TUHAN MENGATUR ALAM RAYA: Tafsir Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen MA. Surat al-Baqarah ayat 258-259.


 

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْ حَاۤجَّ اِبْرٰهمَ فِيْ رَبِّه اَنْ اٰتٰىهُ اللّٰهُ الْمُلْكَ ۘ اِذْ قَالَ اِبْرٰهمُ رَبِّيَ الَّذِيْ يُحْٖ وَيُمِيْتۙ قَالَ اَنَاۤ اُحْٖ وَاُمِيْتُ ۗ قَالَ اِبْرٰهمُ فَاِنَّ اللّٰهَ يَأْتِيْ بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِيْ كَفَرَ ۗوَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَۚ(٢٨٤) اَوْ كَالَّذِيْ مَرَّ عَلٰى قَرْيَةٍ وَّهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَاۚ قَالَ اَنّٰى يُحْي هٰذِهِ اللّٰهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ فَاَمَاتَهُ اللّٰهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَه ۗ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۗ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍۗ قَالَ بَلْ لَّبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ اِلٰى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۚ وَانْظُرْ اِلٰى حِمَارِكَۗ وَلِنَجْعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَانْظُرْ اِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوْهَا لَحْمًا ۗ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَه ۙ قَالَ اَعْلَمُ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ(٢٥٩)

258. Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya karena Allah telah menganugerahkan kepadanya (orang itu) kerajaan (kekuasaan), (yakni) ketika Ibrahim berkata, “Tuhankulah yang menghidupkan dan mematikan.” (Orang itu) berkata, “Aku (pun) dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata, “Kalau begitu, sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur. Maka, terbitkanlah ia dari barat.” Akhirnya, bingunglah orang yang kufur itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.

259. Atau, seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh menutupi (reruntuhan) atap-atapnya. Dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah kehancurannya?” Lalu, Allah mematikannya selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (kembali). Dia (Allah) bertanya, “Berapa lama engkau tinggal (di sini)?” Dia menjawab, “Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.” Allah berfirman, “Sebenarnya engkau telah tinggal selama seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, (tetapi) lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang-belulang) dan Kami akan menjadikanmu sebagai tanda (kekuasaan Kami) bagi manusia. Lihatlah tulang-belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging (sehingga hidup kembali).” Maka, ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, “Aku mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

            Pada ayat ini Nabi Ibrahim Alayhi al-Salām ingin menyampaikan kepada seorang raja, “Bahwa yang dinamakan Tuhan yang patut untuk disembah itu adalah yang menciptakan alam raya ini, dan yang menciptakan sistem yang ada di alam raya”. Salah satu sistem yang ada di alam raya ini adalah proses dimana matahari terbit (tampak) dari arah timur menuju ke barat atau terbenam di arah barat, itu merupakan ceritanya Allah. Kemudian, Nabi Ibrahim menantang raja tersebut dengan mengatakan “Sekarang kalau kamu memang mengaku Tuhan yang katanya tadi اُحْيٖ وَاُمِيْتُ maka kamu tentu harus mendatangkan (menerbitkan) matahari dari arah Barat. Cerita ini merupakan dalil-dalil yang sangat dasar dalam ilmu tauhid. Apa yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim Alayhi al-Salām itu merupakan dalil-dalil yang dasa-dasar tentang ketuhanan alam raya.

Dari cerita di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa yang patut untuk menjadi Tuhan adalah yang menciptakan alam raya ini. Selain itu yang patut untuk menjadi Tuhan yaitu yang mengatur matahari. Siapa yang mengatur alam raya ini dialah yang patut untuk dijadikan Tuhan. Kalau memang berhala-berhala itu mau dianggap sebagai Tuhan, maka berhala-berhala itu harus bisa mengatur alam raya ini, itu merupakan dalil-dalil yang dasar sekali. Makanya فَبُهِتَ الَّذِيْ كَفَرَ orang yang diajak bicara Nabi Ibrahim Alayhi al-Salām ini kemudian terkejud, dan tidak bisa menjawab. Alasan kenapa orang yang diajak Nabi Ibrahim Alayhi al-Salām terkejud adalah karena itu tadi اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْلِيَاۤؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِۗ  maksudnya yaitu dia tidak bisa berpegangan terhadap sesuatu yang kokoh (pegangannya itu lemah sekali), ada Tuhan kok berupa berhala. Maka dari itu, seharusnya umat Islam itu hidupnya tenang, sekarang teologinya ini sudah pas, membawa ketenangan, yakin benar, tapi tidak tau kenapa umat Islam ini kelihatan tidak bisa berkutik di dunia ini.

Kalau cerita di atas itu cerita tentang Nabi Ibrahim Alayhi al-Salām, kemudian cerita tentang ketuhanan yang sah untuk dianggap sebagai Tuhan, yaitu yang memenuhi dua persyaratan berikut: Pertama, الَّذِيْ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۙ yang memberikan kehidupan dan yang menjadikan kematian. Yang dianggap sebagai Tuhan adalah yang punya hak atas itu semua. Kedua, yang mengatur alam raya ini, kalau tidak bisa mengatur alam raya ini maka kalian jangan menyebutnya sebagai Tuhan, siapa pun dia. Semisal Nabi Isa Alayhi al-Salām, bisa tidak beliau mengatur alam raya ini? Pasti jawabannya adalah tidak bisa. Maka Nabi Isa Alayhi al-Salām jangan disebut sebagai Tuhan. Itu merupakan konsepnya Nabi Ibrahim Nabi Isa Alayhi al-Salām.

            Contoh yang kedua yang menunjukkan umat Islam itu akidahnya luar biasa. Orang Islam itu berpegangan dengan al-Urwah al-Wushqā,  tidak gampang goyah secara akidah. Cerita yang kedua ini tidak lagi cerita tentang Tuhan. Namun demikian, tentunya cerita yang kedua ini tentang Tuhan tapi lebih dititik beratkan kepada “Bahwa suatu saat nanti kita itu akan dibangunkan kembali”. Tuhan yang menciptakan kita ini tidaklah tuhan yang menciptakan kita secara sia-sia, pasti ada balasannya. Kita harus percaya bahwa kita nanti akan di hidupkan kembali setelah kematian. Apakah kuasa Tuhan melakukan hal itu? Kemudian di contohkan ayat ini  اَنّٰى يُحْيٖ هٰذِهِ اللّٰهُ بَعْدَ مَوْتِهَا maksudnya yaitu kota ini telah mati orang-orangnya banyak yang dibunuh. Menurut penafsiran ini ceritanya adalah cerita Nabi Uzair yang memasuki kota Palestina. Palestina sudah dirobohkan oleh raja Persia. Kota ini sudah mati, bagaimana bisa kota yang sudah mati hidup kembali, hal itu menunjukkan betapa kuasanya Allah. Kota yang mati begini sudah pada dikubur, tiba-tiba nanti akan hidup kembali.

Kemudian Nabi Uzair berkata: “Saya diam (tidak bergerak) paling sehari atau setengah hari (ucapannya agak ragu). Saya tidur di waktu pagi saya bangun di sore hari. Tapi sore harinya itu sudah bertahun-tahun berikutnya. Bukan pagi hari ini lalu bangun di sore hari yang sama. Trompet sangkakala juga begitu, ketika Malaikat Israfil membunyikan (meniup) trompet sangkakala pertama kali, semuanya mati, tidak ada kehidupan. Setelah itu trompet sangkakala itu ditiup kembali, jarak peniupan trompet sangkakala pertama dan peniupan sangkakala kedua itu lama. Akan tetapi setelah bangun rasanya sebentar saja (يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ). Yang dimaksud di sini bukanlah kematian yang sekarang. Akan tetapi, kematian ketika ditiupnya trompet sangkakala pertama yang menyebabkan semuanya mati. Mati benar-benar mati dan tidak merasakan apa-apa, tiba-tiba mati. Kemudian trompet sangkakala itu ditiup kembali. Ketika trompet sangkakala  itu kembali ditiup, maka kembali hidup. Jarak antara satu peniupan trompet sangkakala pertama dengan peniupan trompet sangkakala yang berikutnya ini mungkin berjarak sangat jauh. Karena gambaran ini itu adalah gambaran tentang al-baats. Sorenya itu dikira sore dihari yang sama padahal itu bukan sore di hari yang sama, jaraknya itu seribu tahun.



Penulis    : Burhanuddin

Editor      : Devisi Publikasi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar