Tulisan ini lahir sebagai catatan
penulis ketika mengikuti acara peringatan Nuzulul Qur’an PP Al-Anwar 3 Sarang Rembang
beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan tersebut, pada sambutannya KH. Abdul
Ghofur Maimoen (Gus Ghofur) menyampaikan catatan Ibnu Athoillah as-Sakandari
dalam kitabnya, Al-Hikam, bahwa manusia untuk dekat dengan Allah SWT harus
mempunyai sebuah wirid. Ibnu Athoillah as-Sakandari menuliskan dalam kitabnya:
من
لا ورد له لا وارد له
“Man
La Wirda lahu La Warida Lahu, Orang yang tidak punya wirid itu tidak akan
mendapatkan warid.”
Lebih lanjut, Gus Ghofur menjelaskan
lebih dalam makna antara keduanya, bahwa wirid mempunyai arti segala sesuatu
(red: kebaikan) yang dilakukan secara terus menerus agar dekat kepada Gusti
Allah SWT. Sedangkan warid adalah sesuatu yang diberikan Allah kepada
hamba-Nya. Artinya, wirid adalah persembahan seorang hamba kepada Allah,
sedangkan warid adalah pemberian Allah kepada hamba-Nya.
Namun yang perlu digarisbawahi, wirid
tidak selamanya berlaku hanya untuk wirid-wirid qauli (ucapan) pada
umumnya. Tetapi lebih dalam dari itu, wirid juga berlaku untuk hal-hal kebaikan
yang bersifat ‘amali
(perbuatan). Oleh karena itu, seorang hamba untuk dekat dengan Allah SWT harus
mempunyai wirid yang dilakukan secara terus menerus (istiqamah) sebagaimana
yang disinggung Ibnu Athoillah as-Sakandari.
Kemudian untuk mengelaborasi esensi
yang didawuhkan oleh Gus Ghofur, KH. Abdul Qoyyum Mansur (Gus Qoyyum) selaku
penceramah kala itu menceritakan sebuah hadis riwayat Imam Ath-Thabrani dalam
kitabnya, Al-Mu’jam Al-Awsath. Diceritakan bahwa dulu terdapat dua
sahabat Nabi yang mana salah satu keduanya ketika setiap bertemu dan setiap akan
berpisah selalu istiqamah membaca surah Al-‘Ashr.
وَالۡعَصۡرِۙ
اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِىۡ خُسۡرٍۙ اِلَّا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ
وَتَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ
Artinya: (1) Demi masa, waktu, zaman. (2)
Sesungguhnya manusia sungguh dalam keadaan rugi, (3) kecuali orang-orang yang
beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan
saling menasihati untuk kesabaran.
Namun kemudian yang menjadi
pertanyaan, kenapa harus Al-‘Ashr dan apa yang dimaksud manusia yang rugi dalam
ayat kedua tersebut?
Sebelum lebih jauh menjawab
pertanyaan esensial ini, penting diketahui bahwa manusia disebut dengan kata al-insan
dalam Al-Qur’an tidak kurang dari 65 kali, dan kata “inna” disebutkan
tidak lebih dari 1679 kali dalam Al-Qur’an.
Kemudian, jika ditelusuri lebih dalam
lagi sambungan kata “inna” dan “al-insan” yang ada di dalam
Al-Qur’an selalu menampilkan sisi buruk perilaku manusia. Artinya, bisa
dipastikan bahwa Al-Qur’an memang menegaskan bahwa manusia dengan segala
dinamika kehidupannya cenderung berperilaku
negatif. Hingga akhirnya Al-Qur’an menegaskannya “al-insan” dengan disambungkan
dengan “inna” yang bermakna sesungguhnya.
Seperti contoh ayat-ayat dengan
dengan sambungan “inna” dan “al-insan” dalam Al-Qur’an:
إِنَّ
الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Sesungguhnya
manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
اِنَّ
الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓ
“Sungguh,
manusia itu benar-benar melampaui batas.”
إِنَّ
الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ
“Sesungguhnya
manusia itu sangat ingkar, (tidak berterima kasih) kepada Tuhannya.”
Melalui tampilan ayat-ayat di atas,
bisa ditarik sedikit konklusi sebagaimana ayat dalam surah Al-‘Ashr, bahwa pada
hakikatnya kesemuanya itu merupakan indikasi bahwa manusia memang selalu rugi.
Bahkan, Fakhruddin al-Razi dalam kitab
tafsirnya, Mafatih al-Ghaib, dalam menafsirkan ayat Al-‘Ashr tersebut adalah
“manusia bisa rugi hingga ke dalam surga sekalipun”. Dengan kata lain, rugi di
dalam surga adalah tidak menikmati/puas terhadap hadiah yang sudah Allah berikan
di dalam surga itu sendiri.
Dalam konteks keberagamaan sekarang
ini, dalam catatan Gus Qoyyum, manusia bisa rugi dalam beberapa hal. Salah
satunya adalah tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya atau membuang waktu. Kerugian
seperti ini bisa dilatarbelakangi oleh banyak hal pula, tak terkecuali adanya fenomena
gadget yang karenanya manusia sering dibuat terlena.
Hingga akhirnya, melalui gadget
inilah manusia mengakses konten-konten tidak jelas, menjelek-jelekan orang
melalui media social, dan sebagainya yang mengantarkan dirinya tidak bisa
memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Sehingga tak heran, Ibnu Arabi dalam
tafsirnya yang unik, menafsirkan Wal ‘Ashri bukan dengan waktu, tapi dengan
“demi memeras dosa” dari kata ‘Ashoro Ya’shiru “Ashron.
Lalu sebagai jalan keluar dari
kerugian yang disebutkan Gus Qoyyum, seperti apa Al-Qur’an menggambarkan
manusia yang memanfaatkan waktu sebaik-baiknya?
Melalui ayat setelah menyebut manusia
dalam kerugian, Al-Qur’an menyebutkan:
إِلَّا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
“kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati
untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Lafadz ءَامَنُوا۟
mempunyai maksud waktu terjaga dan akidah tidak hilang. Lalu, وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ
adalah jasmani beserta rohani sama-sama baik, dalam arti tidak bermasalah.
Kemudian, وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ adalah orang tidak pasif. Dengan arti lain
memedulikan orang lain dengan berpesan akan kesabaran dan kebenaran kepada
orang lain. Sederhananya, selalu menyayangi orang lain untuk hidup di jalan
yang benar, tidak ego, dan sebagainya.
Sebagai contoh tentang bagaimana
cerita ulama terdahulu dalam memanfaatkan waktu, ini terlihat ketika bagaimana
Fakhruddin al-Razi tetap melanjutkan karangan kitabnya, Mafatih al-Ghaib,
meskipun putranya (Muhammad) saat itu wafat.
Namun, musibah kewafatan putranya ini
tidak membuat Fakhruddin al-Razi berhenti menulis karangannya. Fakhruddin
al-Razi tetap melanjutkannya, hingga menulis wasiat kepada para pembaca
karangannya untuk membaca surah Fatihah kepada putranya ketika sampai pada
akhir tafsir surah Yusuf.
Walhasil, inilah potret di mana memanfaatkan waktu merupakan hal yang teramat penting agar tidak menjadi manusia yang rugi sebagaimana yang disinggung Al-Qur’an dalam surah Al-‘Ashr. Sehingga maklum dari saking pentingnya merawat waktu, ada ungkapan al-Waqtu ka al-Saif (waktu itu seperti pedang). Wallahu A’lam
Oleh: M. Faidh Fasyani

Tidak ada komentar:
Posting Komentar