تَبٰرَكَ
الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌۙ ١ ۨالَّذِيْ
خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ
الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ ٢ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًاۗ مَا تَرٰى
فِيْ خَلْقِ الرَّحْمٰنِ مِنْ تَفٰوُتٍۗ فَارْجِعِ الْبَصَرَۙ هَلْ تَرٰى مِنْ
فُطُوْرٍ٣
1.Maha Berkah Zat yang menguasai (segala) kerajaan dan
Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, 2.
yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa
di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. 3. (Dia juga) yang menciptakan tujuh langit
berlapis-lapis. Kamu tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih ketidakseimbangan
sedikit pun. Maka, lihatlah sekali lagi! Adakah kamu melihat suatu cela?[1]
Mufradat Ayat
Asal kata dari Tabāraka ialah Bāraka
yang bermakna kebaikan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā, Ṣalla Allāh ‘Alaihy wa
Sallam yang tidak terbatas, kebaikan yang berlipat-lipat dan kebaikan yang tidak ada akhirnya, kita
tidak boleh mempunyai presepsi bahwa
Allah Subḥānahu wa Ta’ālā, Ṣalla Allāh ‘Alaihy wa Sallam kebaikannya
seperti manusia yang terbatas. Makna dari kata
al- Mulk ialahh kekuasaan, yang berbeda dengan kata al-Milk
yang bermakna kepemilikan, kekuasaan lebih tinggi dibandingkan kepemilikan. Al-Ḥayāta
ialah keadaan yang bisa kita rasakan, sedangkan makna dari kata al-Mawta dalam
hal ini terdapat dua pendapat.
pendapat pertama, al-Mawta bermakna antonim dari Al-Ḥayāta,
berarti keadaan yang tidak bisa kita rasakan. Kedua, al-Mawta bermakna tidak
adanya kehidupan. Kata Al-‘Azīz bermakna Lā Yaghlibuhu Shay`un “tidak ada yang bisa mengalahkannya”. Tafāwut
ialah ciptaan Allah itu tidak berbeda-beda dan serasi.
Disamping itu , Kalimat Tabāraka alladhi bi
yadihi al-Mulk merupakan Kalam Khabar yang bermakna al-Tsan’
(sanjungan) dan dari kacamata Ilmu Nahwu kata “Ba” dalam ayat ini pada kalimat
Biyadihi bermakna “Fī” , maka makna dari lafadz ini ialah “dalam
kekuasaan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā, Ṣalla Allāh ‘Alaihy wa Sallam.
Kandungan Ayat
Ayat ini diturunkan di Makkah, disana saat itu banyak orang yang menyekutukan Allah Subḥānahu
wa Ta’ālā, maka dalam ayat ini Allah Subḥānahu wa Ta’ālā
disifati dengan maha baik yang kebaikannya tidak ada batasnya, Kebaikan Allah tidak boleh disamakan dengan
kebaikan makhluknya begitu pula kekuasaan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā. Hal
ini disebabkan karena kekuasaan makhluk bersifat semu, seperti halnya kerajaan
Majapahit yang mempunyai Raja bernama Brawijaya yang kekuasaannya tidak
menyeluruh dan ada batas waktunya, Buktinya kerjaan ini bisa dikalahkan oleh
kerajaan Demak. Contoh lainnya yakni Fir’aun yang merupakan penguasa Mesir,
akan tetapi dia tidak bisa menguasai semuanya, padahal makna kekuasaan ialah
kekuasaan yang tidak ada batasnya.
Disamping pembahasan tersebut, kata kunci dari
ayat ini ialah Tabāraka alladhi bi yadihi al-Mulk karena dalam ayat ini
penyebutan terhadap Allah Subḥānahu wa Ta’ālā sesuai dengan kepentingannya seperti halnya
penyebutan terhadap Abdul Ghofur, itu bermakna
saya, bisa juga disebut bapaknya Nabil, Suaminya Ibu Nadia dan pengasuh PP. Al-Anwar 3. Penyebutan kepada
Allah bisa dengan Tabāraka alladhi bi
yadihi al-Mulk dan bisa juga dengan Tabāraka alladhi bi yadihi al-Raḥmān,
dalam konteks ini penyebutan kepada Allah dengan Tabāraka alladhi bi yadihi
al-Mulk, yang menjelaskan bahwa seluruh
kerajaan yang ada di dunia dalam kekuasaan Allah. Jika Orang kafir paham dengan
ayat ini, maka mereka bisa membedakan
Allah dengan berhala-berhala seperti Latta, uzza dan berhala lainnya yang
jumlahnya 300-an lebih yang di tempelkan di dinding Kakbah. Semua berhala
tersebut tidak bisa disamakan dengan Allah, karena tidak mempunyai kekuasaan
apapun, yang mempunyai kekuasaan hanyalah Allah Subḥānahu wa Ta’ālā. Maka
dari itu, dalam ayat ini Allah Subḥānahu wa Ta’ālā disifati dengan Maha
Kuasa.
Allah Subḥānahu wa Ta’ālā maha kuasa dalam menciptakan kematian dan kehidupan
bagi manusia. Dengan mendahulukan kata kematian dari kata kehidupan, terdapat
dua pendapat dalam memaknai hal ini. Pendapat
pertama, bahwa Allah menciptakan kematian untuknya didunia dan akan
dihidupkan kembali di akhirat. Kedua, Allah menciptakan kematian dahulu
sebelum kehidupan manusia di dunia, maksudnya ialah Allah menciptakan Mani
sebelum menjadi manusia. Mani dianggap sebagai sesuatu yang mati, karena makna
hidup ialah keadaan yang bisa kita rasakan, sedangkan mani ialah keadaan yang
tidak bisa kita rasakan dan akan dihidupkan kembali di akhirat.
Baca juga: Self Improvement dalam Menanggulangi Rasa Insecure di Kalangan Gen-Z
Menghidupkan manusia merupakan salah satu
kekuasaan terbesar Allah Subḥānahu wa Ta’ālā, karena orang bisa mencium, melihat, menulis,
menggambarkan orang makan, tidur dan manusia bisa melakukan apa pun di dunia, karena dia hidup. Jika manusia mati maka dia
tidak bisa melakukan apapun, karena mati ialah menuju kebinasaan. Allah Subḥānahu
wa Ta’ālā menciptakan manusia hidup bertujuan untuk diberi cobaan di dunia, orang bisa melakukan apa saja
seperti makan, minum, tidur, bangun tidur dan lain sebagainya, yang dia lakukan akan dipertanyakan oleh Allah
Subḥānahu wa Ta’ālā ketika ia mati.
Ketika Allah Subḥānahu wa Ta’ālā, Ṣalla Allāh ‘Alaihy wa Sallam menguji
manusia di bumi dan ia tidak bisa melewatinya maka tidak ada halangan bagi
Allah Subḥānahu wa Ta’ālā untuk
menyiksanya sedangkan jika manusia bisa melewati ujian tersebut, maka Allah Subḥānahu wa Ta’ālā maha pengampun atas kesalahan-kesalahan yang
dia lakukan, karena pasti manusia mempunyai kesalahan. Didunia juga kita bisa
melihat kekuasaan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā sangat nyata yang membuat kita takjub. Dari
bumi, kita bisa melihat bahwa di langit terdapat bulan, bintang, matahari, galaksi,
dan lain sebagainya yang bisa membuat kita terkagum akan ciptaan Allah Subḥānahu
wa Ta’ālā.
Ciptaan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā semuanya baik dan sempurna, tidak ada ciptaan
Allah Subḥānahu wa Ta’ālā yang tidak baik
ataupun tidak sempurna. Sedangkan manusia ketika membuat apapun tidak ada yang
sama, seperti halnya ketika seorang membuat makalah kemudian hasilnya baik dan
keesokan harinya dia membuat makalah lagi yang hasilnya tidak baik.
Penyunting: Nabil Fithran
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar