اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْ حَاۤجَّ اِبْرٰهمَ فِيْ رَبِّه
اَنْ اٰتٰىهُ
اللّٰهُ الْمُلْكَ ۘ اِذْ قَالَ
اِبْرٰهمُ رَبِّيَ
الَّذِيْ يُحْٖ وَيُمِيْتۙ قَالَ اَنَاۤ
اُحْٖ وَاُمِيْتُ ۗ
قَالَ اِبْرٰهمُ فَاِنَّ اللّٰهَ يَأْتِيْ بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ
الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِيْ كَفَرَ ۗوَاللّٰهُ لَا
يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَۚ(٢٨٤)
اَوْ كَالَّذِيْ مَرَّ عَلٰى قَرْيَةٍ وَّهِيَ خَاوِيَةٌ
عَلٰى عُرُوْشِهَاۚ قَالَ اَنّٰى
يُحْي هٰذِهِ
اللّٰهُ بَعْدَ
مَوْتِهَا ۚ
فَاَمَاتَهُ اللّٰهُ
مِائَةَ عَامٍ
ثُمَّ بَعَثَه
ۗ قَالَ
كَمْ لَبِثْتَ ۗ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا اَوْ بَعْضَ
يَوْمٍۗ قَالَ بَلْ
لَّبِثْتَ مِائَةَ
عَامٍ فَانْظُرْ اِلٰى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۚ
وَانْظُرْ اِلٰى
حِمَارِكَۗ وَلِنَجْعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَانْظُرْ اِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ
نَكْسُوْهَا لَحْمًا
ۗ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَه ۙ
قَالَ اَعْلَمُ اَنَّ اللّٰهَ
عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ(٢٥٩)
258. Tidakkah
kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya karena Allah
telah menganugerahkan kepadanya (orang itu) kerajaan (kekuasaan), (yakni)
ketika Ibrahim berkata, “Tuhankulah yang menghidupkan dan mematikan.” (Orang
itu) berkata, “Aku (pun) dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata,
“Kalau begitu, sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur. Maka,
terbitkanlah ia dari barat.” Akhirnya, bingunglah orang yang kufur itu. Allah
tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.
259. Atau, seperti orang yang melewati suatu negeri yang
(bangunan-bangunannya) telah roboh menutupi (reruntuhan) atap-atapnya. Dia
berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah
kehancurannya?” Lalu, Allah mematikannya selama seratus tahun, kemudian
membangkitkannya (kembali). Dia (Allah) bertanya, “Berapa lama engkau tinggal
(di sini)?” Dia menjawab, “Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.”
Allah berfirman, “Sebenarnya engkau telah tinggal selama seratus tahun.
Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, (tetapi) lihatlah keledaimu
(yang telah menjadi tulang-belulang) dan Kami akan menjadikanmu sebagai tanda
(kekuasaan Kami) bagi manusia. Lihatlah tulang-belulang (keledai itu),
bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging
(sehingga hidup kembali).” Maka, ketika telah nyata baginya, dia pun berkata,
“Aku mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Pada ayat ini Nabi Ibrahim Alayhi al-Salām ingin
menyampaikan kepada seorang raja, “Bahwa yang dinamakan Tuhan yang patut untuk
disembah itu adalah yang menciptakan alam raya ini, dan yang menciptakan sistem
yang ada di alam raya”. Salah satu sistem yang ada di alam raya ini adalah
proses dimana matahari terbit (tampak) dari arah timur menuju ke barat atau terbenam di arah barat, itu merupakan ceritanya Allah.
Kemudian, Nabi Ibrahim menantang raja tersebut dengan mengatakan “Sekarang
kalau kamu memang mengaku Tuhan yang katanya tadi اُحْيٖ وَاُمِيْتُ maka kamu tentu harus mendatangkan (menerbitkan) matahari dari arah
Barat. Cerita ini merupakan dalil-dalil yang sangat dasar dalam ilmu tauhid. Apa
yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim Alayhi al-Salām itu merupakan dalil-dalil
yang dasa-dasar tentang ketuhanan alam raya.
Dari cerita di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa yang
patut untuk menjadi Tuhan adalah yang menciptakan alam raya ini. Selain itu yang
patut untuk menjadi Tuhan yaitu yang mengatur matahari. Siapa yang mengatur
alam raya ini dialah yang patut untuk dijadikan Tuhan. Kalau memang berhala-berhala
itu mau dianggap sebagai Tuhan, maka berhala-berhala itu harus bisa mengatur
alam raya ini, itu merupakan dalil-dalil yang dasar sekali. Makanya فَبُهِتَ الَّذِيْ كَفَرَ orang yang diajak bicara
Nabi Ibrahim Alayhi al-Salām ini kemudian terkejud, dan tidak bisa
menjawab. Alasan kenapa orang yang diajak Nabi Ibrahim Alayhi al-Salām terkejud
adalah karena itu tadi اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا
يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا
اَوْلِيَاۤؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى
الظُّلُمٰتِۗ maksudnya yaitu dia tidak
bisa berpegangan terhadap sesuatu yang kokoh (pegangannya itu lemah sekali),
ada Tuhan kok berupa berhala. Maka dari itu, seharusnya umat Islam itu hidupnya
tenang, sekarang teologinya ini sudah pas, membawa ketenangan, yakin benar,
tapi tidak tau kenapa umat Islam ini kelihatan tidak bisa berkutik di dunia
ini.
Kalau cerita di atas itu cerita tentang Nabi Ibrahim Alayhi
al-Salām, kemudian cerita tentang ketuhanan yang sah untuk dianggap sebagai
Tuhan, yaitu yang memenuhi dua persyaratan berikut: Pertama, الَّذِيْ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۙ yang memberikan
kehidupan dan yang menjadikan kematian. Yang dianggap sebagai Tuhan adalah yang
punya hak atas itu semua. Kedua, yang mengatur alam raya ini, kalau
tidak bisa mengatur alam raya ini maka kalian jangan menyebutnya sebagai Tuhan, siapa pun dia. Semisal Nabi Isa Alayhi al-Salām, bisa tidak beliau
mengatur alam raya ini? Pasti jawabannya adalah tidak bisa. Maka Nabi Isa Alayhi
al-Salām jangan disebut sebagai Tuhan. Itu merupakan konsepnya Nabi Ibrahim
Nabi Isa Alayhi al-Salām.
Contoh yang kedua yang menunjukkan
umat Islam itu akidahnya luar biasa. Orang Islam itu
berpegangan dengan al-Urwah al-Wushqā,
tidak gampang goyah secara akidah. Cerita yang kedua ini tidak lagi
cerita tentang Tuhan. Namun demikian, tentunya cerita yang kedua ini tentang Tuhan
tapi lebih dititik beratkan kepada “Bahwa suatu saat nanti kita itu akan
dibangunkan kembali”. Tuhan yang menciptakan kita ini tidaklah tuhan yang
menciptakan kita secara sia-sia, pasti ada balasannya. Kita harus percaya bahwa
kita nanti akan di hidupkan kembali setelah kematian. Apakah kuasa Tuhan
melakukan hal itu? Kemudian di contohkan ayat ini اَنّٰى يُحْيٖ هٰذِهِ اللّٰهُ بَعْدَ مَوْتِهَا maksudnya yaitu
kota ini telah mati orang-orangnya banyak yang dibunuh. Menurut penafsiran ini
ceritanya adalah cerita Nabi Uzair yang memasuki kota Palestina. Palestina
sudah dirobohkan oleh raja Persia. Kota ini sudah mati, bagaimana bisa kota
yang sudah mati hidup kembali, hal itu menunjukkan betapa kuasanya Allah. Kota
yang mati begini sudah pada dikubur, tiba-tiba nanti akan hidup kembali.
Kemudian Nabi Uzair berkata: “Saya diam (tidak bergerak) paling
sehari atau setengah hari (ucapannya agak ragu). Saya tidur di waktu pagi saya
bangun di sore hari. Tapi sore harinya itu sudah bertahun-tahun berikutnya.
Bukan pagi hari ini lalu bangun di sore hari yang sama. Trompet sangkakala juga begitu, ketika Malaikat Israfil membunyikan (meniup)
trompet sangkakala pertama kali, semuanya mati, tidak ada kehidupan. Setelah
itu trompet sangkakala itu ditiup kembali, jarak peniupan trompet sangkakala
pertama dan peniupan sangkakala kedua itu lama. Akan tetapi setelah bangun
rasanya sebentar saja (يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ). Yang dimaksud di sini bukanlah
kematian yang sekarang. Akan tetapi, kematian ketika ditiupnya trompet sangkakala
pertama yang menyebabkan semuanya mati. Mati benar-benar mati dan tidak
merasakan apa-apa, tiba-tiba mati. Kemudian trompet sangkakala itu ditiup kembali.
Ketika trompet sangkakala itu kembali
ditiup, maka kembali hidup. Jarak antara satu peniupan trompet sangkakala
pertama dengan peniupan trompet sangkakala yang berikutnya ini mungkin berjarak
sangat jauh. Karena gambaran ini itu adalah gambaran tentang al-baats. Sorenya
itu dikira sore dihari yang sama padahal itu bukan sore di hari yang sama,
jaraknya itu seribu tahun.
Penulis : Burhanuddin
Editor : Devisi Publikasi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar