KRITIK AL-QUR’AN TERHADAP GAYA HIDUP HEDONISME: ANALISIS SURAH AT-TAKATHUR



Perkembangan industri era globalisasi ini telah menjadikan barang-barang kebutuhan manusia semakin melimpah. Barang-barang yang awalnya hanyalah kebutuhan sekunder, berubah menjadi keburtuhan primer yang harus terpenuhi. Padahal hal tersebut hanyalah sarana untuk kesenangan, dan merupakan keserakahan manusia saja. Dengan demikian, dapat diketahui jika perkembangan yang terjadi ini telah sepenuhnya merubah gaya hidup manusia saat ini.

Masyarakat modern cenderung mengikuti pemikiran hedonisme. Mereka menyesuaikan dirinya dengan tren yang ada supaya dapat masuk pada kelas sosial yang mereka inginkan. Pandangan hidup ini adalah pandangan hidup yang disebut dengan Hedonisme. Hedonisme sendiri adalah pandangan hidup yang menganggap jika kesenangan dan kenikmatan adalah tujuan utama dalam hidup. Bagi para penganutnya, berfoya-foya dan memebelanjakan uang untuk barang mewah adalah tujuan hidup yang sesuangguhnya. Mereka berpikir jika hidup itu cuma sekali dan harus dinikmati. Ironisnya, pandangan ini bukan hanya menyerang orang kaya, tapi juga menyerang orang miskin. Orang miskin disebut sebagai penganut hedonisme ketika mereka memandang harta benda adalah segalanya, serta menyombongkan harta mereka, walau harta tersebut adalah hasil pinjaman.

Sebenarnya keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang disukai merupakan hal yang wajar bagi manusia. Al-Qur’an juga memperbolehkannya, hanya saja al-Qur’an memberikan batasan pada manusia agar tidak berlebihan dan bermegah-megahan. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dijelaskan Allah dalam firmannya, Surah at-Takatsur.

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainulyaqin,  kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (At-Takatsur: 1-8)

Sebelum memasuki pembahasan yang lebih dalam, perlu diketahui bahwa turunnya surah at-Takatsur itu berhubungan dengan perdebatan antara dua kabilah, yaitu Haritsah dan Harist. Mereka saling membanggakan hartanya dan berlomba-lomba memperbanyak harta mereka. Mereka menyebutkan kelebihan yang mereka miliki dan merendahkan apa yang dimiliki orang-orang diluar kalangan mereka. Atas peristiwa inilah, Allah menurunkan Surah tersebut untuk memperikan pelajaran dan peringatan. (HR. Ahmad)

Dalam surah di atas menyebutkan tiga hal pokok. Pertama, menjelaskan mengenai manusia yang sibuk untuk meraih kenikmatan duniawi dan mengabaikan amal akhirat. Mereka mengupayakan berbagai cara untuk mencapai hal yang mereka harapkan. Bahkan perilaku ini, dapat membawa manusia berlebihan yang melebihi kemampuan mereka. Kedua, memberi peringatan akan adanya sesi pertanggungjawaban atas perbuatan mereka di dunia. Ketiga, menjelaskan mengenai balasan bagi orang-orang yang hidup bermegah-megahan semasa hidupnya.

Islam melarang manusia untuk mengikuti gaya hidup Hedonisme, dan menganjurkan untuk hidup secara sederhana, serta menggunakan hartanya untuk sesuatu yang bermanfaat. Namun, pada kenyataannya banyak ditemukan manusia yang tidak dapat menahan nafsunya dan akhirnya tidak dapat membedakan antara kebutuhan dan keserakahan. Yang mana sejatinya, sesuatu yang dilakukan secara berlebihan tidak pernah mendatangkan hal yang positif.

OlehSiti Mu’minatul Karomah ( (Mahasiswi STAI AL-ANWAR)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar