Seorang Ahli Tafsir dari Negeri Tunisia
Muhammad Ṭāhir bin ‘Ashūr atau yang akrab
dengan Ibnu Ashūr merupakan seorang mufassir sangat alim dalam bidang
kebahasaan terutama balaghah. Ibnu ‘Ashur mempunyai karya yang fonumenal dalam
bidang tafsir yaitu al-Tahrir wa al-Tanwir (yang bermakna mengupas makna
yang relevan dan menerangi akal dengan pemikiran baru dari tafsir al-Qur’an),
yang mengupas al-Qur’an secara komprehensif dengan corak ilmiy dan balaghiy.[1]
Ibnu Ashur lahir di kota al-Marasiy yang merupakan ibu kota dari Tunisia, pada
Jumadil Ula 1296H (September 1879 M). Keluarga Ibnu Ashur berasal dari
Andalusia Spayol, yang kemudian pindah ke Maroko dan selanjutnya menetap di
Tunisia. Ibnu Ashur tumbuh dan berkembang dibawah naungan kakeknya, hal
tersebut karena ayahnya ingin Ibnu Ashūr menjadi pribadi yang ‘alim dan salih
seperti kakeknya.[2]
Hal yang diimpi-impikan ayahnya ini pun terealisasi setelah Ibnu Ashur mengenyam pendidikan di al-Zaituniyyah, Ibnu Ashur pun mengisi banyak peran dalam hal keagaman. Tidak hanya dalam bidang agama, Ibnu Ashur juga ikut berperan aktif dalam pergerakan nasionalisme di Tunisia, bahkan Ibnu Ashur menjadi salah satu pasukan jihad. Peran besar Ibnu Ashur sebagai penggerak nasionalisme sangatlah besar, karea yang dihadapi tidak hanya dari penjajah, akan tetapi juga antek-antek penjajah yang berasal dari pribumi Tunisia, walaupun masalah yang dihadapi Ibnu Ashur sangatlah besar hal tersebut tidak menyurutkan belajar Ibnu Ashur, sehingga Ibnu Ashur diangkat sebagai ulama besar di Tunisia.[3]
Baca Juga: Biografi Fakhruddīn al-Razī: Pengarang Kitab Tafsir Mafātiḥ al-Ghayb
Namun, pada akhirnya Ibnu Ashur harus dicopot
dari jabatanya dikarenakan tidak sependapat dengan pemerintah dan pemerintah
sudah tidak punya kepentingan apapun kepada Ibnu Ashur. Ibnu Ashur pun
menjalani kehidupanya dengan rutinitas membaca dan menulis, terutama tafsir
karena sudah sejak lama Ibnu Ashur ingin mempunyai karya tafsir sendiri, akan
tetapi terkendala karena kesibukanya sebagai pembesar agama dan membela negara.
Akhirnya Ibnu Ashur berpulang ke Rahmatullah setelah sekesai melaksanakan
tugas-tugasnya pada 13 Rajab 1393 H/ 12 Oktober 1973 dengan meninggalkan
semangat, karya dan ilmunya yang sangat bermanfaat. Di samping mempunyai karya
tafsir Ibnu Ashur juga punya beberapa karya, diantaranya Maqāsid al-Sharī’ah, Uṣul
al-Nidhām, Alaisa al-Subkhi, al-Waqfu wa Atharuhu fi Islām, Qiṣah al-Maulid,
Fatawa wa Rasāil Fiqhiyyah dan masih banyak lagi.
Al-Tahrir wa Tanwir Sebuah Maha Karya Tafsir
Salah satu karya besar Ibnu Asyur adalah kitab
tafsir al-Tahrir wa Tanwir, tafsir ini lebih berfokus terhadap
kebahasaan khususnya balaghah dan ilmy. Ibnu Ashur sangat perhatian
dalam aspek balaghah karena menurutnya aspek kebahasaan sangatlah penting
karena sangat mempengaruhi benar atau salahnya dari suatu penafsiran.[4]
Tafsir ini berjumlah lima belas jilid lengkap 30 juz dengan didahului beberapa
mukaddimah yang berisikan ilmu-ilmu yang relevan digunakan untuk menafsiri
al-Qur’an, yang ditulis dalam kurun waktu 39 tahun. Penulisan tafsir ini
bersamaan dengan kondisi sosial negara Tunisia yang terombang-ambing karena
perebuatan kekuasaan antara pribumi dan penjajah.
Dalam
penulisan tafsir ini Ibnu Ashur sangat menghindari taqlid, karena dari
awal penulisan Ibnu Ashur punya perinsip bahwasanya tafsir ini bukanlah sebuah
tafsir yang mengkiblat dari tafsir-tafsir kuno akan tetapi suatu bentuk kritik.
Tafsir ini oleh Ibnu Ashur juga digunakan sebagai penengah dari tafsir-tafsir
yang sudah ada dengan memunculkan beberapa gagasan yang baru yang belum ada
dalam tafsir-tafsir sebelumnya. Ibnu Ashur juga mengkritik pembatasan tafsir
pada bi al-Ma’thur saja, menurutnya hal tersebut hanya membuat umat Islam
terbelakang karena hanya menukil saja dan tidak ada gagasan-gagasan pembaharuan
yang muncul.[5]
Pada era setelahnya, tafsir ini sedikit banyak
berpengaruh terhadap pemikiran pengkaji-pengkaji tafsir setelahnya, yang
membawa mereka menjadi pemikir yang lebih bebas dan tidak terikat dengan
doktrin-doktrin tafsir kuno. Diantara penafsir yang terpengaruh oleh Ibnu
‘Ashūr adalah Prof. Qurays Shihab yang banyak mengutip pemikiran dari tafsir
ini ketika menulis tafsir al-Misbāh
Kelebihan dan Kekurangan Kitab Tafsir al-Tahrīr wa al-Tanwīr
Kelebihan utama pada kitab tafsir ini adalah
pendekatanya dalam aspek kebahasaan yang komprehensif ketika menjelaskan
makna-makna al-Qur’an, juga tidak melupakan aspek lainya seperti fikih, akidah,
tasawuf dan lainya. Kitab ini menjelaskan suatu ayat dengan mendalam dan
panjang lebar, contoh ketika menjelaskan ayat hukum, maka Ibnu Ashūr akan
memaparkan banyak pendapat kemudian Ibnu Ashūr akan memilih pendapat yang kuat
dengan disertai dalil dan argumen yang kuat.
Adapun kekurangan kitab ini adalah pada penjelasanya itu sendiri yang terkesan bertele-tele sehingga untuk mencapai makna yang dikehendaki tidak disampaikan secara langsung, akan tetapi digali dulu dari paling dasarnya. Hal ini terasa sulit apalagi bagi kaum abangan ataupun yang tidak mendalami agama. Secara umum kitab tafsir ini bagus, akan tetapi kurang bisa mencakup semua kalangan umat Islam.
[1] Muḥammad al-Ṭāhir Ibnu
‘Āshūr, Alaisa al-Ṣubḥu bi Qarīb, (Tunisia, Dār Sukhūn li al-Nashr wa
al-Tauzi’, 2010), 7
[2] Balqa sim al-Galiy, Syaikh
al-Jami‘ al- A‘zam Muhammad al-Ṭāhir Ibnu ‘Āsyūr ḥayātuhu wa āṡaruhu, Beirut,
Dar Ibnu Hazm, 1996, hlm.37
[3] Manī‘‘Abd al-Ḥalīm Maḥmūd,
Kajian Komprehensif Metode Para Ahli Tafsīr, Terj. Faisal Saleh, Syahdianor,
Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2006, hlm. 314
[4] Muhamad Al-Ṭāhir Ibn ‘Ashūr, Tafsīr Al-Tahrīr Wa Al-Tanwīr, (Tunis, Al-Dār Al-Tawnisiyyah li Al-Nashr, 1984H), 18
[5] Ibid,1:7

Tidak ada komentar:
Posting Komentar