https://id.pinterest.com/pin/97108935731791462/
Muhammad adalah sosok yang cerdas, amanah,
jujur, dan pejuang yang tak pernah lelah. Bakat dan kecakapan bisnisnya
merupakan ilmu turunan dari kakeknya yang bernama Hāshim bin ‘Abd al-Manāf, tokoh pertama yang membuka jalur perdagangan bagi bangsa Quraisy dengan
sistem perjalanan dua kali setahun melalui jaringan mitra dan firma dagang. Selain itu,
Muhammad juga mendapat pembinaan langsung dari pamannya, Abu Ṭālib yang beprofesi
sebagai pedagang yang mahir dan berpengalaman. Sejak remaja, ia selalu
membimbing dan mengasah kemampuan berdagang Muhammad.
Dalam Tafsīr al-Munīr disebutkan bahwa bangsa
Quraisy melakukan perjalanan dagang ke wilayah selatan (Yaman) pada musim panas
dan ke wilayah Utara (Syiriah atau Syam) pada musim dingin.[1] Dalam
peta Arab kuno, kedua daerah tersebut dikenal sebagai Arab Felix dan Arab
Petrix. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. al-Quraisy ayat 1-2:
لِإِيْلَافِ
قُرَيْشٍ, إِيْلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ[2]
Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian
pada musim dingin dan musim panas.
Ayat ini menunjukkan bahwa aktivitas berdagang
merupakan kebiasaan yang telah dilakukan oleh orang-orang Quraisy sejak lama.
Tradisi tersebut juga diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke
generasi, termasuk kepada Muhammad yang sejak kecil telah mengikuti perjalanan
dagang bersama kakeknya.
Awal Mula Karir Muhammad
Setelah
ibunya wafat, Muhammad mengalami beberapa perpindahan pengasuhan. Pada awalnya
ia di asuh oleh kakeknya yakni ‘Abd al-Muṭṭalib. Setelah kakeknya wafat, pengasuhan beralih
kepada pamannya yakni Abu Ṭālib. Di bawah
asuhan Abu Ṭālib inilah Muhammad
mulai mengenal dunia perdagangan. Ia tidak hanya diajari dasar-dasar berdagang, tetapi juga diajak terjun
langsung dalam perjalanan dagang bersama kelompok kafilah besar, sehingga
kemampuan berniaganya semakin terasah sejak usia muda.
Dalam kitab al-Raḥīq al-Makhtūm dikisahkan
bahwa pada usia sekitar 12 tahun, Muhammad diajak oleh pamannya untuk berdagang
ke Syiriah bersama kelompok pedagang lainnya. Dalam perjalanan itu, kafilah
dagang mereka diterima oleh seorang pendeta bernama Bahira, seorang ahli kitab.
Bahira melihat tanda-tanda aneh pada diri Muhammad, seperti ada awan yang
menaunginya sepanjang perjalanan. Bahira kemudian mengetahui adanya tanda-tanda
kenabian pada anak kecil yang bersama Abu Thalib itu. Karena khawatir, Bahira
menyarankan agar perjalanan mereka
dihentikan dan Muhammad dipulangkan ke Makkah demi keselamatannya. Abu Thalib
pun kembali ke Makkah dan membatalkan perjalanan tersebut.[3]
Baca Juga: Peran Santri Dalam Menyikapi Kecerdasan Buatan Ai (Artificial Intelligence) Perspektif Al-Qur’an
Di
Makkah, Muhammad terus memperdalam pengetahuan tentang perdagangan. Ia tidak
mudah patah semangat dan tetap berusaha belajar secara mandiri. Muhammad
menyadari bahwa pamannya memiliki banyak tanggungan dan membutuhkan biaya besar
untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, Muhammad mulai menjalankan usaha
kecil-kecilan di sekitar kota Makkah. Pada saat itu Makkah merupakan pusat
perdagangan yang ramai dikunjungi oleh banyak orang dari berbagai daerah, baik
pedagang maupun musafir.
