Pesantren
sebagai lembaga pendidikan Islam tertua sekaligus pusat penyemaian nilai dan
etika tidak pernah lepas dari berbagai tantangan. Belum selesai dengan
persoalan feodalisme dan kasus pencabulan oleh oknum kiai, kini pesantren kembali
disudutkan melalui pemberitaan dan framing media mengenai tradisi gotong
royongnya. Tragedi robohnya musala Al-Khoziny yang merenggut puluhan nyawa
santri kemudian disangkutpautkan secara keliru dengan praktik gotong royong
yang dinilai tidak etis. Tradisi ini disorot dengan cara yang tidak logis dan
tidak utuh seolah-olah kualitas bangunan pesantren ditentukan oleh praktik
gotong royong semata. Bahkan, pernyataan sebagian pihak yang mengaitkan musibah
tersebut dengan takdir pun dipotong dari konteks qada qadar. Banyak kritik muncul tanpa dasar ilmu dan
tanpa memahami konteks kehidupan pesantren. Fenomena ini menunjukkan hilangnya
nalar kritis ketika masyarakat hidup dalam ketidakjelasan sebuah informasi (post-truth).
Era post-truth
adalah kondisi ketika kebenaran objektif tidak lagi menjadi landasan utama
dalam membentuk opini publik. Emosi, keyakinan pribadi, dan arus manipulasi
informasi justru lebih menentukan arah pandangan masyarakat. Karena itu, dalam
menyikapi tragedi Al-Khoziny, keberadaan nalar kritis menjadi sesuatu yang
sangat penting dan dibutuhkan.
Baca juga : PROGRAM MAKAN BERGIZI GRATIS (MBG) DALAM PERSPEKTIF TAFSIR AL-QUR`AN TENTANG PRINSIP ḤALĀLAN ṬAYYIBAN
Informasi dan
Framing Media Hari Ini
Tragedi
Al-Khoziny bukan hanya musibah besar yang memakan korban terbanyak tahun ini, tetapi
juga menjadi trending topic yang mengalahkan isu politik sekalipun.
Kericuhan pada Muktamar PPP sebagai partai Islam nasional, misalnya, tidak mendapat
perhatian sebesar tragedi Al-Khoziny. Hal ini memunculkan pertanyaan, apa sebenarnya
yang disorot media sehingga tragedi tersebut memicu rekasi negatif sedemikian
besar? Apa perbedaannya dengan musibah lain yang menimpa bangsa ini? Hanya
media dan para penulis berita yang dapat menjawabnya.
Namun yang jelas,
algoritma media sangat memengaruhi perilaku komunikasi masyarakat secara global.
Ketika suatu topik sulit diverifikasi karena banyaknya informasi, masyarakat
menjadi rentan terseret opni yang dibangun media. Berita datang dari segala
arah dalam hitungan jam, bahkan menit. Realitasnya, media termasuk media mainstream
yang sering kali tidak mampu bersikap objektif. Banyak pemberitaan tidak
dapat membedakan secara tegas penyebab ambruknya bangunan Al-Khoziny. Alih-alih
memverifikasi informasi dengan akurat dan tegas, masyarakat justru disibukkan
dengan membuat stigma negatif terhadap pesantren tanpa memahmi konteks
peristiwa, latar historis-sosiologis, dan kompleksitas masalahnya.
Tradisi gotong royong tidak dapat dikaitkan
begitu saja dengan kegagalan konstruksi bangunan. Keduanya merupakan dua hal
yang berbeda. Media seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga moralitas
informasi, namun media besar (ternama) hari ini tidak lagi menjamin keakuratan
dan keutuhan sebuah berita. Dalam dunia jurnalisme, ambisi semacam “bad news
is a good news” sudah menjadi rahasia umum. Karena itu, nalar kritis untuk
tidak mudah menerima informasi menjadi hal yang sangat penting.
Pesantren dan
Merawat Nalar Kritis
Pada akhirnya
pesantren tidak akan ke mana-mana. Ia tetap menjadi pusat penyemaian etika dan
moral umat, tempat nilai keagamaan dan kebangsaan hidup serta terawat. Dalam
situasi yang rawan konflik seperti saat ini, pesantren sebenarnya memiliki
bekal kuat untuk membentengi gempuran era post-truth. Merawat nalar
kritis telah lama menjadi karakter khas pesantren. Salah satunya tercermin dari
ajaran kepada santri untuk tidak menerima informasi secara mentah sebelum melakukan
tabbayyun (klarifikasi). Kewajiban tabayyun ini bukan hanya
bagian dari etika kritis, tetapi juga merupakan prinsip pokok dalam al-Qur`an
yang berfungsi sebagai problem solving (pemecahan masalah) dan secara
tegas ditujukan kepada setiap orang beriman. Hal ini ditegaskan dalam QS. al-Hujurāt
ayat 6 berikut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ
فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ
فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jika
seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah
kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu)
yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Dalam ayat
tersebut, Allah memerintahkan orang beriman untuk meneliti kebenaran berita
yang dibawa oleh orang fasik agar tidak mencelakakan suatu kaum karena
ketidaktahuan. Ibn Kathīr dalam tafsirnya menegaskan bahwa ayat adalah
pelajaran besar dalam prinsip sosial Islam, yaitu agar seorang mukmin tidak
tergesa-gesa mempercayai berita sebelum memastikan kebenarannya. Hal ini
menjadi dasar kaidah tabayyun yang wajib diterapkan agar tidak timbul
fitnah, permusuhan, atau tindakan zalim akibat kabar yang keliru.
Ayat ini
turun berkenaan dengan peristiwa ketika Rasulullah mengutus al-Walīd bin ‘Uqbah
untuk memungut zakat dari Bani al-Muṣṭaliq. Karena adanya kesalahpahaman, al-Walīd
mengira mereka menolak zakat dan hendak mencelakainya. Ia pun kembali dan
melapor kepada Nabi, hingga hampir saja Rasulullah mengirim pasukan untuk
menindak mereka. Namun sebelum hal itu terjadi, Allah menurunkan ayat ini
sebagai peringatan agar selalu melakukan tabayyun terhadap setiap berita
yang belum pasti. Setelah diklarifikasi, ternyata Bani al-Muṣṭaliq justru siap
menyerahkan zakat dengan penuh keikhlasan.[1]
Quraish
Shihab dalam tafsirnya juga menjelaskan bahwa ayat ini merupakan dasar sosial
yang logis dalam menerima dan mengamalkan suatu berita. Penggunaan kata in
(jika) yang menunjukkan sesuatu yang belum pasti atau jarang terjadi. Oleh
karena itu, Quraish Shihab menekankan untuk bersikap kritis dan tidak mudah
menerima berita tanpa diverifikasi kebenarannya sehingga dapat menjerumuskan
pada tindakan-tindakan tidak jelas sebagaimana peringatan ayat tersebut; bi
jahālah.[2]
Namun,
bersikap ideal seperti yang digambarkan di atas tidaklah mudah. Terlebih pada
konteks tragedi Al-Khoziny, sebagian pihak pesantren justru memicu sorotan
publik karena sikap mereka sendiri. Mulai dari bersikap defense, denial,
hingga membawa isu konspirasi lengkap dengan dalil agama. Karena itu, kalangan
pesantren termasuk para influencer santri, sebaiknya tidak memberikan komentar
berlebihan jika tidak mampu menawarkan perspektif kemanusiaan yang jernih. Di
sinilah tantangan terbesar, mampukah pesantren bersikap bijaksana dalam
menghadapi badai informasi era post-truth? Wallāhu A’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar