Langkah hidup manusia tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan, adakalanya harus jatuh dan adakalanya naik. Kesehariannya pun penuh warna, terkadang senang dan terkadang sedih. Setiap manusia akan merasakannya, tanpa bisa mengelak, karena semua itu merupakan kehendak Allah SWT yang telah digariskan kepada makhluknya. Namun, perlu diketahui jika setiap kehendak Allah SWT itu pasti memiliki hikmah tertentu, karena Allah SWT adalah sang sutradara kehidupan.
Di antara keterpurukan yang dirasakan manusia
adalah ketika seseorang tidak dapat menggapai harapannya. Kebanyakan orang akan
berusaha mati-matian untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, bahkan banyak dari
mereka yang rela menghalalkan segala cara untuk menggapainya. Namun, ketika
kekalahan menghampirinya, seringkali mereka menyalahkan pihak lain, bahkan
Allah SWT sekalipun. Padahal sebenarnya Allah SWT telah
merencanakan skenario indah dibalik Berbagai ujian yang diberikan Allah
padanya. Hal ini seperti kisah yang tercantum dalam Surah al-Baqarah ayat
247-248, mengenai bani Israel yang menginginkan sseorang pemimpin.
وَقَالَ
لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا
أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ
وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ
وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ
يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ۞ وَقَالَ
لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ
سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ
الْمَلائِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ۞
Tercatat dalam sejarah, Bani Israel tidak
memiliki seorang pemimpin atau raja, tapi mereka dipimpin oleh hakim. Setiap
golongan memiliki hakim sendiri lalu hakim-hakim tersebut memiliki pimpinan
hakim lagi. Setiap permasalahan muncul, akan diputuskan bersama melalui suatu
musyawarah. Namun, hal itu dianggap sebagai kelemahan, karena sistem mereka
yang bukan sistem kerajaan. Kemudian bani Israel menemui nabi Muhammad, dan
meminta beliau untuk memilih satu orang di kalangan mereka untuk menjadi
pemimpin. Dan pilihan jatuh pada Thalut,
namun mereka segera menolak dan melakukan
protes. Penolakan mereka ini didasarkan pada rendahnya kabilah Thalut. Bagaimana
mungkin Thalut menjadi pemimpin di kalangan mereka, padahal dia tidak berasal
dari klan yang tinggi, dan rendahnya pekerjaan yang dimiliki Thalut, yaitu tukang
nyama’ kulit dan tukang pengembala. Hal ini dikarenakan bani Israel
tidak memiliki pengalaman memilih raja, hingga ia menilai orang yang pantas
menjadi raja adalah orang yang memiliki wewenang tinggi diantara kalangannya
sendiri.
Bani Israel kemudian mengingkari ketetapan
Allah SWT dan menolak memilih Thalut sebagai pemimpin. Padahal setiap ketetapan
Allah SWT itu mengandung hikmah tersendiri. Bahkan dianalisa secara logika
saja, orang yang pantas menjadi raja adalah orang yang dapat diajak
bermusyawarah, dan orang seperti ini biasa berasal dari kabilah kelas. Seperti
khalifah pertama islam, yaitu Abu bakar yang bukan berasal dari kalangan atas,
yaitu bani Taim. Dan itu menjadi berkah tersendiri.
Namun, bani Israel terus saja menolak, lalu Nabi bertanya “ bagus mana pilihan
Allah SWT dengan pilihan kalian? Dan ini adalah
pilihan Allah”.
Justru yang dibutuhkan raja adalah ilmu bukan
harta, karena harta banyak itu harus dimiliki negara, bukan rajanya. Jika raja
berilmu dan pintar untuk memimpin negara, pasti ia dapat menghasilkan banyak
uang untuk negaranya. Hingga raja yang sederhana pasti akan lebih memikirkan
negaranya, daripada dirinya sendiri. Dan orang yang paling pintar dan bagus
akhlaknya adalah Thalut. Begitupun Zaid bin tsabit yang terpilih menjadi pemimpin
dari para penulis wahyu, karena Zaid adalah orang yang mudah diajak bermusyawarah
dan dapat menerima pendapat orang lain.
Oleh: Siti Mu’minatul Karomah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar