal, terdapat beberapa isyarat dalam kata ini, salah satunya
adalah tidak cukup penilaian hanya sebagian saja, tetapi masing-masing harus
saling menilai atai dirinya sendiri. Isyarat lainnya juga seperti, pernyataan
bahwasanya koreksi diri merupakan hal yang jarang sekali dilakukan.[17]
Beberapa tafsiran di atas memberikan
penjelasan mengenai koreksi diri, mempersiapkan tentang hal yang akan dilakukan
selanjutnya. Gen-Z selaku generasi yang sedang memegang kendali lingkungan
harus tetap mengingat kepada Allah dalam setiap langkahnya. Serta selalu
mengintropeksi diri dalam segala kegiatan. Perbaikan diri atau yang biasa
disebut dengan self improvement merupakan sebuah tindakan untuk
memperbaiki diri atau perbaikan kondisi seseorang dengan upaya dari orang itu
sendiri. Pendapat lain mengatakan perbaikan diri juga merupakan tindakan
perbaikan pikiran, kemampuan, status seseorang atau semacamnya yang berasal
dari upaya mereka sendiri.[18] Self
Improvement sering digunakan oleh anak muda untuk sebuah perbaikan atau
pengembangan diri. Remaja yang sekarang berada pada Gen-Z sedang berlomba untuk
memperbaiki diri dari rasa insecure yang mereka alami. Melihat melalui
surah al-Haṣhr ayat 18, telah ada penjelasan mengenai self improvement, yang
mana al-Qur`an selalu terdapat jawaban dari banyaknya masalah.
[1] John M Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia (Jakarta:
PT Gramedia, 1993), 509.
[2] Rahmania Sabil dan Rosa Kamita, "Perancangan Buku Jurnal Interaktif
untuk Membantu Mengelola Rasa Insecure pada Remaja", Jurnal Insitut
Teknologi Nasional Bandung, (2)
2022, 2.
[3] Uyu Mu'awwanah, "Perilaku Insecure pada Anak Usia Dini", as-Sibyan,
(1) 2017, 48.
[4] Winda Kusmadanti, La Ode Gusman Nasiru, dan Munkizul Umam Kau, “Self
Improvement dalam Novel Ranah 3 Warna dan Jangan Membuat Masalah Kecil
Menjadi Masalah Besar (Kajian Sastra Bandingan)”, Bahasa, Sastra,dan Budaya,
1 (2024), 73.
[5] Al-Qur`an, al- Haṣhr [59]: 18.
[6] Lajnah Pentashih Al-Qur`an, Al-Qur`an dan Terjemahnya Edisi
Penyempurnaan 2019 (Jakarta: Kemenag
RI, 2019), 809.
[7] M. Quraish Shihab, Tafsīr al-Misbāh (Jakarta: Lentera Hati, 2009),
13: 552.
[8] Wahbah al-Zuhaili, Tafsir al-Munīr, terj. Abdul Hayyie al-Kattani (Jakarta: Gema Insan,
2013), 14: 478.
[9] Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi, dalam tafsir al-Wasith (Kairo: Dar Nahdah
Li Thabaah wa Nasyr, 1997), 14:408.
[10] Al-Qur`an, al- Haṣhr [59]: 18.
[11] Lajnah Pentashih Al-Qur`an, Al-Qur`an dan Terjemahnya Edisi
Penyempurnaan 2019 (Jakarta: Kemenag
RI, 2019), 809.
[12] Winda Kusmadanti, La Ode Gusman Nasiru, dan Munkizul Umam Kau, “Self
Improvement dalam Novel Ranah 3 Warna dan Jangan Membuat Masalah Kecil
Menjadi Masalah Besar (Kajian Sastra Bandingan)”, Bahasa, Sastra,dan Budaya,
1 (2024), 73.
[13] https://islam.nu.or.id/tafsir/Tafsir Surat al-Hasyr Ayat 18: Anjuran untuk Muhasabah Diri/Typ1j, diakses pada tanggal 27 Juni 2024.
[14] Fakhruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib (Beirut: Dar Ihya wa Turats
Arabi: 2000), 24: 511.
[15] Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi, dalam tafsir al-Wasith (Kairo: Dar Nahdah
Li Thabāh wa Nashr, 1997), 14:408.
[16] Abdul Hasan 'Ali
Bin Ahmad al-Wahidi, Tafsīr al-Wajiz (Damaskus: Dar
al-Qalam, 1994), 1085.
[17] M. Quraish Shihab, Tafsīr al-Misbāh (Jakarta: Lentera Hati, 2009),
13: 552-553.
[18] Hamonangan Tambunan, “Self Improvement dan Persepsi Positif Tentang
Teknologi Informasi dalam Meningkatkan Kompetensi Teknologi Informasi Guru”,
Tabularasa, (2) 2008, 215-216.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar