Surah al-Baqarah Ayat 21-24 (Ngaji Tafsir Jalalain Dr.KH.Abdul Ghofur Maimoen. MA)

 


يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَاۤءَ بِنَاۤءً ۖوَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا وَّاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ وَاِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ ۖ وَادْعُوْا شُهَدَاۤءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ اُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِيْنَ

Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa(21). (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui(22). Dan jika kamu meragukan (Alquran) yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar(23). Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir(24).

Setelah Allah menciptakan manusia, Allah tidak membiarkan manusia hidup begitu saja. Tetapi Allah juga mengatur kelangsungan hidup setiap hambanya, baik dari segi tempat tinggal, makanan, minuman, dan yang lainnya. Selain mengatur kehidupan manusia yang begitu rumit, Allah juga mengatur sumber daya yang sangat penting bagi manusia, salah satunya adalah airAllah menurunkan air dari langit dengan berbagai manfaat yang besar bagi makhluknya. Dari air itulah Allah menumbuhkan tanaman yang sebelumnya kering dan tandus. Semua itu Allah kehendaki demi kelangsungan hidup mahluknya, baik manusia, hewan, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Sistem Boikot Dalam Perspektif Al-Qur'an

Setelah Allah menjelaskan kebesarannya melalui rizki dari langit untuk menghidupi mahluknya. Maka, pada pertengahan ayat 22, Allah menggunakan lafal أندادا untuk menunjukan bahwa tidak ada satupun zat di alam semesta ini yang sepadan atau sebanding dengan-Nya. Allah menyampaikan hal itu kepada hamba-hambanya karena sebagian dari mereka telah menyetarakan Allah dengan zat lain. Sebagaimana perbuatan orang-orang kafir yang seolah-olah menyamakan tuhan mereka dengan zatnya Allah, padahal yang mereka sembah (orang-orang kafir) itu sama sekali tidak menciptakan mereka.

Setelah Allah menegaskan bahwa tidak ada yang sepadan dengan-Nya dalam ayat 22, pada ayat 23 Allah beralih menjelaskan tentang Nabi dan al-Qur’an. Maksud dari ayat tersebut adalah bahwa orang-orang yang menyembah selain Allah itu juga memiliki Nabi (panutan). Namun, Islam menetapkan standar kenabian berupa mu’jizat, yang membedakan para Nabi utusan Allah dengan orang-orang lainnya. Ayat 23 ini merupakan ayat yang turun pada masa awal Nabi berada di Madinah. Meskipun ayat tersebut turun di Madinah, khitab (pesan) pada ayat itu tidak terbatas hanya untuk penduduk Madinah saja. Sebab, secara balaghah orang-orang Madinah tidak sepandai orang-orang Makkah, sehingga khitab (pesan) ini mencakup seluruh umat manusia.

Kemudian pada penggalan ayat وَٱدْعُوا۟ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ  al-Qur’an secara tegas mengkritik keyakinan orang-orang kafir terhadap hal-hal yang mereka yakini sebagai pelindung mereka. Ayat ini mengungkapkan apa yang mereka anggap sebagai pelindung tidak mampu memberikan manfaat apapun untuk mereka. Kalimat setelahnya menjelaskan bahwa orang-orang kafir menuduh al-Qur’an sebagai hasil karya Nabi Muhammad. Mereka melontarkan berbagai tuduhan untuk menjatuhkan kemuliaan Nabi dan meragukan keaslian al-Qur’an. Padahal Allah telah menjadikan Nabi sebagai manusia yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis). Kemudian pada ayat selanjutnya, Allah menantang orang-orang kafir yang menuduh al-Qur’an sabagai karangan Nabi, Allah menegaskan tidak ada yang bisa menandngi al-Qur'ankarena selamanya al-Qur’an ini tidak ada yang bisa menandinginya dan al-Qur’an tersebut merupakan mukjizat yang nyata.

Ditulis oleh: Musyfik  

Mahasiswa Stai Al-Anwar Prodi IQT 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar