JIHADLAH DENGAN HARTA DAN JIWA



Al Baqarah ayat 254

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيْهِ وَلَا خُلَّةٌ وَّلَا شَفَاعَةٌ ۗوَالْكٰفِرُوْنَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

254.  Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum datang hari (Kiamat) yang tidak ada (lagi) jual beli padanya (hari itu), tidak ada juga persahabatan yang akrab, dan tidak ada pula syafaat. Orang-orang kafir itulah orang-orang zalim.

Ayat ini masih berhubungan dengan peperangan, cerita tentang orang-orang yang perang, dan juga cerita jālūt dan ṭalūt, lalu ada cerita tentang Nabi Muhammad Ṣalla Allāh ‘Alayhi wa Sallam sebagai seorang Rasul. Dalam ayat tersebut ada selingan-selingan cerita lain, akan tetapi secara umum ayat ini masih berbicara tentang perang. Karena peperangan itu sangat membutuhkan nafaqah.

وَجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ (jihatlah dengan harta dan dengan jiwa). Jihad itu tidak hanya dengan jiwa tapi juga dengan harta. Karena bagaimanapun perang itu biayanya besar, makanya perang terakhir yang dilakukan kanjeng Nabi Muhammad Ṣalla Allāh ‘Alayhi wa Sallam yaitu perang tabuk, yang sering disebut dengan peperangan diwaktu kesulitan (yaum al-ushrah) itu pendanaannya juga luar biasa. Orang yang sangat terkenal dalam pendanaan perang tersebut adalah Sayyidina Utsman, pada saat itu kafilah dagang Utsman datang dari suatu daerah sesampainya di Madinah kemudian semua dagangannya itu diberikan kepada Rasulullah untuk membiayai perang. Jihad apapun itu sangat membutuhkan infaq dari orang-orang yang memiliki kelebihan harta, makanya kemudian disampaikanlah ayat ini, artinya harta yang diinfakkan itu akan sangat bermanfaat nanti pada saat hari kiamat karena pada hari kiamat tidak ada harta yang bisa bermanfaat. Harta kalau digunakan dengan baik didunia justru itu akan bermanfaat di akhirat, akan tapi kalau harta itu tidak digunakan dengan baik didunia dalam artian harta itu disimpan kemudian mati maka harta itu tidak lagi bisa membeli apapun nanti di hari kiamat, untuk menebus apapun tidak akan bisa, kekayaan itu seperti tidak ada nilainya.

Begitu juga dengan pertemanan, pertemanan kalau tanpa ada amal yang baik maka pertemanan itu juga tidak akan bermakna, makannya sering di sampaikan “Jangan terlalu membanggakan guru-guru kalian tapi usahakan agar guru-guru kalian itu bangga dengan kalian”, bukannya tidak boleh bangga kepada guru, seperti contoh ucapan “Saya muridnya kyai ini” ucapan seperti itu baik sekali, tapi sebetulnya yang lebih penting adalah bagaimana agar guru itu bangga dengan muridnya, karena banyak sekali orang yang mengaku muridnya kiai ini tapi prilakunya tidak menunjukkan kalau dia adalah muridnya kiai tersebut. Jangan terlalu bangga maksudnya itu bukan tidak boleh bangga, akan tetapi kebanggaan itu harus disertai dengan melakukan prinsip-prinsip gurunya. Sering kali orang-orang mengucapkan “Saya muridnya mbah maimoen” tetapi prilakunya tidak seperti beliau. Itu juga bisa menjadi bumerang. Lebih baik adalah gurunya yang bangga terhadap muridnya. 

Lalu ayat ini diakhiri dengan kalimat وَالْكٰفِرُوْنَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ (orang-orang kafir itulah yang dzalim). Bisa jadi maknanya itu adalah orang kalau kalah tapi merasa kekalahannya itu didzalimi itu sedikit terobati. Semisal ada orang yang kalah dalam peperangan kemudian orang tersebut didatangin oleh seseorang dan dibilangin “Tenang saja kamu itu sebenarnya benar, nanti kamu akan dapat pahala dari Allah Subḥānahu wa Ta’ālā, Allah Subḥānahu wa Ta’ālā pasti akan mendengar kamu karena kamu benar”. Berbeda dengan orang yang sudah tau kalau dia itu kalah, kemudian dia merasa dzalim lagi, betapa menyedihkannya. Semisal ada orang mendzalimi kita, sudah mendzalimi kita lalu dia kalah lagi terus apa pelipur laranya? pelipur laranya itu hilang sama sekali, gak ada pelipur laranya. Ini juga begitu وَالْكٰفِرُوْنَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ (orang-orang kafir itulah yang dzalim) kalau kemudian terjadi peperangan lalu orang kafir itu kalah setatusnya bukan didzalimi tapi statusnya adalah orang yang mendzalimi. Seperti halnya kalau ada orang menganiaya kita lalu kita mempertahankan diri, bagaimana kalau kita mempertahankan diri lalu kita mati? انت شاهد (kamu mati syahid) jadi kalau kita kalah itu masih ada hiburannya, hiburannya yaitu kita mati syahid. Terus bagaimana kalau ternyata orang yang menganiaya kita itu yang kalah dan dia yang mati? هو في النار (dia masuk neraka), sudah kalah masuk neraka. Jadi tidak ada pelipur laranya sama sekali, al-Qur’an bilangnya وَالْكٰفِرُوْنَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ orang kafir itu kalau kalah, kalau kepepet dia adalah orang-orang yang dzolim artinya sudah kalah hidupnya nanti juga tidak baik. 

Oleh: Muhammad Burhanuddin (Mahasiswa STAI AL-ANWAR)
Editor: Divisi publikasi HMP IQT STAI AL-ANWAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar