Sayyid Aḥmad khan seorang tokoh pembaharu pemekiran Islam di India,
dan seorang tokoh mufasir di era kontemporer tepatnya pada abad ke-18, ia lahir
di India, pada tanggal 17 Oktober 1817. Ia memiliki nama lengkap Sayyid Aḥmad
khan ibnul Muttagi Ibn al-Hadi al-Hasan. Ia termasuk keturunan dari keluarga
terpandang dan keturunan Rasulullah dari jalur Husein.
Pendidikan formal Aḥmad khan di Maktab, sebuah lembaga pendidikan
yang mengajarkan keilmuan dalam tingkat dasar yang bersifat tradsisional.
kemudian ia melanjutkan pendidikannya sehingga menjadikan ia sebagai figur
cendikiawan yang intelektualnya di atas rata-rata, dan ia pula merupakan
seorang pemikir yang luas dan memiliki otak cemerlang sehingga pendidikanya
tersebut menjadikan Aḥmad Khān sukses dalam
berbagai karirnya. Aḥmad khān terkenal
memiliki pemikiran yang modern, hal ini dapat di buktikan pada saat tanah
airnya terjajah oleh Inggris, melalui jalur pendidikan, ia berpendapat seperti
dalam makolah:
لاإستقلال
لجاهل ولا تهيل
“Kemerdekaan tidak diberikan kepada orang yang bodoh dan orang yang
bertahayul (beragan-agan)”. Di karenakan pengetahuan merupakan tembok dari kemerdekaan
Beberapa karir dari Aḥmad khan, diantaranya sebagai pegawai di
depertemen Hukum New Delhi, seorang penjabat di lembaga peradilan di Patihpur
dan Agra, ia juga merupakan seseorang penulis dan pengkoreksi berbagai buku
ilmiah termasuk berbagai karangan klasik, diantara karya-karyanya tafsir Al-Qur’an
wa al-Hudā wa
al-Furqān, A series Of
Essays on The Life of Muhammad, tafsir al-Qur’an, tabyin al-Kalam, Athar
Al-Sanadid, dan sebagainya.
Karakteristik Aḥmad khan dalam menafsirkan al-Qur’an berdasarkan
tema terhadap suatu permasalahan, yang biasa dikenal dengan metode tematik.
Diantara permasalahan yang ditafsirkannya biasanya berkaitan dengan Aqidah
dasar umat islam, fenomena alam dan sebagainya. perlu di garis bawahi bahwa Aḥmad
khan dalam menafsirkan al-Qur’an dengan berbagai permasalah tersebut
mengasumsikan bahwa; pertama, Al-Qur’an harus sesuai dengan akal. kedua,
seseorang itu harus berpegang teguh tarhadap ajaran al-Qur’an. ketiga, al-Qur’an
harus ditafsirkan melalui pandangan akal dan hati. Sebab, Aḥmad khān menganalogikan bahwa Al-Qur’an merupakan kalam Allah, sedangkan
alam ini merupakan hasil perbuatan-Nya sendiri, dan ajaran Islam secara murni
tidak bertentangan dengan hukum alam. Berdasarkan dari ungkapan tersebut, maka
di pastikan mustahil terjadinya pertentangan antara perkataan dengan
perbuatan-Nya.
Berdasarkan latar belakang di atas Aḥmad khan menafsirkan al-Qur’an
berdasarkan Rasionalistik. Bentuk ini mencoba untuk mengedepankan akal dan
hukum agar menjadi parameter utama untuk mengukur terhadap kebenaran suatu
ayat. Penafsirannya Aḥmad khān yang jika
dihubungkan dalam hubungan hermeneutika scheiermacher, maka penafsiran tersebut
termuat dalam lingkup “membebaskan tafsir dari dogma”. Hermeunitika pada
tafsirnya Aḥmad khan terlihat jelas pada saat ia menafsirkannya, seperti
terhadap konsep malaikat, setan, yang dalam penafsiranya benar-benar
meninggalakan makna lafdzi dan kemudian mensainskan, dengan tujuan untuk
diterima oleh akal sehat yang selaras dengan fenomena alam. Aḥmad khān menganggap bahwa:
القران هو الوحي كان بامعني دون الفظ
“Al-Qur’an merupakan maknanya bukan lafadznya”
Malaikat yang dikehendaki oleh Aḥmad khān merupakan perbuatan yang bersimbol baik dan itu yang harus dikerjakan dan kata setan merupakan simbol buruk yang haruh dihindari.
Oleh: Riza fatkhurrahman
Editor: Divisi publikasi HMP IQT STAI AL-ANWAR

Tidak ada komentar:
Posting Komentar