A. Biografi dan
Pendidikan Toshihiko Izutsu
Sosok Toshihiko Izutsu, adalah seorang filsuf, tokoh linguistik, dan juga cendekiawan Jepang yang diakui secara internasional karena kontribusinya dalam bidang filsafat Islam, tasawuf, linguistik, dan studi agama perbandingan. Izutsu lahir pada 4 Mei 1914 di Tokyo, dan wafat pada tanggal 7 Januari 1993 di Kamakura. Ia berasal dari keluarga taat yang sejak kecil telah mengamalkan ajaran Budhisme. Pengalamannya dalam bertafakkur dari praktik ajarannya itu telah mempengaruhi cara berpikirnya dan pencaraiannya ke dalam pemikiran filsafat dan juga mistisme sejak usia muda. Cara bertafakkur menurut Toshihiko Izutsu berakar dari pengalaman meditasi Zen yang diajarkan oleh ayahnya sejak kecil. Metode bertafakkur ini melibatkan beberapa tahap konsentrasi dan pengosongan pikiran secara bertahap. Sejak dini, ia sudah akrab dengan meditasi zen dan kōan karena ayahnya adalah seorang penulis kanji dan penganut Budha zen. Buddhisme Zen sendiri adalah Buddhisme yang sederhana, teguh, tanpa kompromi, langsung pada pokok permasalahan, juga berbasis meditasi yang tidak tertarik pada penyempurnaan doktrinal. Tidak bergantung pada kitab suci, doktrin, atau ritual. Zen diverifikasi oleh pengalaman pribadi dan diwariskan dari guru ke murid, dari tangan ke tangan, secara tak terlukiskan, melalui pelatihan yang keras dan intim. Di Tiongkok, agama Buddha menyatu dengan Taoisme dan berkembang menjadi Ch’an, istilah Tiongkok untuk meditasi, yang kemudian menjadi “Zen” di Jepang.[1] Ia juga sangat berbakat dan cepat mempelajari berbagai bahasa, dan hanya perlu satu sebulan belajar bahasa Arab hingga dia mampu mengkhatamkan al-Qur`an.
Izutsu belajar di Universitas Keio, Tokyo, dan setelah menyelesaikan studinya, ia diangkat sebagai profesor di universitas yang sama, sekaligus menjadi sarjana yang memiliki kefasihan berbahasa sebanyak 30 macam bahasa dunia. Ia dikenal sebagai seorang guru besar yang memiliki pengetahuan mendalam dalam berbagai bidang. Tumbuh dalam lingkungan intelektual yang mendorongnya untuk mengeksplorasi banyak bahasa dan budaya. Kemampuannya dalam menguasai bahasa asing, termasuk bahasa Arab, Persia, Ibrani, Sansekerta, Yunani, Latin, dan Tionghoa yang memberikan dasar yang mendalam bagi teks-teks keagamaan dalam karya-karyanya.
Dalam pandangan Seyyed Hussein, Toshihiko merupakan seorang sarjana terbesar pemikiran Islam yang dihasilkan oleh Jepang dan seorang tokoh yang mumpuni di bidang perbandingan filsafat. Beliau juga kagum terhadap Toshihiko dengan mengatakan bahwa dengan menggabungkan kepekaan Budhis, disiplin Jepang tradisional, dan bakat yang luar biasa dalam mempelajari bahasa serta kepandaian dalam filsafat yang meliputi kemampuan analitik dan sintetik.
B. Karir dan Karya-Karya Toshihiko
Pengetahuan Toshihiko yang luas memungkinkan karir akademiknya berkembang. Ia diakui sebagai salah satu pakar terkemuka dalam studi Islam di Jepang. Selain itu, ia juga menjadi profesor tamu di Universitas McGill atas permintaan dari Wilfred Cantwell Smith, direktur program kajian Islam di universitas tersebut sejak tahun 1969 hingga tahun 1975. Ia juga menjadi pengajar Filsafat Islam di Institut Filsafat Iran di Tehran antara tahun 1975 sampai 1979. Setelah itu, ia kembali menjadi profesor emeritus di Universitas Kairo hingga akhir hidupnya. Dirinya memandang persoalan dari berbagai macam perspektif, sehingga timbul pandangan menyeluruh tentang suatu masalah. Hal yang menakjubkan pertama kali dilakukannya adalah menerjemahkan al-Qur`an langsung dari bahasa Arab ke bahasa Jepang pada tahun 1958.
Baca Juga: Biografi Muhammad Ṭāhir bin Muhammad bin Muhammad al-Ṭāhir bin ‘Ashūr al-Tūnisiyy
Satu hal yang membedakan dirinya dengan sarjana-sarjana orientalis yang menghasilkan banyak karya tentang pemikiran Islam yang merupakan hasil dari tradisi warisan Yahudi dan Kristen. Pemikirannya terbentuk antara zen Budhisme, Neo-Konfusianisme, dan Shintoisme yang merupakan unsur-unsur pembentuk budaya klasik Jepang). Unsur-unsur tersebut kemudian dipertemukan dengan dunia wahyu al-Qur`an dan pemikiran Islam. Ia juga memiliki beberapa karya penting terkait dengan studi al-Qur`an, meliputi buku God and Man in the Qur’an yang menjelaskan konsep-konsep teologis dalam al-Qur`an dengan pendekatan semantik. Ethico-Religious Concepts in the Qur’an, dalam buku ini Izutsu membahas konsep-konsep etika dalam al-Qur`an dan bagaimana Islam membangun sistem nilai baru. Kemudian, buku The Structure of Ethical Terms in the Qur’an yang mendalami istilah etika dalam al-Qur`an dan transformasinya dari nilai-nilai Jahiliyah. Karya yang telah ditulisnya tidak kurang dari 120 karya tulis, baik yang berbentuk buku maupun artikel.b
C. Pandangannya Terhadap Hukum Islam
Izutsu membahas konsep hukum Islam dengan mengaitkannya pada konsep-konsep pemahaman mengenai beberapa hal, yaitu pemahaman mengenai metafisika dan spiritual, pemahaman hukum Islam yang terinspirasi dari Ibn Arabi, konsep bahasa sebagai kunci pemahaman, pandangan terhadap keadilan, keterkaitan antara fikih dan akhlak. Ia mengaitkan hukum Islam dengan dimensi metafisika, menganggapnya sebagai manifestasi dari kebijakan Ilahi. Menurutnya, hukum bukanlah sebuah aturan formal, akan tetapi juga mencerminkan hakikat eksistensi dan tujuan penciptaan. Baginya, pemahaman penuh terhadap ukum Islam memerlukan pengakuan akan dimensi metafisika seperti yang diajarkan oleh Ibnu Arabi. Ia fokus pada keterkaitan antara fikih (hukum Islam) dan akhlak (etika) sebagai suatu kesatuan yang integral.
Hukum Islam
bagi dirinya tidak hanya mengatur perilaku fisik, akan tetapi membentuk dasar
etika yang mendalam. Ilmu fikih dianggap sebagai dasar landasan yang membimbing
perilaku etis dalam berbagai aspek kehidupan. Pemikirannya banyak terpengaruh
oleh Ibn Arabi konsep kesatuan dan wahdat al-wujud (kesatuan eksistensi) Ibn
Arabi memainkan peran penting dalam pandangan Izutsu tentang hukum.
Selanjutnya, ia juga menekankan peran bahasa Arab, terutama dalam al-Qur`an
sebagai kunci pemahaman etika dalam hukum Islam. Selain itu, pandangannya
terhadap keadilan melibatkan dimensi spiritual yang mendalam. Sementara itu,
dalam keterkaitan antara fikih dan akhlak menunjukkan bahwa hukum bukan hanya
pengatur perilaku, akan tetapi juga panduan menuju kesempurnaan moral dan
spiritual.
Hukum Islam bagi Izutsu tidak hanya mengatur
tindakan lahiriah, tetapi juga mengarahkan kehidupan batiniah individu agar
selaras dengan kehendak Ilahi. Pandangan Izutsu tentang hukum Islam sering kali
dilihat dalam konteks pemikirannya yang lebih luas mengenai bahasa,
konsep-konsep metafisika, dan spiritualitas dalam Islam. Salah satu gagasan
penting yang beliau ajukan adalah bahwa hukum Islam bukan sekadar seperangkat
aturan yang berlaku dalam kehidupan sosial dan politik, tetapi juga merupakan
manifestasi dari prinsip-prinsip metafisis yang lebih tinggi.
Oleh: Nining Laily
Daftar Pustaka
Dalam https://zenstudies.org/teachings/what-is-zen/ (diakses pada 30 Mei 2025).
Ismail, Albayrak, The Reception of Toshihiko Izutsu's Qur'anic Studies in the Muslim World: With Special Reference to Turkish Qur'anic Scholarship, Journal of Qur'anic Studies, 14 (2012).
Ramadhania, Moch Rafly Try, “Mengenal Toshihiko Izutsu, Poliglot Asal Jepang, Pengkaji Semantik Al-Quran”, dalam https://tafsiralquran.id/mengenal-toshihiko-izutsu-pengkaji-semantik-al-quran-asal-jepang/, (diakses pada 25 November 2024).
Sahidah, Ahmad, God Man and Nature, Yogyakarta: Ircisod, 2018.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar