INTERAKSI ANTARA GURU DAN MURID DALAM PERSPEKTIF SURAT AL-KAHFI



       Pendidikan Islam mempunyai karakteristik yang berkenaan dengan cara memperoleh dan mengembangkan pengetahuan serta pengalaman. Pada dasarnya setiap manusia dilahirkan dengan membawa fitrah serta dibekali dengan berbagai potensi dan kemampuan yang berbeda dari manusia lainnya. Dengan bekal itu, kemudian ia belajar. Awal mula dengan melalui hal yang dapat diindra dengan menggunakan panca indranya sebagai jendela pengetahuan, selanjutnya bertahap dari hal-hal yang dapat diindra kepada yang abstrak, dan dari yang dapat dilihat kepada yang dapat dipahami. Pemanfaatan pengetahuan harus ditujukan untuk mendapatkan kemanfaatan dari pengetahuan itu sendiri, menjaga keseimbangan alam semesta ini dengan melestarikan kehidupan manusia dan alam sekitarnya, yang sekaligus sebuah aplikasi dari tugas kekhalifahan manusia di muka bumi. Pemanfaatan pengetahuan merupakan tujuan untuk ta’abbud kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam.

            Namun, baru-baru ini terdapat sebuah kasus yang sangat bertentangan dengan al-Qur’an. Kasus tersebut ialah seorang murid yang tega membacok gurunya sendiri dengan menggunakan senjata tajam. Motif dari seorang murid didasari oleh ketidakpuasan terhadap kebijakan sang guru yang melarang muridnya mengikuti Ujian Tengah Semester (UTS) lantaran belum menyelesaikan tugas persyaratan kenaikan kelas dengan batas yang telah ditentukan, sehingga pelaku merasa sakit hati atas keputusan sang guru tersebut. Peristiwa ini terjadi di Madrasah Aliyah (tidak disebutkan almamaternya).

            Dari peristiwa tersebut merupakan suatu hal yang sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang murid kepada gurunya dan tidak sesuai dengan   al-Qur’an. Padahal dalam al-Qur’an telah disebutkan dan dijelaskan akhlak-akhlak yang baik, termasuk dalam konteks ini yaitu seorang murid yang  berinterkasi dengan gurunya, begitupun sebaliknya. Bagaimana interaksi yang baik antara guru dan murid yang sesuai dengan al-Qur’an?.

Di sini, akan membahas tentang bagaimana interaksi yang baik antara guru dan murid dalam perspektif al-Qur’an Surah al-Kahfi ayat 66, 69, 77, 81, dan 82.

Firman Allah yang terdapat dalam ayat 66:

قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا ٦٦

Musa berkata kepada Khidir: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu”. (QS. Al-Kahfi: 66)

Maksud dari ayat ini yaitu Nabi Musa Alayhi al-Salam datang kepada al-Khidir untuk berguru kepadanya. Dalam ayat ini Allah telah menggambarkan secara jelas sikap Nabi Musa sebagai calon murid kepada calon gurunya dengan mengajukan permintaan bentuk pertanyaan, itu berarti Nabi Musa sangat menjaga kesopanan dan mohon diperkenankan mengikutinya.

Dalam ayat 69:

قَالَ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا وَلَآ أَعۡصِي لَكَ أَمۡرٗا ٦٩

Dalam ayat ini, Nabi Musa berjanji tidak akan mengingkari dan tidak akan menyalahi apa yang dikerjakan oleh al-Khidir, dan akan melaksanakan perintahnya selama tidak bertentangan dengan perintah Allah. Janji yang beliau ucapkan dalam ayat ini didasari dengan lafal إن شاء الله  , karena beliau sadar bahwa sabar itu perkara yang sangat besar dan berat.

Dalam ayat 77:

فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهۡلَ قَرۡيَةٍ ٱسۡتَطۡعَمَآ أَهۡلَهَا فَأَبَوۡاْ أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارٗا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ فَأَقَامَهُۥۖ قَالَ لَوۡ شِئۡتَ لَتَّخَذۡتَ عَلَيۡهِ أَجۡرٗا ٧٧

Dalam ayat ini, menjelaskan bahwa penduduk negeri yang rendah akhlaknya, yaitu bilamana ada seorang hartawan tidak mau memberi derma kepada seorang yang minta-minta, maka hal seperti itu sangat dicela dan jika menolak untuk memberi jamuan kepada tamunya maka hal itu termasuk suatu kemerosotan akhlak yang rendah sekali.  Sedangkan tamu di sini ialah Nabi Musa dan al-Khidir. Di negeri itu Musa dan Khidir mendaptakan sebuah dinding rumah yang hampur roboh, maka khidir mengusap dengan tangannya, sehingga dinting itu tegak menjadi lurus kembali. Kejadian tersebut termasuk mukjizatnya. Musa yang melihatnya oleh  Khidir tidak menerima upah apa-apa, dan ingin mengusulkan supaya menerima bayaran atas jasanya, dengan bayaran itu ia dapat membeli makanan dan minuman yang sangat diperlukannya.

Selanjutnya, Firman Allah dalam ayat 80-81:

وَأَمَّا ٱلۡغُلَٰمُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤۡمِنَيۡنِ فَخَشِينَآ أَن يُرۡهِقَهُمَا طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗا ٨٠ فَأَرَدۡنَآ أَن يُبۡدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيۡرٗا مِّنۡهُ زَكَوٰةٗ وَأَقۡرَبَ رُحۡمٗا ٨١  

Dan adapun anak muda itu, Maka keduanya adalah orang-orang mukni, dan Kami khawatir bahwa ia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan Kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). (QS. Al-Kahfi: 80-81).

Maksud dari ayat tersebut ialah Allah tidak menerapkan kepada seorang mukmin dengan suatu ketetapan, melainkan ketetapan itu adalah lebih baik baginya.

Dalam konteks pendidikan, orang yang menuntut ilmu harus menetapkan kriteria orang yang diguruinya serta tempat yang menjadi tujuannya, sehingga ia tidak akan salah arah. Disisi lain, seorang guru harus secara terus menerus mencari ilmu dan jangan merasa malu menjadi murid. Dikatakan sebagai guru itu ialah kelebihan yang dimilikinya, bukan dari ukuran usianya. Dituntut untuk para pencari ilmu untuk menjadikan pengetahuan sebagai skala perioritasnya.

            Seorang calon murid harus memperlihatkan keseriusannya dalam mencari ilmu dengan ungkapan yang sopan dan tawadhu’ bahwa murid harus dituntut untuk memposisikan dirinya sebagai orang yang butuh akan ilmu pengetahuannya, dan menuntut ilmu perlu waktu yang panjang sehingga tidaklah patut menuntut ilmu dalam waktu yang sebentar. Seorang murid juga harus paham dengan dirinya sendiri, ketika ia membuat kesalahan, harus segera menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada gurunya dengan memperlihatkan kesungguhannya dalam meminta maaf. Begitupun dengan seorang guru, harus mengingatkan muridnya dengan cara baik dan bijaksana. Guru agar tidak menyalahkan muridnya secara langsung dan mengakui nilai-nilai kebenaran dan argumentasi yang diajukan oleh sang murid. Hukuman yang diberikan kepada murid ketika muridnya melakukan kesalahan atau pelanggaran harus sesuai dengan pelanggarannya. Pelanggaran pertama bisa dengan teguran yang lemah lembut, pelanggaran kedua dengan mengingatkan agak keras, dan bisa juga dilakukan dengan cara-cara lainnya yang disesuaikan pelanggaran yang dilakukan oleh murid.

            Pendidikan yang harus diberikan oleh seorang guru tidak hanya masalah bagaimana seorang murid mampu beradaptasi dan mempelajari suatu objek serta kejadian-kejadian yang ada disekitarnya, tapi juga masalah efektif dan psikomototorik juga harus diberikan agar murid semakin peka terhadap realitas lingkungan. Pendidikan yang diberikan seorang guru haruslah ikhlas tanpa adanya suatu keterpaksaan dari siapapun dan dari pihak manapun.

            Terdapat nilai pendidikan Akhlak yang terkandung di dalam surah al-Kahfi, diantaranya:

1.      Akhlak kepada Allah, meliputi baik sangka kepada Allah, taat terhadap perintah Allah dan rendah hati terhadap-Nya. Mengajarkan pada manusia bahwa agar tidak segera mengingkari sesuatu yang tidak disukai dan dianggap tidak baik, karena boleh jadi ada hikmah di balik semua itu.

2.      Akhlak terhadap sesama manusia, dalam ayat 66 dan 69 dijelaskan bahwa kerendahan hati seorang murid terhadap guru bahwasannya seorang yang mau belajar harus mengakui dirinya masih banyak hal yang belum dimengerti. Sehingga, seorang guru diharapkan mampu memberikan pencerahan keilmuan sampai murid memahami dan mengerti. Oleh sebab itu, seorang murid harus rendah diri kepada guru dan tidak boleh membantah atau durhaka. Selain itu, akhlak terhadap sesama manusia yaitu, sabar, menepati janji, saling memaafkan, dan semangat belajar.

3.      Akhlak manusia terhadap lingkungan, dalam ayat 77 dijelaskan bahwa anjuran manusia untuk peduli terhadap lingkungan sekitarnya, terutama yang menyangkut kepentingan bersama dan menjaganya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. 

 Oleh: Nurul Hanina (Mahasiswi STAI AL-ANWAR SARANG)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar