https://id.pinterest.com/pin/42854633948795027/
Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat telah melahirkan
interkonektivitas baru yang belum pernah terjadi di era industri. Revolusi ini
ditandai dengan hadirnya kecerdasan buatan yakni Artificial Intelligence (AI),
sebuah inovasi yang telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Bahkan
AI mulai memengaruhi cara manusia dalam memahami, menyampaikan, dan memproduksi
pengetahuan. AI bukan lagi sekadar teknologi penunjang, melainkan telah menjadi
fenomena global yang mewarnai bidang ekonomi, industri, hingga dunia
pendidikan.[1]
Salah satu lembaga pendidikan yang terdampak adanya AI adalah pesantren. Sebagai
lembaga pendidikan Islam, pesantren kini dihadapkan pada tantangan baru berupa
kemajuan teknologi digital yang memengaruhi cara belajar dan penyampaian ilmu.
AI bisa menjadi peluang besar dalam memperluas wawasan keilmuan dan pengelolaan
informasi, tetapi juga berpotensi meminggirkan peran guru atau kiai sebagai
pusat kendali ilmu jika tidak disikapi dengan baik.[2]
Oleh karena itu, pesantren harus beradaptasi agar tetap relevan dengan zaman
sekaligus menjaga karakter keislaman dan moral santri.
Santri memiliki peran strategis dalam menjembatani tradisi pesantren dengan
tantangan era digital. Mereka dituntut tidak hanya menjaga nilai-nilai Qur’ani,
tetapi juga mampu mengaktualisasikannya dalam menyikapi hadirnya AI. Al-Qur’an
memandang perkembangan ilmu dan teknologi pada hakikatnya dianggap baik.
Al-Qur’an berulang kali menegaskan pentingnya penggunaan akal dalam merenungi
ciptaan Allah, salah satunya adalah perkembangan teknologi seperti AI. Sebagaimana
termaktub dalam QS. Ali ‘Imrān [3]: 190, Allah menegaskan bahwa segala fenomena
yang terjadi di langit dan bumi seharusnya dijadikan bahan renungan untuk
semakin dekat dengan Allah. Ayat ini menunjukkan bahwa setiap fenomena,
termasuk kemajuan teknologi modern semestinya menjadi sarana untuk mendekatkan
diri kepada Allah.[3]
Baca Juga: Cyber Religion dan Generasi Z: Spiritualitas di Era Layar Sentuh
Peran Santri Dalam Menghadapi AI
AI merupakan cabang ilmu komputer yang berfokus pada pengembangan mesin atau sistem agar bisa menjalankan pekerjaan yang
umumnya memerlukan kecerdasan manusia.[4]
Stuart Russel dan Peter Norvig dalam Artificial Intelligence: A Modern
Approach menjelaskan bahwa AI tidak sebatas meniru cara berpikir manusia,
tetapi mencakup bagaimana membangun sistem yang dapat mengamati, memahami, dan
bertindak secara cerdas untuk mencapai tujuan tertentu.[5]
Dengan kata lain, AI adalah ilmu modern yang menegaskan potensi akal manusia
dalam menciptakan instrumen cerdas.
Ilmu pengetahuan dan agama sering dianggap bertentangan karena perbedaan
wilayah kajian, Ilmu terbatas pada ranah empiris, sedangkan agama hanya
mencakup aspek metafisik. Padahal al-Qur’an justru mendorong manusia untuk
menggunakan akalnya dalam memahami alam semesta sembari mengingatkan bahwa
pengetahuan manusia bersifat terbatas.Sepertihalnya yang dijelaskan Maurice
Bucaille dalam La Bible, le Coran et la Science, ia menegaskan
bahwa tidak ada satu pun ayat al-Qur’an yang bertentangan dengan temuan ilmiah
modern.[6]
Hal ini menunjukkan bahwa Islam selalu sejalan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan, termasuk teknologi seperti AI.
Dalam menghadapi fenomena ini, santri memiliki peran strategis. Santri
bukan hanya pelajar yang mendalami ilmu agama, tetapi juga pionir yang menjaga
dan mengembangkan kehidupan pesantren berdasarkan al-Qur’an dan sunnah. Mereka
dibekali nilai dasar berupa kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab moral
yang menjadi landasan penting dalam mengarahkan perkembangan teknologi agar
membawa maslahat. Dengan modal tersebut, santri diharapkan mampu memadukan
tradisi pesantren dengan modernisasi teknologi, sehingga AI dapat berperan
sebagai sarana pembangunan peradaban Qur’ani, bukan hanya sekadar alat tanpa
orientasi nilai.
Perkembangan
Teknologi Dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an mengajak
manusia untuk berpikir kritis dan merenung melalui fenomena alam semesta
sebagai bukti nyata adanya Sang Pencipta. Keberadaan langit dan bumi sebagai
tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal menjadi dalil kuat bahwa
mustahil sesuatu tercipta tanpa pencipta yang berilmu, berkehendak, dan hidup.
Fenomena tersebut mengajarkan manusia untuk mengambil pelajaran bahwa segala
sesuatu diciptakan penuh hikmah dan tidak sia-sia. Fenomena ini juga relevan
dengan kehadiran AI, yaitu teknologi (AI) hanyalah sebatas instrumen, sedangkan
yang menentukan arahnya adalah akal sehat dan iman.[7] Hal ini tercantum dalam QS. Ali ‘Imrān ayat
190:
اِنَّ فِيْ خَلْقِ
السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى
الْاَلْبَابِ[8]
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta
pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang
yang berakal.[9]
Ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah pengatur dan
pemilik segala sesuatu. Penciptaan langit, bumi, serta pergantian malam dan
siang merupakan tanda kekuasaan-Nya bagi orang yang berakal.[10]
Al-Qur’an menempatkan ilmu sebagai anugerah Allah yang menjadi kunci kemajuan peradaban manusia. Allah
memerintahkan manusia untuk membaca dan belajar sejak wahyu pertama diturunkan,
yaitu QS. al-‘Alaq ayat 1-5:
اِقْرَأْ بِاسْمِ
رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ﴿١﴾ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ﴿۲﴾ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ
الْاَكْرَمُۙ ﴿۳﴾ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ﴿٤﴾ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا
لَمْ يَعْلَمْۗ ﴿٥﴾[11]
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang
Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa
yang tidak diketahuinya.[12]
Dalam ayat ini, menegaskan bahwa pencarian
ilmu merupakan perintah Allah sekaligus fondasi utama dalam membangun
peradaban.[13]
Namun, ilmu tidak boleh lepas dari etika, karena orang berilmu tanpa etika
tidak akan memberikan dampak kemaslahatan bagi orang lain. Hal ini disebutkan
dalam QS. al-Mujādilah ayat 11:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ
فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ
دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ[14]
Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan
kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya
Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu)
berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu
dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap
apa yang kamu kerjakan.[15]
Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah akan
meninggikan derajat orang-orang berilmu yang beriman. Seseorang yang hatinya
lapang kepada sesama hamba akan mendapat kelapangan dari Allah berupa kemudahan dalam kebaikan, baik di dunia
maupun di akhirat. Dengan demikian, ilmu
yang dimiliki tidak disalahgunakan, melainkan diarahkan untuk kemaslahatan agar
terhindar dari kerusakan.[16]
Modal Epistemologis Pesantren Dalam Merespon Perkembangan
Teknologi
Pesantren memiliki peran penting sebagai benteng
tradisi keilmuan Islam yang berlandaskan sanad, otoritas, dan kedalaman
pemahaman. Namun, di era digital pesantren dihadapkan pada tantangan serius
terutama hadirnya banjir informasi yang tidak selalu terverifikasi
kebenarannya. Misalnya, AI dapat menghasilkan teks-teks keagamaan dengan cepat
tetapi tidak sepenuhnya valid karena sering mengabaikan aspek sanad,
metodologi, dan otoritas ulama. Hal ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman
dalam memahami ajaran agama jika tidak disikapi dengan baik.
Meski demikian, di balik tantangan tersebut
terdapat peluang besar. AI dapat dimanfaatkan sebagai sarana membantu manusia dalam berbagai bidang, mulai dari
komunikasi, pendidikan, hingga pengelolaan informasi. Namun, khusus dalam ranah
keagamaan seperti tafsir, hadis, bahasa arab, balaghah, penggunaannya
tidak boleh sembarangan. Diperlukan proses, keahlian keilmuan agar hasilnya
tetap sejalan dengan tradisi dan metodologi Islam yang benar dan bersanad.
Santri dalam menyikapi AI harus bersikap kritis sekaligus konstruktif,
yaitu mengawal agar teknologi selaras dengan maqāṣid al-sharī’ah, menjaga
otoritas keilmuan tradisional melalui sanad, mengintegrasikan nilai Qur’ani
dengan kecakapan digital, serta menjadi agen dakwah kreatif di media sosial
yang bijak dalam memanfaakan AI. Dengan demikian, penting untuk ditegaskan
bahwa kecerdasan buatan sehebat apapun kemampuannya tidak pernah bisa
menggantikan sanad, otoritas, dan kedalaman keilmuan ulama. AI hanyalah
instrumen, sedangkan otoritas keagamaan tetap berada di tangan manusia berilmu
yang ahli dan bersambung sanadnya.
Pesantren adalah benteng ilmu sekaligus cahaya peradaban. AI hanyalah alat, tetapi di tangan santri yang berilmu dan berakhlak, ia dapat menjadi sarana pendukung pembelajaran dan pengelolaan informasi. Santri ditantang untuk menjaga sanad, merawat tradisi, dan pada saat yang sama menghadirkan nilai-nilai Qur'ani di tengah perkembangan teknologi. Dari pesantrenlah akan lahir generasi yang mampu menuntun dunia digital menuju arah yang bernilai.
[1] Muhammad ‘Ainul Yaqin, “Supervisi Pendidikan Islam di Era Artificial
Intelligence: Peluang dan Tantangan, Nakula, 4 (2025), 9.
[2] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah
Tantangan Milenium III (Jakarta: Kencana, 2012), 52.
[3] Abī Ja’far Muḥammad Ibn Jarīr al-Ṭabarī, Tafsīr
al-Ṭabarī Jāmi’ al-Bayān ‘An Ta’wīl al-Qur’ān (Kairo: Dār al-Hijr, 2001),
308-309.
[4] Robby’u Shaniya, dkk, AI Dalam Pembelajaran (Surabaya: Guepedia,
2024), 16.
[5] Diego Rodrigus, Decoding ‘Artificial Inttelligence: A Modern Approach’
by Russel and Norvig (t.tp: StudioD21, 2025), 6.
[6] Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Tafsir Ilmi Kemenag (Jakarta:
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2012), 20-21.
[7] Wahbah Zuḥaylī, al-Tafsīr al-Wasīṭ (Damaskus:
Dār al-Fikr, 2000), 273-274.
[8] Al-Qur’an, Ali ‘Imrān [3]: 190.
[9] Al-Qur’an dan Terjemahannya: Edisi Penyempurnaan 2019, 101.
[10] Abī Ja’far Muḥammad
Ibn Jarīr al-Ṭabarī, Tafsīr al-Ṭabarī Jāmi’ al-Bayān ‘An Ta’wīl al-Qur’ān, 308-309.
[11] Al-Qur’an, Al-‘Alaq [96]: 1-5.
[12] Al-Qur’an dan Terjemahannya: Edisi Penyempurnaan 2019, 902.
[13] Wahbah Zuḥaylī, al-Tafsīr al-Munīr (Damaskus: Dār al-Fikr, 2009),
704-706.
[14] Al-Qur’an, Al-Mujādilah [58]: 11.
[15] Al-Qur’an dan Terjemahannya: Edisi Penyempurnaan 2019, 803.
[16] Hamka, Tafsir al-Azhar (t.tp: t.np, t.th), 7227-7228.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar