Iʿtikāf dan Qiyāmu Ramaḍān di Era Modern: Antara Spiritualitas dan Formalitas Ibadah

 


https://id.pinterest.com/pin/888898045205262492/

Nabi Muhammad Ṣalla Allāh ‘Alayhi Wa Sallam merupakan teladan utama dalam kehidupan umat Islam. Setiap ucapan (qaul), perbuatan (fi’l), dan persetujuannya (taqrīr) menjadi sumber hukum kedua setelah al-Qur’an. Sunnah Nabi berfungsi sebagai penjelas, perinci, sekaligus penguat terhadap ajaran yang terdapat dalam al-Qur`an. Oleh karena itu, segala bentuk ibadah yang dicontohkan oleh Nabi memiliki kedudukan penting dalam syariat Islam.

Salah satu momentum ibadah yang memiliki banyak keutamaan adalah bulan Ramadan. Ramadan merupakan bulan ke-9 dalam kalender Hijriah yang diwajibkan bagi umat Islam untuk melaksanakan puasa. Puasa tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai sarana pembinaan spiritual, pengendalian diri, serta peningkatan ketakwaan kepada Allah. Selain puasa, terdapat ibadah-ibadah sunnah yang sangat dianjurkan pada bulan ini, diantaranya i’tikāf dan qiyāmu Ramaḍān.

Baca juga: Fenomena “Marriage is Scary” di Kalangan Gen Z Perspektif Sosial dan Keagamaan

Hadis Mengenai I’tikāf dan Qiyāmu Ramaḍān

Setiap hukum syari’at yang ditetapkan bagi umat Islam merupakan ketentuan yang telah dilegitimasi sejak zaman Nabi bersama sahabat. Hadis merupakan sumber hukum kedua yang menjelaskan dan merinci ajaran al-Qur`an. Diantara hadis yang menjelaskan keutamaan i’tikāf, ʿĀʾisyah Raḍiyallāhu ʿanhā meriwayatkan:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ الله ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ.[1]

Dari ‘Aisyah Raḍiyallāhu’anhā berkata bahwasanya Nabi Muhammad Ṣalla Allāh ‘Alayhi Wa Sallam selalu ber’itikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan hingga akhir hayatnya, kemudian setelah itu para istrinya ber-i’tikāf.

Hadis tersebut menjadi dasar bahwa hukum i’tikāf adalah sunnah muakkad, khususnya pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.[2]

 

Adapun hadis mengenai keutamaan qiyāmu ramaḍān yaitu sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.[3]

Abdullah bin Yusuf: Malik meriwayatkan dari Ibnu Syihab melalui jalur Ḥumayd ibn ʿAbd al-Raḥmān, dari Abu Hurairah: Rasulullah Ṣalla Allāh ‘Alayhi Wa Sallam bersabda: Barang siapa mendirikan (salat malam) pada bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Hadis tersebut menunjukkan besarnya keutamaaan menghidupkan malam-malam Ramadan dengan ibadah, seperi salat tarawih, zikir, dan doa.[4] Ungkapan īmānan waḥtisāban menegaskan bahwa pelaksanaan ibadah harus didasari keimanan yang kuat serta keikhlasan dalam mengharap pahala dari Allah.[5]

Selain itu, terdapat hadis dari ʿĀʾisyah Raḍiyallāhu ʿanhā yang menyatakan:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ العَشْرُ أَيْ العَشْرُ الأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ شَدَّ مِنْزَرَهُ  وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ.[6]

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu’anha berkata bahwa: “Rasulullah Salallahu’alaihi Wa Salam ketika sudah memasuki sepuluh hari di akhir bulan Ramadhan beliau lebih meningkatkan ibadahnya daripada seperti biasanya, berkorban tidak tidur pada malam tersebut untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan juga membangunkan keluarganya untuk mengajak beribadah.

Hadis ini menunjukkan kesungguhan Nabi dalam meningkatkan ibadah pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Pada waktu tersebut terdapat Lailat al-Qadr, malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Menghidupkan malam Lailat al-Qadr dilakukan dengan memperbanyak salat, zikir, doa, serta amal kebaikan lainnya.[7]

Baca juga: Pelukis Alam Semesta Pada Surah Al-Mulk Ayat 1-3 (pengaosan tafsir Jalalain oleh Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen, M.A)

Fikih Tentang I’tikāf

            Hakikat i‘tikāf adalah pengabdian hati yang sepenuhnya diarahkan kepada Allah serta menjauhkan diri dari segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan-Nya. I‘tikāf tidak hanya sah dilakukan dalam keadaan berpuasa, tetapi juga tetap sah meskipun tanpa puasa. Namun demikian, pelaksanaan i‘tikāf pada bulan Ramadan tentu lebih utama karena bertepatan dengan puasa.[8]         Mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum i‘tikāf adalah sunnah, terutama pada sepuluh hari bulan terakhir Ramadan.[9]

            Syarat sah i‘tikāf diantaranya yaitu beragama Islam, berniat, dilaksanakan di dalam masjid.[10] Orang yang beri‘tikāf hendaknya tidak keluar dari masjid kecuali untuk kebutuhan mendesak, serta menjauhi hal-hal yang bertentangan dengan tujuan i‘tikāf, seperti melakukan hubungan suami istri atau aktivitas lain yang menghilangkan kekhusyukan. Adapun keutamaan i‘tikāf diantaranya yaitu mendekatkan diri kepada Allah dan dapat menenangkan pikiran dari beban dunia yang dipikul.[11]

Fikih Tentang Qiyāmu Ramaḍān

Qiyāmu Ramaḍān adalah menghidupkan malam-malam Ramadan dengan ibadah, terutama salat tarawih. Salat tarawih termasuk salat sunnah yang dilaksanakan setelah salat ‘Isyā’ hingga menjelang Subuh.[12] Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah rakaatnya, sebagian ulama berpendapat 20 rakaat, sedangkan sebagian lainnya berpendapat 8 rakaat. Perbedaan tersebut menunjukkan adanya kelonggaran dalam pelaksanaannya. Adapun keutamaan Qiyāmu Ramaḍān sangat besar, sebagaimana ditegaskan dalam hadis tentang ampunan dosa bagi orang yang melaksanakannya dengan iman dan mengharap pahala. Ibadah ini menjadi sarana peningkatan ketakwaan dan bentuk penghambaan yang mendalam kepada Allah.[13]

Iʿtikāf dan Qiyāmu Ramaḍān merupakan dua ibadah sunnah yang memiliki kedudukan penting dalam bulan suci Ramadan. Iʿtikāf dilakukan dengan berdiam diri di dalam masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah, terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Sementara itu, Qiyāmu Ramaḍān diwujudkan melalui salat tarawih serta berbagai ibadah malam lainnya. Kedua ibadah tersebut dapat dilaksanakan secara bersamaan dalam rangka meraih keutamaan Lailat al-Qadr. Pelaksanaan yang dilandasi keimanan dan keikhlasan diharapkan dapat mendatangkan ampunan dosa serta meningkatkan kualitas spiritual seorang Muslim.

Oleh: Muhammad Solahudin Addafaa



[1] Musa Syahin Lasyini, Fathul al-Mun’im Fī al-Syarhi Shohih Muslim, (t.tt: Dar as-Syurūq, 2002), 5: 69.

[2] Muhammad bin Ismail al-Amiru al-Yamani al-Shon’āni, Subulu as-Salam Fī  Syarhi bulūgh al-Marām, (Mesir: Dar-al-Hadist, 1997), 2: 593.

 

[3] Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari al-Ja’fī, Shohih al-Bukhari, (Damaskus: Dar al-Yamamah, 1993), 2: 707.

[4] Abu Hasan Nuruddin al-Mala al-Harwi al-Qari Ali bin Sultan Muhammad, Mirqotu al-Mafātih Fī al-Syarhu al-Mashobīh, (Bairut Lebanon: Dar al-Fikr, 2002), 3: 966.

[5] Ibid,. 4: 1360.

[6] Abu Abdullah Abdu al-Salam al-‘A (al-Mubarakfūri, 1984) (al-Māliki)lusyi Hasan Sulaiman an-Nuri ‘Alawiy Abbas al-Māliki, Ibānatu al-Ahkam Fī al-Syarhi bulūgh al-Marām, (Jakarta: Dar al-minah, t.th), 2: 579.

[7] Abu Hasan Ubaidillah bin Muhammad Abdu as-Salam bin Khan Muhammad bin Amanullah bin Hisāmuddin al-Ruhmāni al-Mubarakfūri, Mir’atu al-Mafatih Fī al-Syarhi al-Mashobih, (Hindia: Idaratu al-Buhūts al-Ilmiyyah, 1984), 7: 133.

[8] Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah at-Tawijri, Maushu’atu al-Fiqhu al-Islāmi, (t.tp: Baitu al-Afkar ad-Dauliyyah, 2009), 3: 201.

[9] Muhammad bin Ismail al-Amiru al-Yamani al-Shon’āni, Subulu as-Salam Fī  Syarhi bulūgh al-Marām, 593.

[10] Ibid., 3: 202.

[11] Ibid., 3: 165.

[12] Musthofa al-Bugho, Ali al-Syarbaji, Fiqhū al-Manhajī ‘Ala Madzhabu al-Imam al-Syafi’i, (Damaskus: Dar al-Qalam, 1992), 1: 237.

[13] Saīd bin Ali bin Wahfi al-Qahthoni, Qiyāmu al-Laili Wa Fadhlihi Wa Adābihi Wa al-Asbābi al-Ma’īnah’Alaihi Fī al-Dhoui al-Kitab Wa al-Sunnah, ( Riyād: Muthoba’atu as-Safīr, t.tt), 62.