Muhammad berdagang dengan sistem kemitraan
atau bergabung dengan usaha orang lain atau mengelola modal dari usaha milik
orang yang tidak mampu menjalankan bisnisnya sendiri. Banyak pula orang yang
menitipkan barang dagangan kepada Muhammad untuk dijualkan. Keuntungan dari
barang titipan tersebut kemudian dibagi sesuai kesepakatan atau diberikan dalam
bentuk upah. Kepercayaan masyarakat Arab
terhadap integritas Muhammad sangat tinggi sehingga ia dijuluki sebagai al-Amīn.
Reputasi yang baik ini membuat namanya semakin dikenal dan menjadi brand yang
kuat dalam dunia perdagangan. Banyak orang yang bersedia memberikan modal
dagang kepadanya karena percaya pada kejujurannya.
Perdagangan Berskala Besar
Berbekal
sistem usaha kemitraan dengan bagi hasil atau upah, serta reputasinya sebagai
sosok yang amanah dan jujur dalam berdagang, Muhammad akhirnya dikenal luas di
kalangan para saudagar besar. Pada saat itu, Khadijah adalah seorang pengusaha
ternama sedang membutuhkan sosok yang mampu mengemban dan mengelola usaha
dagangnya menuju negeri Syam. Ia kemudian mengutus seorang perantara untuk
menawarkan kerja sama kepada Muhammad dan Muhammad pun menyetujuinya. Muhammad
juga sempat berdialog dengan Khadijah serta menyepakati kontrak kerja, bahkan
Khadijah berjanji akan memberikan keuntungan yang lebih besar kepada Muhammad.
Ketika
Muhammad berangkat menuju Syam, Khadijah mengutus karyawan kepercayaannya,
Maisarah, untuk membantu Muhammad dalam urusan perdagangan dan mengawasi sifat,
tingkah laku dan metode Muhammad dalam berdagang. Mereka pun pergi bersama kafilah yang besar
menuju Syam. Kemudian sampailah kafilah mereka ke Syam dan mendapati sebuah
perayaan besar yang sedang berlangsung sehingga mereka memanfaatkannya untuk
berdagang. Di sana, Maisarah menyaksikan hal yang menarik dari sosok Muhammad,
mulai dari kecakapan, kejujuran dan kepandaian beliau dalam berdagang serta
menarik minat pembeli.
Sejak
pengalaman itu, Muhammad semakin menekuni profesinya hingga menjadi pedagang yang mahir dan terpercaya.
Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa pada saat Muhammad berusia 17 tahun, ia
pernah menjadi mentor sekaligus leader bagi sejumlah kelompok atau
kafilah dagang besar yang melakukan perdagangan ke luar negeri. Pada usia
tersebut, Muhammad disebut telah berdagang ke 17 negara, seperti Yaman, Syam,
Yordania, Palestina, Irak dan daerah-daerah lainnya.[4] Maka
tidak heran jika setelah berdagang ke Syam, Muhammad kemudian dilamar oleh Khadījah binti Khuwailid karena kekagumannya terhadap akhlak dan kegigihannya. Pada pernikahan itu, Muhammad memberikan mahar dalam jumlah besar, yakni
20 ekor unta dan 12.4 ons emas kepada khadijah sebagai bentuk mahar nikah.
Metode Marketing Muhammad
Dibalik
kesuksesan Muhammad dalam dunia perdagangan, ia tidak hanya memiliki keahlian,
tetapi juga menerapkan teknik out of the box atau cara pemasaran yang
tidak biasa dilakukan oleh orang-orang pada zaman tersebut. Dalam buku
“Marketing Muhammad” dijelaskan bahwa terdapat beberapa metode yang diterapkan
Muhammad dalam membangun bisnisnya. Secara garis besar, metode tersebut mencakup
lima konsep utama; Mind Share, Market Share, Heart Share, Soul
Share, dan Soul Marketing. Kelima metode ini secara tidak langsung
diterapkan oleh Muhammad dalam menjalankan bisnisnya.
1. Mind Share adalah kemampuan untuk menempatkan produk
atau layanan dalam ingatan konsumen. Artinya, konsumen tidak hanya membeli
produk, tetapi juga mengingat penjualnya.[5] Dalam
konteks perdagangan Muhammad, hal ini tampak dari perlakuan jujur dan amanah
yang dilakukan oleh Muhammad saat berdagang sehingga identitasnya dikenal luas
dan selalu diingat oleh pembeli.
2. Market Share atau pangsa pasar merupakan persentase dari
total pendapatan atau penjualan. Dalam praktiknya, Muhammad selalu menekankan
etika berdagang, salah satunya dengan tidak melalukakan perang harga. Ia
mendorong kestabilan harga agar tidak terjadi persaingan tidak sehat sehingga
pasar tetap terjaga.[6]
3. Heart Share adalah kedekatan secara emosional antara
penjual dan pembeli. Metode ini berfokus
mengedepankan kepuasan konsumen secara emosional,dengan cara memberikan
nilai tambahan seperti brand (merek).[7] Muhammad
membangun kedekatan ini melalui branding personalnya sebagai al-Amīn (yang
terpercaya). Dengan reputasi tersebut, konsumen tidak ragu membeli produk dari
Muhammad karena yakin terhadap kejujurannya
4. Soul Share berkaitan dengan salah satu aspek etika
yang sangat diperhatikan oleh konsumen. Kejujuran, keramahan seorang penjual
adalah hal-hal yang sangat berpengaruh terhadap konsumen dan keputusan konsumen.[8] Sikap-sikap
ini telah tercermin dalam diri Muhammad terutama pada saat melayani konsumen
dengan lemah lebut dan sabar.
5. Soul Marketing merupakan bentuk perealisasian dari metode Soul
Share. Fokusnya adalah memberikan pengaruh baik dan nilai sosial yang
baik dalam proses pemasaran.[9] Dalam
praktik perdagangan Muhammad, hal ini terlihat ketika ia mempermudah transaksi
bagi debitur yang mengalami kesulitan membayar. Sikap mempermudah dan
tidak mempersulit menjadi nilai tambah yang membuat kepercayaan masyarakat
semakin kuat.
Kelima metode pemasaran tersebut telah
tercermin dalam praktik perdagangan Muhammad. Reputasinya sebagai sosok yang
amanah, jujur, dan terpercaya menjadi branding kuat yang tidak dimiliki
pedagang lain pada umumnya. Muhammad tidak pernah mengurangi timbangan, selalu
menyebutkan kelebihan dan kekurangan barang yang dijual, serta menjaga
integritas dalam setiap transaksi. Selain itu, ia mahir dalam memilih lokasi berdagang
yang strategis, menguasai karakter pasar, serta memiliki kemampuan komunikasi
yang baik dalam menarik dan melayani konsumen.
[1] Wahbah
al-Zuḥailī, al-Tafsīr al-Munīr, (Damaskus: Dār al-Kutb, 1991), 30:414.
[2]
Al-Qur`an, al-Quraish [106]: 1-2.
[3] Ṣafiyyur-Raḥmān
al-Mubārakfūrī, al-Raḥīq al-Makhtūm, (Beirut: Dār al-Hilāl, 1979), 49-50.
[4] NU
Online, Belajar dari Cara Sukses Nabi Muhammad dalam
Berdagang, dalam “https://lampung.nu.or.id/pernik/belajar-dari-cara-sukses-nabi-muhammad-dalam-berdagang-jJn0A,” (diakses pada 27 Oktober 2025).
[5] Thoriq Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo, Marketing Muhammad: Strategi
Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad (Bandung: PT. Karya Kita,
2008),11.
[6] Ibid., 35.
[7] Ibid., 75-76.
[8] Ibid., 93-94.
[9] Ibid., 107.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar