Cara memilih pemimpin (Hasil distan semester 5)



Indonesia merupakan negara yang demokratis, maka dari itu rakyatnya diharuskan memilih pemimpin melalui cara yang demoktaris pula. Di tahun 2024 nanti Indonesia akan mengadakan pencopotan[H1]  pemimpin dan akan dilaksanakan pula pengangkatan pemimpin yang baru. Terdapat tiga kandidat colon pemimpin yang akan menjadi pemimpin selanjutnya untuk mengatur negeri ini. Ketiga calon tersebut mempunyai pengaruh besar bagi rakyat Indonesia diberbagai daerah. 

Terlepas dari latar belakang ketiga calon pemimpin itu, tentunya rakyat Indonesia ingin negeri ini lebih baik dan membawa perubahan bagi negeri ini dari berbagai aspek. Indonesia merupakan negara berkembang yang masih memerlukan perubahan di dalamnya. Masih banyak SDM-SDM Indonesia yang harus dibenahi dan diselaraskan. Kemiskinan, kelaparan, penyelewengan kekuasaan, dan lainnya merupakan hal-hal yang sangat sangat diharap oleh rakyat Indonesia perubahannya.

Untuk mencapai itu semua Indonesia dan seluruh negara di dunia harus memiliki pemimpin yang bijaksana dan bertanggung jawab. Lalu bagaimanakah pemimpin yang diharapkan dapat mencapai semua itu?. Apakah rakyat harus memilih pemimpin yang mengeluarkan kata-kata manis sebelum mereka diangkat sebagai Presiden atau pemimpin?, tentu tidak. Karena pemimpin yang baik dan bijaksana merupakan pemimpin yang melakukan aksi bukan ambisi.

Dalam diskusi yang dilaksanakan oleh mahasiswa IQT semester 5, seorang pemimpin yang sebenar-benarnya pemimpin adalah tetap menjalankan berjalannya syariat Islam ditempat ia memimpin atau suatu negeri. Dalam hal ini para mahasiswa lebih condong untuk mengangkat seorang pemimpin yang muslim, karena memprioritaskan pemimpin yang muslim dapat menyangkut kehidupan dalam beragama dan berjalannya syariat Islam dinegeri yang dipimpin. Maka dimemprioritaskannya pemimpin yang beragama islam adalah bukan kerena tujuan  dalam sebuah “kekuasan”, karena kekuasaan bukanlah tujuan utama. Kekuasaan hanyalah sebagai wasilah agar bagaimana seseorang warga masyarakat ini menjalankan kehidupannya sebagai seorang hamba dan syariat islam dapat dijalankan sebagaimana mestinya, maka dari itu harus ada pemimpin yang muslim.

Terlepas dari itu Keadaan masyarakat yang tidak ada pemimpin didalamnya dapat menimbulkan kekacauan serta kemungkinan besar terjadinya hukum rimba dimana yang terkuatlah yang berlaku sewenang-wenang terhadap yang lemah. Hal itu menjadi musabab tidak berjalannya kegiatan keagamaan disuatu negeri, seperti solat, puasa, haji dan lainnya. sebagaimana untaian syair yang sesuai dalam menyikapi hal ini:

لايصلح الناس فوضى لا سراة لهم # ولا سراة اذا الظالمون سادوا

Bahwa, tidak akan pernah kekacauan yang ada pada suatu tempat dapat diselesaikan oleh banyak orang, jika tidak ada seorang yang memimpin didalamnya, dan akan sangat sulit keberadaan seorang pemimpin jika orang-orang yang zolim telah berkuasa yaitu pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

            Al-Qur’an telah memberi contoh bagaimana pemimpin yang ideal dan baik. Sebagaimana sifat-sifat pemimpin yang disebutkan, Al-Qur’an telah menceritakan dalam surah al-Qasas ayat 26 tentang Nabi Syuaib yang memilih Nabi Musa sebagai calon suami untuk putrimya untuk memimpin dan menuntun putrinya. Bukan tanpa alasan Nabi Syuaib memilih Nabi Musa, tentunya terdapat sifat-sifat kepemimpinan pada diri Nabi Musa. Dalam ayat tersebut Nabi Musa memiliki sifat yang kuat dan amanah.  Mungkin itu salah satu alasan yang kuat kenapa Nabi Syuaib memilih Nabi Musa untuk memimpin putrinya.

Oleh: Musyfiq Kamal Muiz

Editor: Divisi Publikasi HMP IQT STAI AL-ANWAR


 [H1]Pelepasan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar