Populernya kitab tafsir Mafātiḥ al-Ghayb pada
deretan kitab tafsir terlebih dalam penafsiran al-Qur`an yang bersumber dari al-ra`yi tidak lepas
dari kemampuan pengarangnya. Tentu perlu diketahui biografi dari pengarang
kitab tafsir Mafātiḥ al-Ghayb tersebut agar dapat menambah pengetahuan
tentang khazanah keilmuan tafsir. Nama lengkap pengarang kitab Mafātiḥ
al-Ghayb adalah Abū Abdillah Muḥammad bin Umar bin Ḥusain bin Ḥasan bin Alī
al-Tamīmī al-Ṭabaristānī al-Rāzī yang diberi nama laqab Fakhruddīn dan
yang terkenal dengan sebutan Ibnu al-Khatīb al-Syāfi’ī.[1] Selain
dengan nama-nama di atas ia juga sering dipanggil dengan panggilan Imam,
al-Rāzī, dan Syaikh al-Islam.[2] Pemberian
nama-nama di atas kepada al-Rāzī bukanlah tanpa sebab, akan tetapi nama-nama
tersebut diberikan kepada al-Rāzī karena al-Rāzī memang telah menguasai
beberapa bidang keilmuan, baik dalam bidang keagamaan maupun dalam bidang umum.[3]
Al-Rāzī lahir di kota yang bernama Ray yang
terletak di Iran pada tanggal 25 Ramadhan 544 H yang bertepatan pada tahun 1149
M. Umur Al-Rāzī adalah 62 tahun, al-Rāzī meninggal di daerah Herat pada tahun
606 H.[4] Diceritakan bahwa kematiannya disebabkan
oleh perselisihan hebat yang terjadi antara al-Razi dan kelompok al-Karamiyah
dalam urusan akidah. Kelompok tersebut mencelan al-Razi dan mengkafirkannya,
hingga akhirnya mereka meracuninya, yang menyebabkan kematiannya.[5] Satu hal yang penting untuk diketahui adalah
bahwa al-Rāzī merupakan keturunan dari Abū Bakar al-Ṣiddīq. Pada masanya al-Rāzī
merupakan sosok yang istimewa, al-Rāzī terkenal sebagai ulama yang sangat
berkopenten dalam berbagai keilmuan. Al-Rāzī juga menjadi rujukan dari banyak
orang dan para ulama lain, bahkan dari daerah yang jaraknya jauh. Diantara
keilmuan yang al-Rāzī kuasai dan yang menonjol adalah ilmu kalam, ilmu tafsir, ilmu
akidah, dan ilmu bahasa.
Menjadinya al-Rāzī sebagai seorang yang alim tidaklah lepas dari peran orang tua dan guru yang selalu mengajarinya dengan baik. Al-Rāzī lahir dari keluarga yang berpendidikan, ayahnya bernama Ḍiyā` al-Dīn Umar, yang dikenal dengan panggilan Khatīb al-Ray. Bersama ayahnya al-Rāzī belajar berbagai ilmu seperti ilmu uṣul al-fikh, ilmu fikih, tentunya keilmuan ini sudah jelas sanadnya.[6] Selain belajar kepada ayahnya al-Razi juga belajar kepada ulama-ulama besar pada masanya, seperti al-Kamāl al-Sam’ānī, al-Majid al-Jīlī, dan masih banyak lagi. Al-Rāzī juga merupakan ulama yang terkenal di masanya dengan ilmu pengetahuannya yang sangat luas.[7] Selain ketenarannya dalam ilmu pengetahuan, al-Razi juga terkenal sebagai seorang pendakwah, hingga dikatakan bahwa al-Razi dalam berdakwah tidak hanya menggunakan bahasa Arab saja akan tetapi juga menggunakan bahasa ‘ajam. Dikatakan juga bahwa al-Razi ketika berdakwah sangat terharu sehingga tidak dapat dipungkiri beliau ketika berdakwah sampai menangis.[8]
Baca Juga: Feminisme Asma Barlas
Karya-Karya al-Razi
Al-Razi meninggalkan sejumlah karya besar
dalam berbagai bidang, yang kemudian tersebar luas dan diterima dikalangan
masyarakat, bahkan kitab-kitab itu menjadi rujukan menggantikan kitab-kitab
terdahulu. Diantara karya fenomenalnya adalah tafsīr al-Kabīr yang
disebut dengan Mafātiḥ al-Ghayb, selain itu dalam bidang tafsir al-Razi
juga menulis tafsīr al-Fātiḥaḥ dalam satu jilid. Kemudian dalam ilmu
kalam al-Razi menulis kitab al-Maṭālib al-‘Āliyah, dan kitab al-Bayān
wa al-Burhān fī al-Rad ‘alā Ahl al-Zaygh wa al-Ṭughyān. Dalam bidang uṣūl
fiqh al-Razi menulis kitab al-Maḥṣūl. Dalam bidang filsafat al-Razi
menulis kitab al-Mukhliṣ, Syarh al-Isyārāt Ibnu Sina, Syarh ‘Uyūn al-Ḥikmah.
Dalam bidang ṭilmasāt al-Razi menulis kitab al-Sir al-Maknūn. Dikatakan
juga al-Razi menulis kitab Syarh al-Mufaṣal fī al-Naḥwi karya
Zamakhsyarī, Syarh al-Wajīz f al-Fiqh karya al-Ghazālī, selain itu masih
banyak karya-karya yang lain yang menunjukkan keluasan ilmunya.[9]
[1] Muhammad Ḥusayn al-Dhahabī, Tafsīr wa al-Mufassirūn, (Beirut:
Dār al-Ḥadīth, 2012), 1: 206.
[2] Fakhruddīn al-Rāzī, Mafātiḥ al-Ghayb, (Beirut: Dār al-Fikr, 1981),
1: 3.
[3] Firdaus, “Studi Kritis Tafsir Mafātiḥ al-Ghaib”, Jurnal al-Mubarak, 1
(2018), 53.
[4] Muhammad Ḥusayn al-Dhahabī, Tafsīr wa al-Mufassirūn, 1: 207.
[5] Ibid., 1: 207.
[6] Fakhruddīn al-Rāzī, Mafātiḥ al-Ghayb, 1: 4.
[7] Muhammad Ḥusayn al-Dhahabī, Tafsīr wa
al-Mufassirūn, 1: 207.
[8] Ibid., 1: 207.
[9] Muhammad Ḥusayn al-Dhahabī, Tafsīr wa al-Mufassirūn, 1: 207.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar