Pelukis Alam Semesta Pada Surah Al-Mulk Ayat 1-3 (pengaosan tafsir Jalalain oleh Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen, M.A)

 

تَبٰرَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌۙ ١ ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ ٢ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًاۗ مَا تَرٰى فِيْ خَلْقِ الرَّحْمٰنِ مِنْ تَفٰوُتٍۗ فَارْجِعِ الْبَصَرَۙ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُوْرٍ٣

1.Maha Berkah Zat yang menguasai (segala) kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, 2.  yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. 3.  (Dia juga) yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih ketidakseimbangan sedikit pun. Maka, lihatlah sekali lagi! Adakah kamu melihat suatu cela?[1]

 

Mufradat Ayat

Asal kata dari Tabāraka ialah Bāraka yang bermakna kebaikan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā, Ṣalla Allāh ‘Alaihy wa Sallam yang tidak terbatas, kebaikan yang berlipat-lipat  dan kebaikan yang tidak ada akhirnya, kita tidak boleh  mempunyai presepsi bahwa Allah Subḥānahu wa Ta’ālā, Ṣalla Allāh ‘Alaihy wa Sallam kebaikannya seperti manusia yang terbatas. Makna dari kata  ­al- Mulk ialahh kekuasaan, yang berbeda dengan kata al-Milk yang bermakna kepemilikan, kekuasaan lebih tinggi dibandingkan kepemilikan. Al-Ḥayāta ialah keadaan yang bisa kita rasakan, sedangkan makna dari kata al-Mawta dalam hal ini  terdapat dua pendapat. pendapat pertama, al-Mawta bermakna antonim dari Al-Ḥayāta, berarti keadaan yang tidak bisa kita rasakan. Kedua, al-Mawta bermakna tidak adanya kehidupan. Kata Al-‘Azīz bermakna Lā Yaghlibuhu Shay`un  “tidak ada yang bisa mengalahkannya”. Tafāwut ialah ciptaan Allah itu tidak berbeda-beda dan serasi.

Disamping itu , Kalimat Tabāraka alladhi bi yadihi al-Mulk merupakan Kalam Khabar yang bermakna al-Tsan’ (sanjungan) dan dari kacamata Ilmu Nahwu kata “Ba” dalam ayat ini pada kalimat Biyadihi bermakna “” , maka makna dari lafadz ini ialah “dalam kekuasaan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā, Ṣalla Allāh ‘Alaihy wa Sallam.

Kandungan Ayat

Ayat ini  diturunkan di Makkah, disana saat itu banyak orang yang menyekutukan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā,  maka  dalam ayat ini Allah Subḥānahu wa Ta’ālā disifati dengan maha baik yang kebaikannya tidak ada batasnya,  Kebaikan Allah tidak boleh disamakan dengan kebaikan makhluknya begitu pula kekuasaan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā. Hal ini disebabkan karena kekuasaan makhluk bersifat semu, seperti halnya kerajaan Majapahit yang mempunyai Raja bernama Brawijaya yang kekuasaannya tidak menyeluruh dan ada batas waktunya, Buktinya kerjaan ini bisa dikalahkan oleh kerajaan Demak. Contoh lainnya yakni Fir’aun yang merupakan penguasa Mesir, akan tetapi dia tidak bisa menguasai semuanya, padahal makna kekuasaan ialah kekuasaan yang tidak ada batasnya.

Disamping pembahasan tersebut, kata kunci dari ayat ini ialah Tabāraka alladhi bi yadihi al-Mulk karena dalam ayat ini penyebutan terhadap Allah Subḥānahu wa Ta’ālā  sesuai dengan kepentingannya seperti halnya penyebutan terhadap Abdul Ghofur,  itu bermakna saya, bisa juga disebut bapaknya Nabil, Suaminya Ibu Nadia dan  pengasuh PP. Al-Anwar 3. Penyebutan kepada Allah  bisa dengan Tabāraka alladhi bi yadihi al-Mulk dan bisa juga dengan Tabāraka alladhi bi yadihi al-Raḥmān, dalam konteks ini penyebutan kepada Allah dengan Tabāraka alladhi bi yadihi al-Mulk,  yang menjelaskan bahwa seluruh kerajaan yang ada di dunia dalam kekuasaan Allah. Jika Orang kafir paham dengan ayat ini,  maka mereka bisa membedakan Allah dengan berhala-berhala seperti Latta, uzza dan berhala lainnya yang jumlahnya 300-an lebih yang di tempelkan di dinding Kakbah. Semua berhala tersebut tidak bisa disamakan dengan Allah, karena tidak mempunyai kekuasaan apapun, yang mempunyai kekuasaan hanyalah Allah Subḥānahu wa Ta’ālā. Maka dari itu, dalam ayat ini Allah Subḥānahu wa Ta’ālā disifati dengan Maha Kuasa.

Allah Subḥānahu wa Ta’ālā  maha kuasa dalam menciptakan kematian dan kehidupan bagi manusia. Dengan mendahulukan kata kematian dari kata kehidupan, terdapat dua pendapat dalam memaknai hal ini.  Pendapat pertama, bahwa Allah menciptakan kematian untuknya didunia dan akan dihidupkan kembali di akhirat. Kedua, Allah menciptakan kematian dahulu sebelum kehidupan manusia di dunia, maksudnya ialah Allah menciptakan Mani sebelum menjadi manusia. Mani dianggap sebagai sesuatu yang mati, karena makna hidup ialah keadaan yang bisa kita rasakan, sedangkan mani ialah keadaan yang tidak bisa kita rasakan dan akan dihidupkan kembali di akhirat.

Baca juga: Self Improvement dalam Menanggulangi Rasa Insecure di Kalangan Gen-Z

Menghidupkan manusia merupakan salah satu kekuasaan terbesar Allah Subḥānahu wa Ta’ālā,  karena orang bisa mencium, melihat, menulis, menggambarkan orang makan, tidur dan manusia bisa melakukan apa pun di dunia,  karena dia hidup. Jika manusia mati maka dia tidak bisa melakukan apapun, karena mati ialah menuju kebinasaan. Allah Subḥānahu wa Ta’ālā menciptakan manusia hidup  bertujuan untuk diberi cobaan  di dunia, orang bisa melakukan apa saja seperti makan, minum, tidur, bangun tidur dan lain sebagainya,  yang dia lakukan akan dipertanyakan oleh Allah Subḥānahu wa Ta’ālā  ketika ia mati. Ketika Allah Subḥānahu wa Ta’ālā, Ṣalla Allāh ‘Alaihy wa Sallam menguji manusia di bumi dan ia tidak bisa melewatinya maka tidak ada halangan bagi Allah Subḥānahu wa Ta’ālā  untuk menyiksanya sedangkan jika manusia bisa melewati ujian tersebut,  maka Allah Subḥānahu wa Ta’ālā  maha pengampun atas kesalahan-kesalahan yang dia lakukan, karena pasti manusia mempunyai kesalahan. Didunia juga kita bisa melihat kekuasaan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā  sangat nyata yang membuat kita takjub. Dari bumi, kita bisa melihat bahwa di langit terdapat bulan, bintang, matahari, galaksi, dan lain sebagainya yang bisa membuat kita terkagum akan ciptaan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā.

Ciptaan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā  semuanya baik dan sempurna, tidak ada ciptaan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā yang tidak baik ataupun tidak sempurna. Sedangkan manusia ketika membuat apapun tidak ada yang sama, seperti halnya ketika seorang membuat makalah kemudian hasilnya baik dan keesokan harinya dia membuat makalah lagi yang hasilnya tidak baik.

 

Penyunting: Nabil Fithran



[1] Al-Qur’ān, al-Mulk [67]: 1-3.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar