Dalam khazanah penafsiran al-Qur`an di Nusantara, Bisri Mustofa
dikenal luas melalui karya monumentalnya, yaitu Tafsir al-Ibrīz. Di
tengah meredupnya penggunaan bahasa Jawa akibat arus kolonial, tafsir ini
muncul sebagai perlawanan kultural.[1]
Pada saat yang sama, tafsir ini sekaligus menjadi jembatan yang menghubungkan
al-Qur`an dengan budaya masyarakat.
Bisri Mustofa lahir pada
tahun 1915 di Kampung Sawahan, Rembang, Jawa Tengah, dengan nama asli Mashadi.
Ia merupakan putra dari H. Zainal Mustofa dan Hj. Chotijah, yang tumbuh dalam
lingkungan keluarga yang religius dan menghormati ulama. Sepulang menunaikan
ibadah haji bersama orang tuanya pada usia tujuh tahun, Mashadi kemudian
berganti nama menjadi Bisri Mustofa.[2]
Perjalanan intelektual Bisri Mustofa
Perjalanan
intelektual Bisri Mustofa dimulai dari Sekolah Ongko Loro, Rembang, dan sempat mencicipi pendidikan di Hollandsch
Inlandsche School (HIS), sebelum akhirnya keluar atas saran Kiai Kholil
Kasingan guna menghindari pengaruh pemikiran kolonial Belanda.[3] Dalam
pengembaraan di Pesantren Kasingan, ia sempat mengalami masa vakum sebelum
akhirnya berhasil menguasai berbagai kitab klasik seperti Alfiyyah ibn Mālik
hingga Jam'
al Jawāmi’. Dedikasinya
semakin terlihat melalui prinsip candak kulak (belajar sambil mengajar),
yang kemudian membawanya mendalami ilmu langsung dari para ulama besar di
Makkah.[4]
Kematangan
intelektualnya mencapai puncak ketika ia mendirikan Pesantren Raudhatut Țalibin
di Leteh sebagai respons atas situasi perang.[5]
Bahkan ketika menjalani masa tahanan rumah akibat fitnah pada awal
kemerdekaan,
kondisi tersebut justru menjadi titik balik produktivitasnya. Dalam
keterbatasan ruang gerak, ia mampu melahirkan karya-karya besar seperti
terjemahan berbagai kitab kuning dan naskah khotbah.
Masterpiece:
Tafsir al-Ibrīz li Ma’rifah Tafsīr al-Qur’ān al-Azīz.
Tafsir al-Ibrīz diselesaikan pada 29 Rajab 1379 H (28
Januari 1960 M) dan sejak itu menjadi salah satu tafsir yang populer di
lingkungan pesantren tradisional, khususnya di wilayah pesisir Jawa.[6]
Tafsir ini tidak hanya hadir sebagai karya keilmuan, tetapi juga sebagai representasi
kuat dari tradisi pesantren yang melatarbelakanginya. Penggunaan bahasa Jawa
dengan aksara Pegon serta sistem makna gandhul (terjemahan gantung)
menjadi ciri khas utama yang membedakannya dari tafsir lain, baik yang
berbahasa Indonesia maupun Arab. Penggunaan makna gandhul ini
tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu memahami makna ayat, tetapi juga
sekaligus menjadi sarana analisis gramatika bahasa Arab, terutama dalam
menunjukkan posisi i‘rāb
setiap kata.[7]
Secara metodologis, Tafsir al-Ibrīz disusun dengan metode taḥlīlī,
yakni menafsirkan ayat secara berurutan sesuai dengan mushaf. Namun dalam
praktiknya, tafsir ini tidak berdiri pada satu metode saja, melainkan memadukan
beberapa pendekatan seperti bi al-ma’tsūr, bi al-ra’yi, dan muqāran sesuai dengan kebutuhan ayat.[8]Hal
ini menunjukkan fleksibilitas metodologis sekaligus kehati-hatian Bisri Mustofa
dalam menafsirkan al-Qur`an, di mana ia tetap berpegang pada riwayat, namun
tidak menutup ruang ijtihad ketika diperlukan.
Dari segi penyajian, Tafsir al-Ibrīz tampil sederhana dan
sistematis. Ayat-ayat al-Qur`an dimaknai secara langsung dengan makna
gandhul, kemudian diberikan penjelasan tambahan di bagian pinggir. Pada
bagian tertentu, disisipkan keterangan seperti tanbīh, muhimmah, fā’idah,
dan qiṣṣah sebagai
penguat pemahaman.[9]
Kesederhanaan ini memang disengaja oleh penulis agar tafsir mudah dipahami,
terutama bagi kalangan santri pemula dan masyarakat umum. Bahkan, kiai Bisri
sendiri menyebut bahwa karyanya ini lebih merupakan “membahasajawakan” dan
menukil dari tafsir klasik seperti Jalālayn, al-Bayḍāwī,
dan al-Khāzin.
Selain itu, tafsir ini memiliki karakteristik unik dalam penggunaan
bahasa Jawa yang bertingkat. Pemilihan ragam bahasa tidak didasarkan pada
status sosial, melainkan pada tingkat kesalehan tokoh yang dibahas dalam ayat.
Tokoh mulia seperti nabi dan ulama menggunakan bahasa yang lebih halus,
sedangkan tokoh seperti orang kafir atau pendosa menggunakan bahasa yang lebih
kasar. Hal ini menunjukkan adanya nilai etika dan spiritual dalam penggunaan
bahasa, sekaligus memperlihatkan internalisasi nilai pesantren dalam tafsir
tersebut.
Karakter lain yang menonjol adalah kecenderungan teologisnya yang menolak
antropomorfisme (tajsīm) yaitu pandangan yang menggambarkan Tuhan
seolah-olah memiliki bentuk fisik dan sifat-sifat jasmani seperti manusia
misalnya memiliki tangan, wajah, atau bergerak dan datang secara fisik.[10]
Dalam tradisi teologi Islam, pandangan semacam ini dihindari karena berpotensi
menyamakan Tuhan dengan makhluk. Beliau lebih memilih pendekatan ta’wil
dibandingkan pemaknaan harfiah ketika berhadapan dengan ayat-ayat yang
berpotensi mengandung kesan antropomorfis.
Hal ini tampak jelas dalam penafsirannya
terhadap Surah al-Fajr ayat 22:
وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا[11]
Dan datanglah Tuhanmu, dan malaikat
berbaris-baris.
Alih-alih memahami frasa tersebut secara
literal, ia menafsirkannya sebagai “datangnya perintah atau firman Tuhan” (dawuhe
Pengeran). Bahkan dalam terjemahannya, kata رَبُّكَ (Tuhanmu)
tidak dimaknai secara langsung, tetapi dialihkan menjadi “perkara Tuhanmu” (perkarane
Pengeran ira). Penafsiran ini
menunjukkan upaya untuk menghindari kesan bahwa Tuhan datang secara fisik, yang
dapat menimbulkan gambaran antropomorfis. Hal ini menunjukkan orientasi ideologisnya yang
sejalan dengan tradisi Ahlussunnah yang menolak pemahaman literal terhadap
ayat-ayat yang berpotensi menyerupakan Tuhan dengan manusia.[12]
Baca Juga: Kebebasan Berekspresi tanpa Anarki: Prinsip Qur`ani dalam Aksi Massa
Corak Penafsiran kiai Bisri Mustofa dalam Tafsir al-Ibrīz
Corak penafsiran al-Ibrīz cenderung kombinasi antara
pendekatan fikih, sosial-kemasyarakatan, dan sufistik dalam bentuk yang
sederhana. Secara teologis, Bisri Mustofa menunjukkan kecenderungan rasional
dalam beberapa aspek, namun tetap setia pada doktrin tradisional-normatif
(aliran tradisional). Dibandingkan dengan tafsir modern seperti al-Manār,
al-Ibrīz memang tidak sekompleks dalam membahas isu sosial-politik,
namun jauh lebih membumi bagi masyarakat awam. Pemetaan
objek kajian dalam tafsir ini secara konsisten menyasar tiga hal utama:
pertama, persoalan hukum praktis (fikih) yang terkait erat dengan tradisi
pesantren; kedua, penguatan akidah melalui doktrin tradisional-normatif; dan
ketiga, bimbingan moral atau adab yang menyentuh realitas sosial mayarakat
Jawa.
Legitimasi tafsir ini semakin kuat setelah
mendapat tashih dari ulama al-Qur`an ternama asal Kudus seperti KH.
Arwani Amin dan mendapat izin cetak resmi dari Menteri Agama pada 1959. Dengan
format per juz (30 jilid), tafsir ini menjadi lebih sistematis dan mudah
diakses masyarakat luas.[13]
Melalui Tafsir al-Ibrīz, kiai Bisri Mustofa tidak hanya menyampaikan
ajaran al-Qur’an tetapi juga berperan dalam menjaga kelestarian bahasa
Jawa di tengah arus perubahan zaman. Ia menjadi contoh nyata bagaimana ulama
lokal mampu menghadirkan tafsir yang kontekstual, membumi, dan tetap berakar
pada tradisi Islam Nusantara.
[1]
Mustofa Bisri,
“In Memorian: KH. Bisri Mustofa”, Majalah Risalah NU Jawa Tengah, 2
(1979), 2.
[2] Achmad Zainal
Huda, Mutiara Pesantren Perjalanan, Khidmah KH. Bisyrī Mușțafa, (Yogyakarta:
PT. LKiS Pelangi Aksara, 2005), 10.
[3] Muhammad Ulul
Fahmi, Ulama Besar Indonesia: Biografi dan Karyanya (Kendal: Pustaka
Amanah, 2008), 39.
[4] Emilia
Rahmawati, “Geneologi Tafsir Al-Ibrīz Karya KH. Bisri Musthofa”, Jurnal
Ayatuna (Jurnal Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir), 1 (2024), 30.
[5] Achmad,
“Mutiara...”, 21.
[6] Abu Rokhmad,
“Telaah Karakteristik Tafsir Arab Pegon al-Ibriz”, Analisa, 18 (2011), 32.
[7]
Muhammad Asif, “Tafsir dan Tradisi Pesantren: Karakteristik Tafsir al-Ibrīz
Karya Bisri Mustofa”, Ṣuḥuf, 9 (2016), 252-256.
[8] Ibid., 249.
[9] Rokhmad,
“Telaah Karakteristik Tafsir Arab Pegon al-Ibriz”, 35.
[10] Asif,“Tafsir
dan Tradisi Pesantren”, 259.
[11] Al-Qur’an,
al-Fajr [89]: 22.
[12] Asif,“Tafsir
dan Tradisi Pesantren”, 259.
[13] Rokhmad,
“Telaah Karakteristik Tafsir Arab Pegon al-Ibriz”, 5.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar